20 Album Terbaik Label Arus Utama 2000-2020

Sep 12, 2021
20 Album Terbaik Label Arus Utama 2000-2020

Daftar ini harusnya tayang di perempat awal 2021 sebagai perayaan memasuk tahun baru di dekade ini. Karena sejak Februari kami telah menggarap daftar ini dengan bantuan dari para tim juri panel yang terdiri dari para penulis dan kurator musik. Tapi karena berbagai hal daftar 20 Album Terbaik Label Arus Utama 2000-2020 ini baru bisa diselesaikan di perempat ketiga 2021 ini.

Sebelumnya di tahun 2008 majalah Rolling Stone Indonesia pernah merilis daftar “150 Album Indonesia Terbaik”, dan Elevation Books pernah menerbitkan buku yang berjudul 50 Album Musik Terbaik Indonesia 1955-2015. Yang memuat album-album terbaik Indonesia dari berbagai kurun waktu dengan berbagai kriteria. Baik album populer, yang berhasil secara penjualan maupun estetika, hingga album-album Indonesia obscure yang tidak hanya orang umum, namun kita sekalipun tidak terlalu ngeh.

Dari situ lalu ide akan daftar ini hadir. Mengapa tidak membuat daftar album terbaik yang ada di depan hidung kita semua. Tidak hanya album indie ataupun album-album obscure Indonesia saja, namun khusus membahas album-album rilisan label arus utama yang wara-wiri selama 20 tahun terakhir. Sebagai pengingat bagaimana kehadiran label ini tentu sangat vital bagi industri musik Indonesia. Selain bahwa label utama juga pernah menjadi satu-satunya tujuan utama para musisi di era 2000an. Meskipun kemudian internet dan MTV merubah segalanya.

Jalur-jalur konvensional distribusi dan promosi via televisi, radio serta gerai-gerai toko kaset/CD yang menjadi kekuatan utama arus utama kemudian tidak berlaku lagi. Terjadi pergeseran metoda distribusi dan promosi yang kini jauh lebih mudah karena internet. Dari Youtube, Digital Streaming Provider seperti Spotify dkk, hingga media sosial menjadi alat utama untuk melakukan distribus dan promosi karya musisinya. Sehingga label arus utama maupun samping, kini bermain di kolam yang sama.

Daftar ini telah melalui diskusi panjang di aplikasi group chat dan diskusi tatap muka virtual via Zoom serta webinar yang dilaksanakan Sabtu 11 September kemarin. Masing masing juri panel telah mengajukan 20 album versinya masing-masing beserta skor penilaiannya sendiri sehingga menghasilkan daftar dengan skor tertinggi dan sebaliknya. Banyak terima kasih kami ucapkan kepada tim juri panel Hasief Ardiasyah, Nuran Wibisono, Fahri Zakaria, Dimas Ario dan Aris Setyawan. Melengkapi penulis dari Pophariini ini sendiri yaitu Pohan, Wahyu Nugroho dan saya sendiri. Ini dia 20 Album Terbaik Label Arus Utama 2000-2020. Selamat membaca!  – Anto Arief


 

20. Tentang Aku, Kau dan Dia – Kangen Band (2007, Warner Music Indonesia)

Sudahlah, akui saja bahwa sebenci apapun kita dengan Kangen Band, tidak dapat dimungkiri Kangen Band dan album debut ini punya peran penting di industri musik Indonesia. Bisa dibilang band asal Lampung ini menjadi pondasi untuk bangunan musik “Pop Melayu” yang riuh hingga beberapa tahun setelahnya. Munculnya Kangen Band dan debut album ini menjadi tiket untuk anak-anak muda yang dengan skill terbatas untuk bermain lagu pop dan menulis lagu cinta.

 

19. Raihlah Kemenangan – GIGI (2004, Sony Music)

Memulai masa berburu berkah bulan Ramadhan lewat barisan lagu-lagu religi. Album ini menjadi penyebab banyak band yang akhirnya merilis lagu atau album di bulan Ramadhan sampai hari ini. Album ini pula yang menyelamatkan nyawa-nyawa anak band yang ‘sepi job’ di bulan Ramadhan.

 

 18. Ost. Ada Apa Dengan Cinta? – Anto Hoed & Melly Goeslaw  (2002, Aquarius Musikindo)

Sebuah perkawinan terbaik antara musik dengan film seutuh-utuhnya. Hampir semua musik yang diproduksi sangat relate sekali dengan setiap inci adegan yang ada. Mengutip prinsip simbiosis mutualisme, baik musik dan film sama-sama bisa mengatrol baik aktor, penulis, maupun musisi yang ada di dalamnya. Melly dan Anto Hoed menjadi ikon baru, seperti halnya Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Dan album ini adalah tiket untuk Anda Perdana, personil Bunga yang kini dikenal sebagai musisi solo. 

 

 17. Selamat Pagi, Dunia! – Glenn Fredly (2004, Sony Music Entertainment Indonesia)

Album ketiga ini mengukuhkan kekuatan Glenn sebagai penulis lagu romantis dengan tema patah hati nomor satu di Indonesia. Dua hits terpenting Glenn bercokol di album ini, “Belum Saatnya (Berpisah)”,  dan yang utama “Januari”. Album ini kemudian dirilis ulang dengan lagu tambahan “Sedih tak Berujung”, “Akhir Cerita Cinta”, “Habis” dan lagu band Glenn sebelumnya, Funk Section yang ia bawakan ulang, “Cukup Sudah (versi baru)”

 

16. Funkadelic Rhythm and Distortion – Funky Kopral  (2000, Universal Music Indonesia)

Bicara funk di blantika Indonesia akan selamanya identik dengan bassis, Bondan Prakoso dan Funky Kopral-nya. Transformasi sosoknya dari penyanyi cilik dengan lagu “Lumba-Lumba” yang menjadi hits, menjadi bassis handal dengan skill tinggi yang menyabet predikat bassis terbaik di beberapa festival musik adalah hal yang cukup langka di musik Indonesia. Album kedua Funky Kopral yang panas dan menggelora turut mempengaruhi muda mudi pelosok Indonesia untuk berkenalan dan bermain musik funk.

 

15. Xtravaganza – Boomerang (2000, Logiss Records)

Sekondan Jamrud dari label Logiss. Bareng Jamrud, Boomerang menjadi band kesayangan Log Zhelebour yang merajai kancah rock awal 2000-an. Album Xtravaganza melahirkan banyak hits yang wara-wiri jadi pemuncak tangga lagu di radio, seperti “Tragedi”, “Gadis Extravaganza”, dua balada “Kembali” dan “Bungaku”, serta tentu saja salah satu lagu rock Indonesia terbaik sepanjang masa: “Pelangi”. Album ini, bareng Ningrat, sepertinya jadi album hard rock dan metal laris terakhir di industri musik mainstream Indonesia.

 

14. Bersama – Ratu (2003, Sony Music Entertainment Indonesia)

Ratu nyaris tidak memiliki pesaing di tahun perilisan album ini. Meskipun kemunculan mereka dikhawatirkan telah mengadopsi konsep duo t.A.T.u. asal Rusia. Satu paket yang menarik dari Maia Estianty. Ia sebagai pemeran utamanya dan menggandeng biduan wanita bersuara unik, Pinkan Mambo. Lagu-lagu bertemakan cinta dan adapula membawakan ulang lagu lama ciptaan Ahmad Dhani.

13. Rasa Baru – Cokelat (2001, Sony Music Indonesia)

Representasi terbaik female-fronted band. Tidak sekadar jadi epigon The Cranberries, tapi meletakkan pemahaman bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Plus “Bendera” yang jadi theme song baru tiap 17-an. Lewat album ini pula, band-band festival akhirnya menemukan “Karma” dan menambahkannya sebagai salah satu sebagai lagu wajib yang perlu dibawakan dalam ajang festival.

 

12. Kembali Berdansa – Shaggydog (2006, Aquarius Musikindo)

Tidak banyak musik SKA dan Reggae yang tebal, baik penulisan dan komposisi, Shaggydog lewat Kembali Berdansa adalah nomor satu. Lewat album ini, Shaggydog memberikan definisi yang berbeda terhadap ekspansi band-band Jogja di awal 2000 lewat racikan kombinasi ska, reggae, swing, dub, dancehall dalam pop yang catchy dan tetap berasa Indonesia, berasa gaya nJawani.

 

11. Titik Cerah– Naif (2002, Bulletin)

Bila ada anggapan bahwa album ketiga adalah kutukan, dan Naif lewat Titik Cerah berhasil melampaui itu. Sebuah album yang berhasil secara produksi rekaman, aransemen sampai visual yang dimainkan. Album dengan banyak progresivitas, melampaui apa yang mereka buat di dua album pertama.  

 

10. Reborn – Indra Lesmana (2000, BMG Music)

Bila nama adalah doa, sosok legenda jazz Indra Lesmana di usia pertengahan 30annya dilahirkan kembali dengan merilis album jazz setelah sebelumnya lebih banyak merilis karya musik pop di era 80an. Tapi selain itu siapa sangka album ke 14 dalam katalognya yang kini berjumlah 40an ini justru memberikan imaji baru untuk musik jazz yang lebih urban dan hip di musik Indonesia. Imaji jazz seolah dilahirkan kembali dengan mencampur berbagai unsur dari musik ambient, jungle, elektronik dan funk sehingga melahirkan album jazz pertama  Indonesia yang you can dance to.

 

9. 1st – MALIQ & D’Essentials (2005, Warner Music Indonesia)

Sering dikategorikan bergenre jazz, walaupun tidak sepenuhnya salah. Karena musik soul/R&B memang membawa elemen tersebut. Dengan bantuan sang paman EQ Puradiredja sebagai produser dan Indra Lesmana, duo yang awalnya Widi dan Angga Puradiredja kemudian merilis album penting yang menjadi cetak biru musik pop urban milenium di Indonesia. Tidak mengherankan bila kemudian banyak album dan musisi soul/R&B yang lahir karena album ini.

 

8. Breakthru’ – Nidji (2006, Musica’s Studio)

Album ini bikin banyak anak muda baru gede mengulik British Pop, dan tentu saja, lewat visual Giring sebagai vokalis yang nyentrik pada saat itu, banyak yang ikut-ikut membebat syal di leher. Sebuah album yang nyaris tidak ada filler, karena hampir semua lagu di album ini menjadi hits yang kerap dinyanyikan Nidji di atas panggung.  

 

7. Lexicon – Isyana Sarasvati (2019, Sony Music Entertainment Indonesia)

Yang telah Isyana lakukan di album ini adalah hal yang sulit dilampaui oleh sosok penyanyi Indonesia. Baik itu penyanyi pria, apalagi perempuan. Dari sebelumnya sosok penyanyi pop R&B, Isyana kemudian memotong jalan secara drastis ke musik progresif metal. Tentu hal ini tidak mengecewakan karena latar belakangnya sebagai musisi klasik dan penyanyi opera. Yang merupakan unsur-unsur yang lazim ditemui dalam musik-musik metal progresif. Dan langkah ini pun didukung oleh label Sony Music Entertainment Indonesia yang merupakan album Isyana terakhir dengan mereka.

 

6. Kuta Rock City – Superman Is Dead (2003, Sony Music Indonesia)

Rasa-rasanya ini album punk rock paling berpengaruh di Indonesia. Ketika album ini keluar, SID jadi musuh bersama para polisi punk. Ancamannya sampai ke ranah fisik, yang benar-benar mengancam nyawa.  Setelah sebelumnya wara-wiri bermusik di kancah indie, akhirnya trio ini teken kontrak dengan Sony. Debut mayor ini bisa dibilang sangat mentah, kualitas rekamannya buruk. Namun, tidak dapat dimungkiri, terlepas dari berbagai tudingan bahwa SID Sell Out, Kuta Rock City berhasil bikin anak-anak muda pada zamannya untuk menjadi “Punk Hari Ini”.

 

5. Bintang di Surga – Peterpan  (2004, Musica’s Studio)

Ini adalah bentuk perwujudan mimpi basah semua anak band: pundi-pundi, popularitas, juga pengaruh di atas panggung hingga di atas ranjang. Ini album berisi materi-materi terbaik Peterpan. Peterpan kembali dengan gemilang lewat album ini. Lagu “Mungkin Nanti”, “Ada Apa Denganmu” juga “Ku Katakan Dengan Indah” rasa-rasanya adalah puncak penulisan lirik Ariel. Bukan sesumbar bila banyak media termasuk majalah sekaliber Rolling Stone Indonesia menempatkan album dan lagu yang ada di dalamnya dalam daftar Album dan Lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. 

 

4. Ningrat – Jamrud (2000, Logiss Records)

Salah satu jebolan Log Zhelebour yang paling moncer di zamannya. Inilah album rock paling menyenangkan dalam arti sebenarnya. Jamrud menunjukkan bahwa kritik sosial juga bisa disampaikan dengan cara menyentil, lucu, dengan bahasa sehari-hari yang akrab dengan semua orang. Hampir semua lagu di album ini sama kuat, dari “Ningrat” yang komikal, “Surti Tejo” yang naratif dan amat dekat dengan kenyataan, “Asal British” yang membuat album ini tetap digemari metalhead era itu, hingga balada “Pelangi di Matamu” yang jadi salah satu lagu politik paling populer pada 2004. Jamrud memberikan sebuah formula baru yang kemudian diadaptasi oleh banyak grup rock sejenis yang muncul sesudahnya: musik rock dengan lirik yang tak garang, cenderung kocak namun menjadi memorable pada 20 tahun kemudian.

 

3. Kisah Klasik Untuk Masa Depan – Sheila on 7 (2000, Sony Music)

Kuintet asal Yogyakarta ini dengan gemilang berhasil melewati tekanan kesuksesan album perdana. Setahun setelah album yang melahirkan hits “Kita” serta “Dan”, Sheila On 7 merilis album solid yang dengan segera menjadi album klasik di masa depan. Lagu “Sephia” jadi amat masyhur hingga menjadikan kata Sephia sebagai sinonim kekasih gelap. Begitu pula hits “Sahabat Sejati”, “Tunggu Aku di Jakarta”, juga “Bila Kau Tak di Sampingku” yang laris menempati banyak posisi puncak tangga lagu (Nuran Wibisono).

Membanting semua keraguan dengan peningkatan artistik dan pencapaian komersial. Menjadikan anak-anak daerah ini melompat lebih tinggi di lintasan sirkuit industri musik nasional (Fakhri Zakaria).

Sesuai dengan judulnya, album ini menjadi klasik yang bisa dinikmati tiap generasi di masa depan (Wahyu Nugroho).

 

2. Sesuatu yang Tertunda – Padi (2001, Sony Music)

Setelah membangun pondasi kuat di album pertama, Padi menyusun, memoles, dan menyempurnakan bangunan musik mereka dengan begitu indah. (Fakhri Zakaria)

Mencetak angka penjualan sebanyak 1,6 juta kopi dan mendapat 10x platinum, Sesuatu Yang Tertunda adalah mahakarya musisi Surabaya terbaik setelah Dewa 19. Album ini juga menjadi bukti bahwa anak-anak Surabaya mampu merajai industri musik nasional. (Wahyu Nugroho)

Untuk mereka yang gemar bernyanyi dan bermain gitar bolong sembari nongkrong bersama teman, pasti pernah sesekali menyanyikan “Semua Tak Sama”, album ini menjadi biang keladinya. (Aris Setyawan)

 

1. Bintang Lima – Dewa (2000, Aquarius Musikindo)

Jika membuat album dengan vokalis baru adalah perjudian, kita semua tahu Ahmad Dhani adalah penjudi yang lihai. Album Bintang Lima tanpa disangka jadi album yang padat kualitas, mungkin jadi salah satu pencapaian terbaik Dewa, sekaligus jadi album paling laris. Dengan segera Once bisa menggeser ingatan orang tentang Ari Lasso sebagai vokalis Dewa. (Nuran Wibisono) 

Album ini juga membuktikan bahwa penggantian formasi yang nyaris jadi simbol bukan hal mustahil buat dilakukan jika kamu adalah Ahmad Dhani. Selanjutnya adalah sejarah baru. (Fakhri Zakaria)

Dirilis di awal milenium, wajah baru dari sekaligus potongan terbaik dari Dewa 19 setelah Terbaik Terbaik. (Wahyu Nugroho)

Pergantian sosok vokalis dan masa depannya kemudian tidak lebih cemerlang adalah hal yang lazim pada sebuah band. Tapi album ini adalah contoh sempurna yang mematahkan hal itu (Anto Arief)


Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
windhan
windhan
8 months ago

Bukannya no 1 itu Peterpan ya ? dengan penjualan album 3 juta copy album bintang disurga

fanggaraksa
fanggaraksa
7 months ago

25 Honorable mentions album (My picks)
1. Naluri Lelaki – Samsons (2005, Universal Music Indonesia): This album felt like a Journey Band-vibe, especially on Bams’s vocal. In the intro of “Kenangan Terindah”, everyone will get easily hypnotized and soothed by the synth-driven keyboard. “Bukan Diriku”, “Akhir Rasa Ini”, “Naluri Lelaki”, “Dengan Nafasmu”,”Kehadiranmu”, and “Di Penghujung Muda” was a signature hits in their catalogue. If it wasn’t for Irfan Aulia Irsal (Samsons’s guitarist), you always need to wonder why this album always hit significantly.
2. Melayang – Ungu (2005, Trinity Optima Production): Before their 3rd album came out, Ungu was almost on the brink of breakup. It took 2 years to finish this album. When it came out, the album were a hit overnight. It became a million copies album. This album shown Oncy’s songwriting hits such as, “Tercipta Untukku” and “Ciuman Pertama”. The melancholy was a trademark signature and Pasha’s singing voice was no exception of the cause. 9 or 10 out of 12 tracks drive this album out of the water. Enda was a hitmaker in this album almost entirely.
3. Seribu Tahun – Jikustik (2000, Warner Music Indonesia): At that time, people at first would almost think this is Katon’s singing voice especially in “Maaf” song. If you were there and ever think it was Katon Bagaskara or KLa Project, I’d think you might being a fool for a tomfoolery. Pongki’s singing voice’s similarity to Katon’s voices almost like a tricky move for the band, even the public. Pongki was not the only vocalist in this band, Icha and Dadi were also contribute their vocals in this album (example: Icha on “Saat Kau Tak Disini (SKTD)”). A years later, repackage came out. “Setia” was turns out to be their phenomenon hits in their repackage album, thanks to Adhit’s piano rendition and strings orchestra driven by Kiwir Wirasto.
4. I Will Fly – Ten2Five (2004, EMI Music Indonesia): An English language oriented album by Indonesian band (Mostly). 7 out of 12 tracks were English. “I Will Fly”, “Rum Raisin Chocolate Ice Cream”, and “I Do” were their signature hits, thanks to Imel’s English-fluent’s singing voice.
5. OST. Heart – Various Artists (2006, Warner Music Indonesia): It’s another Melly Goeslaw and Anto Hoed’s magnum opus since “Ada Apa Dengan Cinta”. Although Melly Goeslaw wasn’t the main artist in the soundtrack, Actors and actress like Irwansyah, Acha Septriasa, and Nirina Zubir were the main singer for the soundtrack. Melancholic poetic of love songs were the main ingredients for the soundtrack and make it look memorable to the listeners. This soundtrack prove that a celebrities outside music scene still able to make music, whether it is good or not.
6. Raisa – Raisa (2011, Universal Music Indonesia) Her 1st album is what I described to as an epitome of early 2010’s pop music in Indonesia (if not better or worse). She is one of the example of almost being a blue-eyed soul figure. If you listen to this without skip one of the tracks, this album says a lot more than what you and I think about the album. Everyone who listen to her 1st album at that time, they probably memorized quickly and pushing people to cover one or two song from her album then upload it to YouTube before it was cool and chaotic platform.
7. Truth, Cry, And Lie – Letto (2005, Musica’s Studio) Their first album with a hidden religious and moral message in soothed way. The album has a lyrical values of almost all topic, especially life and love topic. “Sampai Nanti, Sampai Mati” is one main epitome about meaning of living an up and down life circle. Noe (Cak Nun’s son) was the main songwriter for many tracks, there’s no need to wonder why a love songs has a hidden religious message in soothing way.
8. The Special One – Yovie & Nuno (2007, Sony Music Indonesia): Yovie Widianto is what I described as Indonesian’s David Foster. Their 3rd album was even more solid. At the time, the band had 4 member, keyboardist Yovie Widianto, vocalist Dudi Oris, guitarist M. Diat, and their new vocalist Dikta Wicaksono. The album was an instant success overnight and creating many hits from their album. Dikta’s characteristic vocal and Yovie’s composition and songwriting helps the album into the oblivion of transition from the side project band and later become a supergroup band.
9. Berkarat – Burgerkill (2004, Sony Music Indonesia): Metal music was still obscure from the mainstream at that time. Not until Burgerkill. Signing contract with a label, the band had able to collaborate with Fadly ‘Padi’ into a crossover genre. Thanks to the wide distribution by major label, the band has gains a lot of recognition and publicity, and even they winning an AMI AWARDS in metal production category. The 2nd album is an opening door for Burgerkill to the mainstream and it is also an introduction of metal genre to the nationwide.
10. My First Love – Vierra (2009, Musica’s Studio): This album was undeniably a fever dream of youth. What makes it special is the music and the lyrical theme. Widi’s vocal that sounded Gita Gutawa-lookalike mixed with Raka’s distortion guitar and Kevin’s balladry pop piano that led into a chemistry of power pop band. Even the lyrical theme of teenhood, friendship, youth, love, and sadness helps blending the musicality of the band that led an album to become an absolute unit.
11. Andra and the BackBone – Andra And The Backbone (2006, EMI Music Indonesia)
12. Topeng Sahabat – J-Rocks (2005, Aquarius Musikindo)
13. Say Hi! To HiVi! – HiVi! (2012, Universal Music Indonesia)
14. The Sophomore – Pee Wee Gaskins (2009, Alfa Records)
15. Kejujuran Hati – Kerispatih (2005, Nagaswara)
16. Langkah Baru – Radja (2004, EMI Music Indonesia)
17. Saykoji – Saykoji (2005, EMI Music Indonesia)
18. P.U.S.P.A. – ST12 (2008, Trinity Optima Production)
19. Senyum Semangat – SM*SH (2011, Ancora Music)
20. Cari Jodoh – Wali (2009, Nagaswara)
21. RAN For Your Life – RAN (2008, Universal Music Indonesia)
22. Heaven of Love – ADA Band (2004, EMI Music Indonesia)
23. Perubahan – D’MASIV (2008, Musica’s Studio)
24. Cinta Pertama – Bunga Citra Lestari (2006, Aquarius Musikindo)
25. Rossa – Rossa (2009, Pro-Sound)

Dimas Samudera
Dimas Samudera
4 months ago

Bintang Lima ⭐⭐⭐⭐⭐ Album Terbaik DEWA era Once, setelah album Terbaik-Terbaik era Ari Lasso

Eksplor konten lain Pophariini

Persembahan Eksklusif MALIQ & D’Essentials

Kenapa ini menjadi hal yang spesial? Karena untuk pertama kalinya, “Konservatif” dibawakan kembali oleh MALIQ & D’Essentials dengan warnanya tersendiri.

Lanjutkan Tradisi, Raisa Sukses Gelar It’s Personal Showcase

Di It’s Personal Showcase ini, Raisa turut dibantu oleh Isha Hening dalam urusan visual panggung yang semakin menengaskan kesan megah malam itu.