5 Lagu Pop Indonesia Pilihan Bin Idris

730
foto: Yazidio Sesar Razadi

Bin Idris adalah proyek solo Haikal Azizi yang juga adalah vokalis/gitaris band psych-stoner-rock Sigmun dari Bandung. Pria ini sempet dijuluki sebagai anak ajaib oleh majalah Rolling Stone Indonesia karena setelah album perdana album Sigmun, Crimson Eyes menjadi salah satu Album Terbaik 2015 versi majalah tersebut, tahun berikutnya proyek solonya yang berjudul sama dengan namanya, Bin Idris juga masuk sebagai salah satu album terbaik di tahun 2016.

Meninggalkan musik rock ala Black Sabbath dan riff-riff gitar yang berat, lirik bahasa Inggris dan vokal melengking di Sigmun, dalam proyek Bin Idris ia tampil hanya ditemani gitar akustik saja dengan lirik bahasa Indonesia, bernyanyi merdu dengan tema cemerlang bernuansa lokal dan kontemplasi pribadi pada lagu-lagunya.

Selain telah merilis mini album, Land of The Living Dead (2011), Cerebro (2013) dan album penuh Crimson Eyes (2015) dengan Sigmun, Bin Idris tahun ini merilis album penuh keduanya yang berjudul Anjing Tua . Selain sedang menyiapkan materi untuk album penuh kedua Sigmun, pria yang cukup sibuk manggung-manggung di festival acara folk berskala nasional ini menyempatkan diri untuk memilihkan 5 lagu pop Indonesia pilihannya untuk Pop Hari Ini.

 

Pancaran Sinar Petromak – Fatime

Pertama kali dengar lagu ini sebagai theme song dari serial tv dengan judul yang serupa. intronya yang menyeruak tanpa aba-aba langsung melekat di hati hingga hari ini. saya tidak tahu apakah secara komposisi lagu ini bisa dikategorikan sebagai pop tetapi hook yang mereka hadirkan bagi saya catchy tanpa tanding, apalagi permainan nada yang nakal itu disandingkan pula dengan olah lirik yang cerdas dan jenaka. Sulit menahan diri untuk tidak ikut bernyanyi. Saya rasa dalam sejarah musik tidak banyak lagu yang bercerita tentang janda, bulgur dan juragan jengkol.

 

Dewa – Roman Picisan

Seanjing-anjingnya Ahmad Dhani pada hari ini, bagi saya masih termaafkan karena karya-karya yang ia tinggalkan adalah berlian. lagu ini saya pilih dari sekian banyak repertoir mereka karena di ingatan saya lagu inilah pertama kalinya saya mengenal dan memahami betapa kerennya Dewa. Muncul di era MTV Ampuh, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman mencoba me-reka ulang part tepuk tangannya sepulang sekolah. Saya ragu Ahmad Dhani akan bisa sekeren ini lagi.

 

Iwan Fals – Oemar Bakrie

https://www.youtube.com/watch?v=NKt46SX7tk0

Saya rasa tidak ada musisi Indonesia yang kharismanya bisa menandingi Iwan Fals. Saya masih ingat dengan jelas pertama kali saya menonton live beliau di Soundrenaline. Waktu itu massa Oi rusuh dan akhirnya menjebol pintu tiket. Massa Oi yang sudah merangsek masuk kemudian berkumpul di depan stage utama dan ribut menyuruh turun Jamrud yang sedang tampil. Perusuh-perusuh itu seketika berubah menjadi choir yang padu saat Iwan Fals naik panggung. Iwan Fals menaklukkan mereka hanya dengan sebuah gitar dan mikrofon. Belum pernah saya melihat manusia sekeren itu. Lagu ini saya pilih semata-mata karena yang pertama kali terpikirkan di kepala, saya pertama kali mendengarnya di sebuah warnet “Oooh ini toh Umar Bakrie nya Iwan Fals!”

 

Naif – Posesif

Lagu ini memamerkan kepiawaian Naif dalam menghasilkan lagu balada yang sederhana namun efisien, manis namun juga getir. Kocokan gitar yang berulang, progresi bass maju mundur, ketukan drum yang centil dan yang terbaik menurut saya, isian string/terompet/kibor yang berlalu lalang dengan manisnya, tidak ada yang berlebihan dan berusaha terlalu di depan, semuanya pas. Di bagian lirik, David pandai bermain dengan padanan kata yang jikalau eksekusinya meleset bisa jadi malah terdengar picisan, tentu bisa jadi juga mereka memang berusaha menjadi picisan. “Bila ku mati, kau juga mati”, betapa naif. Bagi saya, D7sus4 sampai kapanpun akan dimiliki Naif dengan Posesif.