7009

12 Fakta Tentang Album Kedua Koil – Megaloblast (2001)

Koil, band industrial rock asal Bandung akan merayakan 17 tahun album Megaloblast yang merupakan album kedua mereka dengan konser tunggal bertajuk Megaloblood. Megaloblast sendiri adalah album fenomenal Koil yang dirilis tahun 2001 dan berhasil terjual hingga 20.000 kopi pada saat itu. Koil terdiri dari vokalis J.A Verdijantoro (Otong), gitaris Donnijantoro (Doni), dan drummer Leon Ray Legoh (Leon) serta kini dibantu oleh bassis Adam Fransiskus Xaverius.

Band rock yang terkenal dengan aksi menghancurkan gitar dan berkostum panggung gothic ini terakhir merilis album Blacklight Shines On, 2007 lalu dan mendapatkan respon dan popularitas yang luar biasa. Termasuk banyaknya ajakan kolaborasi dengan berbagai musisi pop besar Indonesia. Namun sebelum semua itu Koil pertama mendapatkan sorotan melalui Megaloblast yang dianggap sebagai album dengan sound yang dashyat pada jamannya. Dulu sering disangka direkam dengan alat mahal yang sophisticated tapi siapa sangka ternyata hanya direkam dengan komputer rumah dan soundcard dan software musik seadanya.

Simak hasil obrolan Pop Hari Ini dengan J.A.V alias Otong tentang 12 fakta seputar album Megaloblast:

foto: dok. Koil

 

1. Latar Belakang Megaloblast

Album pertama mereka Koil – S/T dirilis oleh label Project Q (pernah merilis Slank album 1-3 dan Kidnap Katrina). Namun karena album perdana yang tidak dipromosikan dengan semestinya dan pengalaman rekaman album pertama berbulan-bulan yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan, Koil memutuskan untuk keluar dari label. Project Q sendiri tidak berumur panjang karena krisis moneter di tahun 1998.

2. Direkam Mengandalkan Komputer Rumahan.

Alasannya adalah keterbatasaan dana untuk rekaman konvensional dengan pita (analog) yang saat itu masih sangat mahal. Teknologi komputer saat itu (akhir 90an) mulai mengenal copy-paste dan itu yang membuat Koil tertantang untuk membuat musik di komputer. Otong sebagai penggila internet sangat penasaran dengan metode rekaman komputer hingga sempat diskusi di berbagai forum dan mailing list. Lalu bermodal komputer rumah dengan soundcard bawaan, Soundblaster dan software Cool Edit Pro (kini Adobe Audition) yang dulu masih gratis, mereka merekam Megaloblast menggunakan 1 mic Shure SM 58 serta mengandalkan mic handycam milik Leon. Terutama drum yang direkam dengan mic di drum. Plus 2 handycam dan hanya mengambil suaranya saja.

Leon di era Megaloblast. foto: dok. Koil

3. Penggunaan Sampling

Album Megaloblast sarat dengan bebunyian sampling padahal saat itu teknik tersebut belum populer di Indonesia. Meski album pertama juga memakai sampling tapi tidak memuaskan karena proses mixing dan mastering-nya yang dikerjakan orang lain. Sedangkan Megaloblast karena dikerjakan sendiri dan memiliki waktu tidak terbatas untuk memilah sampling yang akan digunakan hasilnya dianggap jauh lebih memuaskan. Dari suara khotbah pendeta, potongan dialog dari film-film Indonesia murahan jaman dulu serta suara desahan dari film porno hadir di album Megaloblast.

4. Tidak Berhasil Dengan Lagu Jualan, Populer Dengan Lagu Kencang.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Setelah “Lagu Hujan” yang ngepop di album pertama kurang berhasil, di album Megaloblast Koil memutuskan untuk menulis lagu sesukanya. Sehingga tidak ada lagu serupa “Lagu Hujan”. Namun justru lagu “Mendekati Surga”dan “Dosa Ini Tidak Akan Pernah Berhenti” diterima diputar di MTV Indonesia, radio-radio pada saat itu dan menjadi hits di kalangan pendengar mainstream. Hal sama terjadi lagi di album berikutnya Blacklight Shines On. Lagu “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” membawa Koil manggung di acara musik pagi di televisi, Inbox dan Dashyat serta sempat berkolaborasi dengan Ahmad Dhani.

5. Video Musik “Mendekati Surga” Yang High Rotation Di MTV

Dikerjakan oleh teman-teman Seni Rupa ITB saat itu, salah satunya Khemod, Xonad dan Richard (kelak menjadi production house Cerahati). Pada masanya video musik yang ditayangkan di MTV ini terlihat brutal. Sebelumnya MTV didominasi video-video manis berwarna-warni dan cerah. Video ini justru menampilkan Koil dengan kostum lateks/kulit berambut gimbal, berkalung besi dan boots tinggi runcing berhak tebal. Dengan penonton yang kesetanan menanggapi Koil dengan moshing, stage dive dan crowdsurfing. Video yang awalnya cuma diputar tenagah malam ini justru mendapatkan sambutan bagus. Sehingga tayang di primetime dan bahkan permintaannya melewati video Linkin Park pada saat itu.

 

6. Koil di MTV Award 2003

Paska video klip “Mendekati Surga” high rotation di MTV, Koil diundang manggung di acara MTV Indonesian Award 2003. Tampil membawa orang-orang berambut plontos berpakaian hitam-hitam yang berjalan merangkak seperti anjing. Koil sendiri muncul dengan pakaian kulit dan boots tinggi berduri. Sementara Otong muncul sambil membawa pecut dan sesekali memecut para penarinya. Semua gimmick itu membuat Koil mendapatkan sambutan meriah dari para seleb dan foto model yang hadir di acara itu. Sehingga ke depannya setiap panggung Koil di Jakarta selalu dipenuhi oleh para foto model.

 

Baca juga:  Panduan Memilih Gitar Listrik Agar Terlihat Keren

7. Lirik Megaloblast

Lirik Megaloblast jadi cetak biru penulisan lagu Koil ke depan. Di album sebelumnya Otong berusaha menulis lirik yang berarti banyak dari hati nurani. Tapi dirasa tidak sesuai sama sekali. Sedangkan Megaloblast karena direkam di rumah memungkinkan untuk bongkar pasang lirik berkali-kali sampai didapat hasil yang sesuai. Sumber lirik Megaloblast pun diambil dari bacaan yang ada di rumah saat itu yaitu buku panduan misa gereja untuk memandu jamaah. Lalu dirangkai lagi dengan kata-kata sendiri sehingga jadi lirik lagu utuh. Lirik Megaloblast bagi Otong lebih menyenangkan karena tidak berarti apa-apa untuknya, tapi provokatif untuk pendengar.

8. Kostum Spektakuler Megaloblast

Outfit khas Koil era Megaloblast adalah penggunaan kostum serba hitam dari kulit dan lateks, stocking, penuh aksesoris logam, dengan sepatu boots tinggi dengan aksesoris gesper dan duri-duri. Karena saat itu berbarengan dengan munculnya clothing lokal di Bandung. Saat itu teman-teman Koil pemilik clothing di Bandung mulai aktif dan mereka banyak menawarkan Koil untuk membuat kostum khusus. Koil juga jadi banyak berkenalan dengan vendor pakaian dan tukang jahit. Serta juga didukung oleh teman-teman yang saat itu merintis jadi fashion desainer. Koil juga identik dengan merk sepatu boots asal Eropan, New Rock yang tinggi sedengkul, bersol tebal, dengan aksesoris berupa gesper atau duri-duri berbahan logam. Selain turut mempopulerkan merk ini dan pernah menjadi reseller, New Rock kini punya cabang di Indonesia dan populer di kalangan anak motor dan bikers.

Otong dan Doni di era Megaloblast. foto: dok. Koil

Kover/Artwork Megaloblast

Kover album Megaloblast dikerjakan Otong. Konsepnya menghindari artwork musik rock/metal yang selalu identik dengan hitam/gelap dan suram. Ditambah sehari-harinya ia sudah bosan membuat grafis seperti itu. Jadi Otong ingin mendeskripsikan kegelapan lagu-lagu di Megaloblast tapi dengan warna terang. Perempuan di Megaloblast adalah gambar aktris Dennise Richards dari internet yang digambar ulang dan prosesnya sangat rumit. Gambar di-print, digambar ulang pakai cat air, di-scan, di-edit di komputer, di-print lagi, dilukis lagi. Diulangi terus berulang kali sampai dirasa memuaskan. Dari foto awalnya yang seksi dan ceria, hingga menjadi seram dan sesuasi keinginan baru berhenti. Kover album Ini juga terinspirasi dari artwork single Prince yang berjudul “When Doves Cry”.

Prince – “When Doves Cry”.

 

10. Judul Megaloblast

Saat itu istri Otong yang lulusan dokter sedang kerja praktek di salah satu rumah sakit di Bandung. Karena selalu kebagian jam kerja lewat tengah malam, Otong selalu mampir membawakan makanan untuknya. Selama itu hampir 7 bulan bolak balik di sebuah lorong rumah sakit, ia melihat ada poster kedokteran kecil bertuliskan “megaloblastik” yang awalnya tidak terlalu diperhatikan akhirnya malah terekam di dalam memorinya dan setelah dibaca posternya dirasa klop, tanpa persetujuan personil lain Otong langsung memasukan nama itu ke dalam desain sampul album. Sejujurnya menurutnya lagi, tidak ada hubungan apapun dengan materi album. Jadi selama ini dia hanya mengarang-ngarang hubungannya dengan konsep album Megaloblast.

11. Membanting Gitar

Baca juga:  Rumahsakit Album Nol Derajat: Manuver Suhu Tahun 2000

Dari tahun 97, sebelum Megaloblast Koil sudah identik dengan aksi banting gitar. Gitaris Doni yang melakukannya. Awalnya membanting gitar murahan, lalu gitar-gitar Gibson pertama mereka pun tidak luput dari aksi tersebut. Anehnya Flying V merah pertama itu susah hancur, meskipun sudah dibanting berkali-kali tidak seperti gitar lainnya. Sejak itu sampai sekarang justru Otong yang paling sering membanting gitar sebagai aksi panggung. Biasanya setelah rusak gitar itu dirakit lagi, untuk dipakai dan dihancurkan lagi di panggung. Begitu terus sampai tidak biasa dipakai lagi. Aksi banting gitar ini sempat menimbulkan insiden. Salah satu kru Koil yang baru bekerja pernah salah membawa gitar untuk dihancurkan. Yang dihancurkan malah gitar Gibson SG kesayangan yang jadi simpanan seharga puluhan juta.

foto: dok. Koil

12. Arti Megaloblast Buat Koil Sekarang

Album penting ini sempat dirilis ulang dalam bentuk vinil 2016 lalu. Memasuki usia 17 tahun dirayakan dengan konser tanggal 20 April 2018 ini. Alasanya karena menurut Koil teknik dan hasil rekaman album ini sangat bagus. Terutama karena direkam di awal tahun 2000 dengan komputer rumahan sederhana. Meskipun Megaloblast luar biasa sukses dan mengangkat nama Koil, sisi buruknya adalah banyak miskomunikasi di internal band akibat efek popularitasnya. Pernikahan Otong berantakan, tim Koil tercerai berai, ke depannya salah satu personil Koil mengundurkan diri dan berbalik sikap ke Koil entah kenapa. Ditambahkan Otong: “Efek Megaloblast adalah orang-orang di sekitar Koil mengalami rockstar syndrome. Sementara kami rockstar-nya terus kerja keras seperti babu, demi Koil dan juga demi cari uang”

foto: dok. Koil

__

Simak konser Megaloblood, sebuah pesta perayaan 17 Tahun album Megaloblast besok di Spasial, Bandung

 

____