Adulting for Dummies: Overdosis Code Mixing a la Basboi

Apr 10, 2022
Basboi Adulting for Dummies

Sekitar tahun 2016 – 2018, Rich Brian tampil sebagai fenomena baru di skena rap lokal dan internasional. Rich Brian ujug-ujug melesat jauh sejak video “Dat Stick” ditonton jutaan orang, termasuk rapper-rapper lawas yang ikut membuat reaksi terhadap videonya. Dengan fenomena Rich Brian tersebut, ia kemudian digadang-gadang jadi jalan baru untuk musik Indonesia ke depannya.

Setelah Rich Chigga, ada tren yang saya amati di skena rap pada waktu itu. Semua rapper, dari yang betulan sampai yang prematur, tiba-tiba muncul dan naik ke permukaan. Tren yang paling mudah disorot itu adalah kecenderungan mereka untuk ngerap pakai bahasa Inggris. Dari pelosok kabupaten sampai kota-kota yang paling besar, semuanya muncul dengan gaya yang sama: beat trap newschool, gaya slebor, dan rap berbahasa Inggris. Seolah-olah mau menunjukkan bahwa bukan cuma Rich Brian yang bisa ngerap dan bisa bahasa Inggris. Hal itu juga jadi semacam ajang ‘Take Me Out’ buat 88rising, yang pada tahun-tahun berikutnya melahirkan NIKI dan Warren Hue.

Setelah Rich Chigga, ada tren yang saya amati di skena rap pada waktu itu. Semua rapper, dari yang betulan sampai yang prematur, tiba-tiba muncul dan naik ke permukaan

Album Adulting for Dummies dari Basboi menurut saya punya warna yang berbeda, terutama dalam penggunaan bahasa yang dipakai dalam liriknya. Di album debutnya tersebut, Basboi seperti ingin menyampaikan keresahan seseorang yang menginjak usia dewasa. Entah kenapa Basboi mengambil tema tersebut, sementara rapper lain masih berusaha jadi paling swag dan masih selfie dengan lirik-liriknya. Dugaan saya cuma dua: tema tersebut memang sedang populer dan Basboi berusaha menungganginya, atau ia sendiri memang resah karena menginjak dewasa.

Album dibuka dengan lagu berjudul “Happy Birthday” yang sebenarnya sudah rilis sebagai single di tahun 2020. Lagu ini cocok untuk menjadi pembuka album, yang diharapkan bisa memandu seseorang menjadi dewasa. Coba kita intip penggalan liriknya, “Man it feel like yesterday duduk di depan kue, now responsibility duduk di depan gue,”. Dalam lirik tersebut, lagu ini seolah-olah mengingatkan kita bahwa waktu benar-benar cepat berlalu.

Basboi seperti ingin menyampaikan keresahan seseorang yang menginjak usia dewasa. Sementara rapper lain masih berusaha jadi paling swag dan masih selfie dengan lirik-liriknya

Selanjutnya lagu kedua dan ketiga, saya akan menyebutnya sebagai lagu reflektif. Di lagu “Make Me Doubt” dan “i2i”, dua-duanya menceritakan tentang diri sendiri. Dalam lagu “Make Me Doubt”, Basboi mengejek diri sendiri dengan sebutan “pussy”. Singkatnya, lagu ini adalah fase quarter life crisis di dalam album.

Berbeda dari “Make Me Doubt” yang membuat Basboi memaki dirinya sendiri, di lagu yang bejudul “i2i”, Basboi justru mencintai dirinya sendiri. Seperti anak muda lainnya yang gemar memajang tagar self love di Instagram, Basboi juga memajang tagar tersebut pada lirik-liriknya. Salah satu lariknya, “the one in the mirror I love you,” jadi semacam penegasan pesan tersebut.

Selanjutnya adalah “Make Me Proud”, Basboi menceritakan awal karier rap-nya, yang disumbang beberapa bars lirik oleh Matter Mos di akhir lagu. Lalu di lagu “Grown Up”, Basboi mencoba berdamai dengan kedewasaan dan mengundang A. Nayaka untuk ikut menyumbang beberapa bars. Sejak lagu pertama hingga lagu kelima, Basboi mencoba agar cerita dalam lagu tetap memiliki garis yang linear.

Basboi punya warna baru untuk musik rap dalam hal lirik. Basboi bermanuver dari satu bahasa ke bahasa lain. Mulai dari Bahasa Indonesia, Inggris, Jawa, Spanyol, dan Jepang sudah ia selipkan dalam baris lriknya. Tentu hal tersebut patut dipuji.

Di lagu keenam yang berjudul “FYI”, Basboi seperti lepas dari apa yang hendak ia ceritakan. Meskipun begitu, saya menikmati aksen Sumatra yang coba ia gunakan dalam lagu ini. Basboi tiba-tiba berbicara tentang zodiak di lagu ketujuh yang berjudul “Gem in I”.

Di lagu kedelapan, pendengar disuguhkan lagu cinta yang berjudul “Come Over (I’m in Tresno)”. Basboi menyebut semua hal tentang Jakarta dari MRT, Blok M sampai Kokumi. Kemudian lagu kesembilan yang berjudul “CHING” mengajak pendengar untuk meratapi hidup yang rasanya selalu kekurangan duit.

Di lagu terakhir, lagu favorit saya, Basboi mengajak Kamga di lagu “Bismillah”. Dalam lagu ini pendengar mungkin akan merasa dikuatkan dari masalah yang kerap hadir dalam hidup. Saya pikir ini salah satu lagu inti dari album ini selain “Happy Birthday”.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Basboi punya warna baru untuk musik rap dalam hal lirik. Basboi bermanuver dari satu bahasa ke bahasa lain pada rap-nya. Mulai dari Bahasa Indonesia, Inggris, Jawa, Spanyol, dan Jepang sudah ia selipkan dalam baris lriknya. Tentu hal tersebut patut dipuji.

Di lagu terakhir, lagu favorit saya, Basboi mengajak Kamga di lagu “Bismillah”. Saya pikir ini salah satu lagu inti dari album ini selain “Happy Birthday”

Sepertinya code mixing atau campur kode yang dipakai Basboi ini adalah senjata pamungkasnya. Mencampur kode dalam rap tentu bukan barang baru, tapi Basboi melakukannya dengan lebih ekstrim. Jika rapper lain hanya mengganti bahasa dalam satu atau dua kalimat, Basboi melakukannya hampir di tiap baris dalam liriknya. Namun,apakah Basboi hanya akan mengandalkan teknik seperti itu ke depannya?

Dalam debut EP-nya yang berjudul Fresh Graduate, Basboi pernah menggunakan lirik yang secara keseluruhan menggunakan bahasa Inggris. Lagu yang berbahasa Inggris tersebut di antaranya berjudul “Cozy”, “Dying Breed”, “Fresh Graduate”, dan “Night Drive”. Dan saya pikir, lirik Basboi dalam satu bahasa justru biasa saja. Dalam lirik bahasa Inggris-nya Basboi masih berbicara tentang “homies”, tentang “track”, tentang “phone call”, seperti tidak ada kata atau topik lain yang bisa dipakai.

Campur kode pada lirik-lirik lagu di Adulting For Dummies, di beberapa bagian pun seperti tidak terlalu berpengaruh, dan dalam beberapa lirik justru terlihat dipaksakan. Saya pikir Basboi perlu mempertimbangkan untuk lebih memperkuat liriknya saat menggunakan satu bahasa

Campur kode pada lirik-lirik lagu di Adulting For Dummies, di beberapa bagian pun seperti tidak terlalu berpengaruh, dan dalam beberapa lirik justru terlihat dipaksakan. Misal dalam satu baris tidak memakai bahasa yang dicampur, itu pun tidak mempengaruhi pesan yang dimaksud.

Saya pikir Basboi perlu mempertimbangkan untuk lebih memperkuat liriknya saat menggunakan satu bahasa. Tentu membosankan jika ia hanya memakai teknik yang hanya satu-satunya itu. Dan bisa saja di kemudian hari bakal ada rapper lain yang punya gaya yang sama seperti Basboi.

Meskipun begitu, saya menikmati semua lagu di dalam album ini, terutama pada nomor “Happy Birthday” dan “Bismillah”. Album Adulting for Dummies pun juga patut untuk dirayakan. Untuk musisi zaman sekarang, saya pikir yang paling penting adalah lagu mereka punya vibes yang bagus. Yang penting vibes-nya menjual, itu sudah bagus.

Mungkin begitu. Tapi kalau bisa membuat lagu dengan “vibes” bagus dan lirik yang kuat, kenapa tidak.

 

*Tulisan ini adalah pemenang dari Sayembara Menulis Kritik Musik Pophariini.


Penulis: Kusharditya Albi, mahasiswa Ilmu Perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sempat jadi jurnalis di LPM Rhetor dan pernah terlibat dalam riuhnya skena lokal Magelang bersama Kolektif Kuda. Saya suka menulis essay dan cerpen. Saat ini saya sedang menyusun buku kumpulan cerpen.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

RRREC Fest Siap Kembali di Akhir Pekan Ini

Tidak berhenti hanya di penampilan musik saja, karena RRREC Fest juga menyuguhkan ragam kegiatan lain seperti talkshow hingga penayangan film dan teater.

5 Aksi Berkesan di Soundrenaline 2022

Di gelaran Soundrenaline 2022 lalu, kami mencatat setidaknya lima nama yang aksi panggungnya mencuri perhatian. Siapa sajakah mereka?