7595

12 Fakta Tentang Album Kedua Koil – Megaloblast (2001)

Koil, band industrial rock asal Bandung akan merayakan 17 tahun album Megaloblast yang merupakan album kedua mereka dengan konser tunggal bertajuk Megaloblood. Megaloblast sendiri adalah album fenomenal Koil yang dirilis tahun 2001 dan berhasil terjual hingga 20.000 kopi pada saat itu. Koil terdiri dari vokalis J.A Verdijantoro (Otong), gitaris Donnijantoro (Doni), dan drummer Leon Ray Legoh (Leon) serta kini dibantu oleh bassis Adam Fransiskus Xaverius.

Band rock yang terkenal dengan aksi menghancurkan gitar dan berkostum panggung gothic ini terakhir merilis album Blacklight Shines On, 2007 lalu dan mendapatkan respon dan popularitas yang luar biasa. Termasuk banyaknya ajakan kolaborasi dengan berbagai musisi pop besar Indonesia. Namun sebelum semua itu Koil pertama mendapatkan sorotan melalui Megaloblast yang dianggap sebagai album dengan sound yang dashyat pada jamannya. Dulu sering disangka direkam dengan alat mahal yang sophisticated tapi siapa sangka ternyata hanya direkam dengan komputer rumah dan soundcard dan software musik seadanya.

Simak hasil obrolan Pop Hari Ini dengan J.A.V alias Otong tentang 12 fakta seputar album Megaloblast:

Baca juga:  Kaleidoskop Musik Indonesia 2018 versi Pop Hari Ini
foto: dok. Koil

 

1. Latar Belakang Megaloblast

Album pertama mereka Koil – S/T dirilis oleh label Project Q (pernah merilis Slank album 1-3 dan Kidnap Katrina). Namun karena album perdana yang tidak dipromosikan dengan semestinya dan pengalaman rekaman album pertama berbulan-bulan yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan, Koil memutuskan untuk keluar dari label. Project Q sendiri tidak berumur panjang karena krisis moneter di tahun 1998.

2. Direkam Mengandalkan Komputer Rumahan.

Alasannya adalah keterbatasaan dana untuk rekaman konvensional dengan pita (analog) yang saat itu masih sangat mahal. Teknologi komputer saat itu (akhir 90an) mulai mengenal copy-paste dan itu yang membuat Koil tertantang untuk membuat musik di komputer. Otong sebagai penggila internet sangat penasaran dengan metode rekaman komputer hingga sempat diskusi di berbagai forum dan mailing list. Lalu bermodal komputer rumah dengan soundcard bawaan, Soundblaster dan software Cool Edit Pro (kini Adobe Audition) yang dulu masih gratis, mereka merekam Megaloblast menggunakan 1 mic Shure SM 58 serta mengandalkan mic handycam milik Leon. Terutama drum yang direkam dengan mic di drum. Plus 2 handycam dan hanya mengambil suaranya saja.

Leon di era Megaloblast. foto: dok. Koil

3. Penggunaan Sampling

Album Megaloblast sarat dengan bebunyian sampling padahal saat itu teknik tersebut belum populer di Indonesia. Meski album pertama juga memakai sampling tapi tidak memuaskan karena proses mixing dan mastering-nya yang dikerjakan orang lain. Sedangkan Megaloblast karena dikerjakan sendiri dan memiliki waktu tidak terbatas untuk memilah sampling yang akan digunakan hasilnya dianggap jauh lebih memuaskan. Dari suara khotbah pendeta, potongan dialog dari film-film Indonesia murahan jaman dulu serta suara desahan dari film porno hadir di album Megaloblast.

4. Tidak Berhasil Dengan Lagu Jualan, Populer Dengan Lagu Kencang.

Baca juga:  Menjadi Indonesia: Nasionalisme Banal Ketika Tur Luar Negeri

Setelah “Lagu Hujan” yang ngepop di album pertama kurang berhasil, di album Megaloblast Koil memutuskan untuk menulis lagu sesukanya. Sehingga tidak ada lagu serupa “Lagu Hujan”. Namun justru lagu “Mendekati Surga”dan “Dosa Ini Tidak Akan Pernah Berhenti” diterima diputar di MTV Indonesia, radio-radio pada saat itu dan menjadi hits di kalangan pendengar mainstream. Hal sama terjadi lagi di album berikutnya Blacklight Shines On. Lagu “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” membawa Koil manggung di acara musik pagi di televisi, Inbox dan Dashyat serta sempat berkolaborasi dengan Ahmad Dhani.