Album Debut Flowers, “17 Th Keatas” Saksi Masa Muda yang Teler

9391

Bagaimana dengan perkara teler?

“Emang waktu itu kita cerita soal drugs?” tanya Boris sembari terbahak.

Meski hanya tersirat sekalipun, orang yang tak paham perkara narkotika sekalipun, seharusnya tahu kalau “Tong Sampah” adalah lagu tentang zat psikotropika.

“Aku telan apa saja / Gak pakai pantang, gak ada urusan / Dari bahan alam, atau bahan campuran”

Dan siapapun yang mendengar “(Tolong) Bu Dokter”, pasti bisa membayangkan perasaan teler di bagian tengah lagu. Suara efek gitar mengawang, dan ratapan menghanyutkan “…tolong bu dokter…” seperti menarik semua ke alam halusinogen. Warna-warni.

Boris ingat betul lagu itu ditulis di rumah seorang kawan bernama Aji. Saat itu Njet sedang tiduran karena giting, dan Bongky menulis lirik berdasar notasi yang sudah dibuat Boris sebelumnya.

Drugs-nya kan kiasan semua. Bu Dokter, itu kan sebenarnya BD. Bandar,” kata Bongky buka rahasia.

Kemudian saya membayangkan, betapa dua dekade lalu Indonesia masih sangat santai jika bicara seks maupun obat-obat terlarang dan teler. Film panas tayang di bioskop di seluruh pelosok Indonesia, mengenalkan nama-nama seperti Eva Arnaz, Enny Beatrice, juga Ibra Azhari. Buku bikinan Enny Arrow atau Fredy S. punya pembaca setianya, dan jumlahnya jelas tak sedikit. Dan tentu saja, lagu tentang obat terlarang hadir di sana-sini.

Di zaman itu, perkara seks dan obat-obatan terlarang amat sepele ketimbang mengkritik pemerintah. Sekarang kondisinya sedikit berbeda. Seks sedikit banyak menjelma jadi hal yang penting untuk diurusin, hingga negara merasa perlu ikut campur. Soal obat-obatan terlarang apalagi, bisa kena hukuman mati. Yang mungkin tak banyak berubah adalah soal mengkritik pemerintah. Jika bikin kritik pedas, bisa-bisa pintumu diketuk tengah malam, lalu digelandang ke kantor polisi.

***

Sebagai sebuah album yang berceloteh tentang drugs, akan sangat mudah membayangkan penggarapan album 17 Th Ke Atas dipenuhi kengacoan di sana-sini. Teddy Riadi, operator studio untuk album ini, banyak geleng-geleng kepala melihat tingkah polah personel Flowers.

“Njet kelakuannya gila. Kalau Boris main gitarnya yang gila,” ujarnya bernostalgia.

“Gilanya gimana?” tanya saya via pesan pendek.

“Wah, harus ketemu langsung. Ceritanya panjang,” Teddy tertawa.

Gitaris Boris Simanjutak / foto: Mogot

Sebenarnya tanpa perlu diceritakan detail, saya sudah bisa membayangkan betapa kacaunya penggarapan album ini. Salah satu bukti kekacauan proses rekaman: Flowers tak pakai metronome. Artinya, rekaman dibuat tanpa panduan tempo, alias main aja dulu! Bongky memperkirakan, 80 persen waktu penggarapan album dilalui dengan kondisi teler.

Pembuatannya molor? Tentu saja.

Tapi Bongky yang didapuk sebagai ketua kelas Flowers sekaligus produser album, punya siasat. Dia sadar jika tak ada “barang” di studio, maka para personel Flowers ini akan pergi mencarinya dan tak akan balik lagi. Jadilah Bongky menyiapkan stok putaw di studio.

Vokalis Zaid “Njet” Barmansyah / foto: Mogot

“Udeeeh, ke sokin aja. Stand by,” kata Bongky membujuk para sekondannya. “Dan ya harus diakui, kalau ada barang, kerjaan beres.”

Namun bahan bakar drugs ini juga bikin repot. Bayangkan, mata melek, jari gatal, dan energi melimpah karena putaw. Mereka diberi alat musik, dan disuruh main sebebasnya. Jadilah mereka musisi dengan energi berlebih. Ditambah, pada dasarnya mereka semua senang jamming, jadilah semua lagu digarap dengan format nge-jam. Main gak ada aturan, satu lagu bisa melar sampai sepuluh menit.