Album Debut Flowers, “17 Th Keatas” Saksi Masa Muda yang Teler

9391
Flowers di majalah / foto: istimewa

“Jadi di rentang waktu keluarnya Bongky dari Slank sampai Flowers terbentuk, ya lingkarannya gitu-gitu aja,” tutur Boris. Karena berasal dari satu lingkaran itu, pengaruh musikal yang mereka serap juga tak banyak berbeda, ada di ranah blues dan rock. “Mungkin yang agak beda ya Chilling, karena dia anak disko.”

Dengan formasi pertama Flowers yang sudah solid, mereka langsung tancap gas merekam delapan lagu di studio Bass, Jakarta Selatan. Tiga lagu di demo pertama masih dipakai di demo kedua, yakni “Buang Badan”, “Boncos”, dan “Gak Ada Matinya”. Dua lagu lainnya, “Cuhay” dan “Sebotol Anggur” tidak dipilih. Meski sudah tak gabung di Flowers, permainan Pay masih bisa didengar di lagu “Buang Badan”, dan gebukan Bakar masih ada di “Buang Badan” dan “Gak Ada Matinya”.

Demo kedua jadi, Bongky membawanya ke Aquarius Musikindo. Saat diputar, Pak Ook alias Johannes Soerjoko sang pendiri Aquarius, sekilas mendengarnya dan cukup kaget. Ya, siapa pula yang tidak kaget mendengar suara gitar sahut-sahutan yang dimainkan seolah tak punya tetangga.

Flowers era 90an / foto: istimewa

“Musik apaan ini?”

“Band baru saya, Pak. Flowers,” balas Bongky.

“Wah, boleh juga nih!”

Pak Ook memang penggemar rock ‘n roll. Band favoritnya adalah The Animals. Pak Ook tak alpa memberikan referensi bagi Flowers, kebanyakan band era 60-an, yang sayangnya tidak terpakai karena rentang usia referensi yang kelewat jauh. Namun tak urung Bongky sempat coba mixing album mereka dengan pendekatan sound 60-an.

“Tapi akhirnya harus mixing ulang. Karena mixing pertama kayak kaset mendem,” kata Bongky terkekeh.

Menariknya, meski Aquarius adalah label mainstream, mereka sama sekali tak menerapkan sensor atau batasan-batasan bagi Flowers. Mereka dibebaskan sepenuhnya mau bikin lagu seperti apa, seliar apa. Ini tentu jauh berbeda dari stigma label mainstream yang dianggap selalu menuruti selera pasar, mengekang, dan karenanya musisi berakhir jadi boneka belaka.

***

Bisa dibilang album perdana Flowers, 17 Th Ke Atas terasa lebih masa bodoh dan ugal-ugalan dibandingkan seluruh jebolan Potlot. Bahkan jika dibandingkan album perdana Slank yang memang bodor sejak dari akar.

Flowers seperti bocah yang benar-benar dibiarkan bebas tanpa ada kekangan. Maka laiknya orang yang hanya ingin bersenang-senang, mereka seolah tak punya “kewajiban moral” untuk, misalkan, menyentil kondisi sosial, atau melayangkan kritik nakal kepada pemerintah. Nihil. Neil. Zero. Ini bahkan terang-terangan mereka tulis di lagu “Boncos”.

Gak sempet kepikir politik / Isi dompet belum juga komplit / Hidup ini memang susah / Temen dikemek temen / Gak perlu ditambah susah / Lebih baik hibur diri berkhayal dan bernyanyi

Setidaknya ada tiga benang merah 17 Th Ke Atas: cinta, bersenang-senang, dan tentu saja tentang obat-obatan dan teler. Di babakan cinta, ada lagu “Bayangan”. Lagu ini adalah sebuah kisah cinta yang menolak tunduk. Ia terasa semakin elegan dengan solo harmonika –sekaligus menghindarkan klise suara harmonika atau solo gitar mendayu pada lagu-lagu sejenis.

Album 17 Th Keatas yang meroket harganya / dok. istimewa

Perihal senang-senang, “Nggak Ada Matinya” membawa semangat nongkrong gerombolan bocah berandalan era 90-an: kumpul di diskotik JJ, main musik, mabuk, tidur sampai siang. Lalu “Belum 17” dan “Buang Badan” membahas perempuan yang saat itu banyak hadir di kehidupan mereka.