5 Alasan MALIQ & D’Essentials Enggak Bubar

May 24, 2024

Menyambut perilisan album baru MALIQ & D’Essentials, Can Machines Fall In Love? tanggal 30 Mei 2024, kami menemui mereka di sela-sela waktu latihan hari Selasa (21/05) di studio Mad Haus.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MALIQ & D’Essentials (@maliqmusic)

 

Wawancara dibuka dengan menanyakan berapa kali band melakukan sesi latihan, mengingat jadwal manggung mereka yang relatif intens.

“Kalau ada special event bisa setiap hari, kalau hari-hari gak ada patokan seminggu sekali. Di dalam studio tuh gak harus latihan band, tapi minimal ada seminggu sekali untuk kumpul urusan band,” kata Widi Puradiredja soal latihan MALIQ.

Widi yang merupakan pendiri MALIQ mengatakan, hal yang paling ia syukuri dalam menjalani band selama 22 tahun adalah bagaimana ia dan rekan-rekannya bisa melewati berbagai macam dinamika kehidupan musisi.

“Kehidupan musisi itu bukan cuma hanya masalah bisa ngeband. Tapi 22 tahun bersama itu melewati perubahan manusianya juga. Itu sangat berpengaruh ke teknis. Non-teknisnya itu 50% menjadi PR utama. Karena kalau non-teknisnya baik, output-nya di performance itu yang udah-udah punya impact yang bagus,” tegas Widi.

Adik kandung dari Angga ini juga mengakui pentingnya regenerasi penggemar dalam kariernya. Menurut Widi, jika sebuah band bisa dekat dengan pendengar di usia sekolah, maka biasanya karya akan lebih melekat di pendengar untuk waktu yang panjang.

Tak dapat dipungkiri, popularitas yang diraih MALIQ semakin memuncak terlepas dari kesuksesan lagu “Aduh” dan “Kita Bikin Romantis”. Widi merasa, bandnya harus tetap fokus pada sustainability.

 

“Kami rasa dengan luasnya Indonesia, masih banyak wilayah di Indonesia yang sebenarnya juga belum dekat sama lagu-lagu kami. Dengan kepopuleran ini kami harap, lagu kami bisa nge-reach (audiens) lebih luas, sehingga impact yang diharapkan adalah sustain-nya karena kami mau lama di industri ini,” ucapnya.

Setelah mewawancarai Widi, kami beralih ke 5 personel MALIQ lain untuk menjelaskan alasan mengapa mereka masih belum bubar sejak terbentuk sampai saat ini mau merilis album ke-9.

Simak langsung:

 

Sudah menjadi partner kerja

“Kami bergabung di sini bukan cuma sebagai member band, tapi juga punya satu partnership yang sudah dijalani lebih dari 15 tahun. Kami selalu membuat kondisi yang kondusif untuk tetap gabung. Kalau misalnya ada dinamika-dinamika, kami cari solusinya sama-sama. Jadi kami based on si partnership-nya itu.” – Indah Wisnuwardhana 

 

Lebih dari keluarga

“Gue bisa bilang MALIQ itu lucu, maksudnya gue menilai kami lebih kuat dari hanya sebutan ‘keluarga’. Mungkin yang hubungan darah di sini cuma Widi sama Angga, tapi gue merasa kami keluarga. Walaupun berjalan dengan penuh dinamika, pasti akan selalu bersama, gue selalu merasa kayak gitu. Harusnya akan panjang lah, jadi gak ada alasan untuk bubar.” – Lale

 

MALIQ memberikan energi positif

“MALIQ selalu dan masih ngasih energi yang positif untuk gue terutama, dan mungkin setiap personelnya juga seperti itu. Adanya MALIQ itu selalu ngasih harapan, kebahagiaan, kesenangan, ketenangan, dan tentu pencapaian-pencapaian untuk kami dari energinya MALIQ itu sendiri.” – Angga Puradiredja

 

Karakter personel lain menyengkan

“Karena aku sangat menggemari dan menyenangi karakter dari tiap-tiap personelnya. Dinamis dan sayang aja sama semuanya, muach [tertawa].” – Ilman Ibrahim

 

Memiliki kepercayaan

“Benar kata Indah, gue mengamini. Partnership kami, terus ada satu lagi yang include dalam partnership itu adalah garis komando yang di bawahnya lagi, ada trust. Gue trust Widi untuk ekspansi, Indah untuk megang finansial, Angga untuk menghajar setiap panggung di depan, Lale untuk ngelakuin hal-hal yang kami semua tidak bisa lakukan yaitu kedetilannya, Ilman untuk masalah bikin lagu dan kegantengannya [tertawa].” – Jawa

Di akhir sesi wawancara ini, kami menanyakan apa yang bisa membuat MALIQ & D’Essentials bubar sebagai konklusi. Angga dengan mantap mengatakan, “Gak tau, kan belum bubar.”

Widi dan Jawa pun sepakat, bahwa kematian adalah hal yang paling mungkin membuat mereka bubar.

“Jiwa akan kami perjuangkan sehidup semati, tapi raga, mati ya mati,” tutup Widi.

 

Penulis
Gerald Manuel
Hobi musik, hobi nulis, tapi tetap melankolis.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
riri.mindar
riri.mindar
29 days ago

Selalu To The Point untuk Ulasannya …

Eksplor konten lain Pophariini

Dongker – Ceriwis Necis

Kalian tidak harus sependapat dengan saya, “Bertaruh Pada Api” adalah lagu punk rock yang menyayat hati. Dinyanyikan bersama kebanggaan dan keharuan seekor pecundang urban yang mengais harapan di antara luka kehancuran zaman. Lagu itu …

D’MASIV – 8

Dalam album 8, D’Masiv kembali ke warna yang sudah dikenal sebelumnya dan kali ini dengan pengaruh soft-rock dan pop-balada 80/90an yang jitu