Album Debut Flowers, “17 Th Keatas” Saksi Masa Muda yang Teler

6984
Flowers era 90an dan sampul album 17 Th Keatas / dok. istimewa

Indonesia mengawali almanak 1997 dengan pergolakan besar. Titik-titik perlawanan terhadap Orde Baru terus menyebar luas. Lagu “Bongkar” dan “Darah Juang” terdengar makin nyaring, pula mengancam. Di Gang Potlot, Jakarta Selatan, gejolak serupa juga terjadi dalam skala lebih kecil. Slank, band paling besar dan berpengaruh yang lahir dari rahim gang kecil itu, harus ditinggal tiga personelnya ketika menggarap album keenam mereka.

Namun hasilnya tak bisa dibilang buruk. Lagi Sedih lahir ketika Slank, juga Indonesia, mengalami gonjang-ganjing besar. Album itu, selain menawarkan formula lagu cinta dan aroma kesedihan, juga menghadirkan lagu-lagu bercorak politis. Mulai “Anarki di RI”, “Kalau Aku Jadi Presiden”, juga “Kampus Depok”. Bisa dibilang album ini makin menegaskan Slank sebagai band yang tak segan membicarakan perkara politik di lagu-lagu mereka, sebuah pilihan yang terus mereka jalankan hingga sekarang.

Namun di saat bersamaan terbentuklah Flowers, sebuah entitas baru-tapi-lama di Gang Potlot yang mengambil jalan berbeda.

***

Pada 1992, seorang seniman muda bernama Dimas Djayadiningrat yang sedang kuliah di Universitas Trisakti mengenalkan kawannya, Boris Simanjutak, ke Njet Barmansyah. Keduanya cocok dan nyambung, sama-sama suka Rolling Stones, Lenny Kravitz, juga The Black Crowes. Atas kesamaan musikal itu, Boris dan Njet lantas membentuk band House of the Rising Sun. Mereka kerap manggung di klub bernama Jazz Rock Cafe dengan tema “Imagine 70’s Night”. Dengan pakaian bermotif bunga warna warni dan celana jeans cut bray, mereka perlahan menjulang.

Njet dan musisi-musisi Potlot, paling kanan: Kaka Slank / foto: @elgrigigoto / repost: njet_barmansyah.

Ketika Njet dan Boris sering nongkrong di Potlot, Pay dan Bongky mencetuskan proyek duo bernama sama Mereka sempat bikin demo berisi lima lagu yang direkam di studio Jackson, Jakarta Barat. Waktu itu personelnya adalah Njet (vokal), Pay dan Boris (gitar), Bongky (bass), dan Bakar Bufthaim yang lebih dulu dikenal sebagai drummer band thrash metal, Rotor.

Namun, karena Pay dan Bongky sama-sama sibuk, proyek duo rock ‘n roll ini terbengkalai cukup lama. Hingga akhirnya terjadi gonjang-ganjing di tubuh Slank yang membuat Bongky, Indra Q, dan Pay keluar.

“Waktu itu gue punya duit sisa, gue beliin pita. Terus ngajak Njet dan Boris rekaman,” kata Bongky. “Terus, gue mikir. Kenapa gak sekalian bikin band aja ya?”

Duo Boris dan Njet / Foto: istimewa

Proyek yang awalnya adalah duo, menjelma jadi band betulan. Tiga orang ini peras otak cari nama band. Awalnya mereka ingin pakai Bahasa Indonesia, mungkin agar terdengar lebih membumi.

“Waktu itu sempat kepikir nama Bunga,” kata Njet.

“Karena kami suka segala yang berbau flower generations,” kata Boris.

Flowers Circa 90an: Cole, Njet, Boris, Chiling dan Bonky / Foto: istimewa

Sayangnya, di saat bersamaan, muncul band Bunga yang dibentuk oleh Galang Rambu Anarki, Tony, dan Nial. Akhirnya yang dipilih adalah nama yang dikenal hingga sekarang: Flowers.

Tiga orang dengan bendera Flowers ini kemudian mencari tambahan personel. Andy Sultan Saleh, alias Cole, masuk menggantikan Pay. Sedangkan Andrey Chilling bertakhta di kursi drummer yang dulu diduduki Bakar. Sebenarnya Cole dan Chilling bukan nama baru bagi Flowers. Mereka juga ada di lingkaran semesta Potlot yang sumber daya manusianya tak jauh dari mereka-mereka juga. Dua orang itu memperkuat Potlot Jamming, turut main di band Oppie Andaresta, pun membantu ketika Imanez manggung.