316

Agung Hercules, Dangdut Macho yang Meninggalkan Kita

Ilustrasi Rosyad A.

Tanpa membahas lebih lanjut dari mana akar-akar musik tersebut berasal, rasanya tak berlebihan jika Jamaika adalah reggae, Brasil adalah samba, maka musik populer Indonesia adalah dangdut.

Seperti pada warna kulitnya sendiri, nyaris tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal dangdut. Kita semua tahu klise itu, bahwa dangdut dicap sebagai musik kampungan, namun tidak ada yang meragukan kedahsyatan dangdut di seantero Indonesia, untuk berbagai lapisan kelas ekonomi dan demografi.

Semua perlu dangdut. Industri rekaman musik, jelas perlu dangdut. Apalagi panggung, pasti perlu dangdut. Politik Nasional tingkat tinggi sampai kelas Kabupaten perlu dangdut. Karaoke? Boleh pasang dangdut. Arisan pegawai? Perlu dangdut.  Tujuh belasan? Dangdut. Kondangan? Dangdutan.

Radio Prambors—tempat anak muda hip mangkal pada zamannya—kelompok lawaknya, Warkop Prambors bernyanyi dangdut di kaset dan film-film mereka. MTV Indonesia—saluran televisi hip bagi anak muda pada zamannya—punya program MTV Dangdut. Band Top 40 di hotel-hotel bintang lima di kota-kota besar, tetap perlu punya stok lagu dangdut. Dangdut cukup mendekati seperti restoran cepat saji asal Amerika, restoran masakan Italia, sampai restoran steak sekalipun masih perlu menyediakan menu nasi.

Baca juga:  30 Tahun Fariz RM Merilis Living in the Western World

Jadi, bagaimana kondisi dangdut?

Selayaknya genre musik, dangdut tentu tidak diam dalam goyangnya. Dari masa ke masa, segala inovasi terjadi pada dangdut. Almarhum Agung Santoso alias Agung Hercules ada di rombongan ini.

Binaragawan sekaligus penyanyi? Gondrong, berotot, dan berurat lucu. Sulit dicari yang menyamakannya— lebih spesifik dalam konteks dangdut. Maka lahirlah: dangdut macho!

Agung Hercules / dok. istimewa

Tentu kita mendoakan yang terbaik untuk almarhum. Tapi bagaimanapun sulit untuk tidak tersenyum saat mengenang hidupnya—tak terpisahkan antara Agung Hercules dengan segala kejenakaannya.

Walau sebelumnya Agung sudah bermain di sinetron Sarah 008, berperan sebagai Milky Man, pun telah berprestasi di cabang olahraga sebagai salah satu binaragawan terbaik di Malang, namun dangdut macho yang benar-benar meledakkan namanya.

Baca juga:  Siasat Kawan dan Arus Penolakan RUU Permusikan

Barbel bisa membesarkan badan, tapi dangdut yang membesarkan peluang.

Dangdut macho Agung Hercules punya racikannya sendiri. Video musiknya seringkali mengekspoitasi secara “lebay” jantannya sosok Agung, Musiknya bisa saja melibatkan gendang sampai kendang, tapi tetap terdengar sayatan distorsi gitar. Fusi dangdut dan rock. Dan terutama yang “berbahaya” adalah lirik-lirik absurd yang disisipkan pada suasana jatuh cinta. Misalnya pada lagu “Cinta 100%”, begini bunyinya:“Berani dikejar-kejar kucing, berani dibentak sama kuda. Sumpah aku setia. Hanya kau yang kucinta.”

Binaragawan sekaligus penyanyi? Gondrong, berotot, dan berurat lucu. Sulit dicari yang menyamakannya

Atau sastra yang gelap langsung pada lirik-lirik pertama lagu “Pengadilan Cinta”, yang rasanya bisa membuat Morrissey begidik,“Untuk apa kau bersumpah, bila mengotori bibirmu?”

Baca juga:  Para Pahlawan Gitar yang Terabaikan dan Ditinggalkan

Lalu lirik itu dilanjutkan: “Seandainya dunia ini ada pengadilan cinta, hanya engkau yang akan kutuntut atas perbuatanmu pada diriku, atas kemunafikanmu pada cintaku.”

Di single “Astuti” yang melejitkan namanya, Agung bernyanyi dengan ujung lengkingan rocker pada bait “Keringat panas dingin mulai menyerang. Ambisi dalam dada menggebu-gebu”.  Kemudian dilanjutkan dengan “Tak kusia-siakan, langsung saja to the point bahwa aku ingin memiliki kamu”.

Pada lagu “Monalisa”, keseluruhan lirik lagu memang masih dalam koridor wajar, kecuali judul lagu itu sendiri yang ngehek; memilih nama lukisan terkenal. Atau dengan cermat dalam komedi musikalnya, dipilihlah diksi yang selaras dengan personafikasi dan ciri khas Agung Hercules ke dalam judul lagu “Ayo Fitness” dan “Barbel Melayang”.

1
2
Comments
Previous articleMemaknai Masa Bersama Hursa
Next articleFestival Musik Rumah, Merayakan Festival dari Dalam Rumah 
mm
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)