Album Debut Flowers, “17 Th Keatas” Saksi Masa Muda yang Teler

9173
Flowers era 90an dan sampul album 17 Th Keatas / dok. istimewa

Indonesia mengawali almanak 1997 dengan pergolakan besar. Titik-titik perlawanan terhadap Orde Baru terus menyebar luas. Lagu “Bongkar” dan “Darah Juang” terdengar makin nyaring, pula mengancam. Di Gang Potlot, Jakarta Selatan, gejolak serupa juga terjadi dalam skala lebih kecil. Slank, band paling besar dan berpengaruh yang lahir dari rahim gang kecil itu, harus ditinggal tiga personelnya ketika menggarap album keenam mereka.

Namun hasilnya tak bisa dibilang buruk. Lagi Sedih lahir ketika Slank, juga Indonesia, mengalami gonjang-ganjing besar. Album itu, selain menawarkan formula lagu cinta dan aroma kesedihan, juga menghadirkan lagu-lagu bercorak politis. Mulai “Anarki di RI”, “Kalau Aku Jadi Presiden”, juga “Kampus Depok”. Bisa dibilang album ini makin menegaskan Slank sebagai band yang tak segan membicarakan perkara politik di lagu-lagu mereka, sebuah pilihan yang terus mereka jalankan hingga sekarang.

Namun di saat bersamaan terbentuklah Flowers, sebuah entitas baru-tapi-lama di Gang Potlot yang mengambil jalan berbeda.

***

Pada 1992, seorang seniman muda bernama Dimas Djayadiningrat yang sedang kuliah di Universitas Trisakti mengenalkan kawannya, Boris Simanjutak, ke Njet Barmansyah. Keduanya cocok dan nyambung, sama-sama suka Rolling Stones, Lenny Kravitz, juga The Black Crowes. Atas kesamaan musikal itu, Boris dan Njet lantas membentuk band House of the Rising Sun. Mereka kerap manggung di klub bernama Jazz Rock Cafe dengan tema “Imagine 70’s Night”. Dengan pakaian bermotif bunga warna warni dan celana jeans cut bray, mereka perlahan menjulang.

Njet dan musisi-musisi Potlot, paling kanan: Kaka Slank / foto: @elgrigigoto / repost: njet_barmansyah.

Ketika Njet dan Boris sering nongkrong di Potlot, Pay dan Bongky mencetuskan proyek duo bernama sama Mereka sempat bikin demo berisi lima lagu yang direkam di studio Jackson, Jakarta Barat. Waktu itu personelnya adalah Njet (vokal), Pay dan Boris (gitar), Bongky (bass), dan Bakar Bufthaim yang lebih dulu dikenal sebagai drummer band thrash metal, Rotor.

Namun, karena Pay dan Bongky sama-sama sibuk, proyek duo rock ‘n roll ini terbengkalai cukup lama. Hingga akhirnya terjadi gonjang-ganjing di tubuh Slank yang membuat Bongky, Indra Q, dan Pay keluar.

“Waktu itu gue punya duit sisa, gue beliin pita. Terus ngajak Njet dan Boris rekaman,” kata Bongky. “Terus, gue mikir. Kenapa gak sekalian bikin band aja ya?”

Duo Boris dan Njet / Foto: istimewa

Proyek yang awalnya adalah duo, menjelma jadi band betulan. Tiga orang ini peras otak cari nama band. Awalnya mereka ingin pakai Bahasa Indonesia, mungkin agar terdengar lebih membumi.

“Waktu itu sempat kepikir nama Bunga,” kata Njet.

“Karena kami suka segala yang berbau flower generations,” kata Boris.

Flowers Circa 90an: Cole, Njet, Boris, Chiling dan Bonky / Foto: istimewa

Sayangnya, di saat bersamaan, muncul band Bunga yang dibentuk oleh Galang Rambu Anarki, Tony, dan Nial. Akhirnya yang dipilih adalah nama yang dikenal hingga sekarang: Flowers.

Tiga orang dengan bendera Flowers ini kemudian mencari tambahan personel. Andy Sultan Saleh, alias Cole, masuk menggantikan Pay. Sedangkan Andrey Chilling bertakhta di kursi drummer yang dulu diduduki Bakar. Sebenarnya Cole dan Chilling bukan nama baru bagi Flowers. Mereka juga ada di lingkaran semesta Potlot yang sumber daya manusianya tak jauh dari mereka-mereka juga. Dua orang itu memperkuat Potlot Jamming, turut main di band Oppie Andaresta, pun membantu ketika Imanez manggung.

Flowers di majalah / foto: istimewa

“Jadi di rentang waktu keluarnya Bongky dari Slank sampai Flowers terbentuk, ya lingkarannya gitu-gitu aja,” tutur Boris. Karena berasal dari satu lingkaran itu, pengaruh musikal yang mereka serap juga tak banyak berbeda, ada di ranah blues dan rock. “Mungkin yang agak beda ya Chilling, karena dia anak disko.”

Dengan formasi pertama Flowers yang sudah solid, mereka langsung tancap gas merekam delapan lagu di studio Bass, Jakarta Selatan. Tiga lagu di demo pertama masih dipakai di demo kedua, yakni “Buang Badan”, “Boncos”, dan “Gak Ada Matinya”. Dua lagu lainnya, “Cuhay” dan “Sebotol Anggur” tidak dipilih. Meski sudah tak gabung di Flowers, permainan Pay masih bisa didengar di lagu “Buang Badan”, dan gebukan Bakar masih ada di “Buang Badan” dan “Gak Ada Matinya”.

Demo kedua jadi, Bongky membawanya ke Aquarius Musikindo. Saat diputar, Pak Ook alias Johannes Soerjoko sang pendiri Aquarius, sekilas mendengarnya dan cukup kaget. Ya, siapa pula yang tidak kaget mendengar suara gitar sahut-sahutan yang dimainkan seolah tak punya tetangga.

Flowers era 90an / foto: istimewa

“Musik apaan ini?”

“Band baru saya, Pak. Flowers,” balas Bongky.

“Wah, boleh juga nih!”

Pak Ook memang penggemar rock ‘n roll. Band favoritnya adalah The Animals. Pak Ook tak alpa memberikan referensi bagi Flowers, kebanyakan band era 60-an, yang sayangnya tidak terpakai karena rentang usia referensi yang kelewat jauh. Namun tak urung Bongky sempat coba mixing album mereka dengan pendekatan sound 60-an.

“Tapi akhirnya harus mixing ulang. Karena mixing pertama kayak kaset mendem,” kata Bongky terkekeh.

Menariknya, meski Aquarius adalah label mainstream, mereka sama sekali tak menerapkan sensor atau batasan-batasan bagi Flowers. Mereka dibebaskan sepenuhnya mau bikin lagu seperti apa, seliar apa. Ini tentu jauh berbeda dari stigma label mainstream yang dianggap selalu menuruti selera pasar, mengekang, dan karenanya musisi berakhir jadi boneka belaka.

***

Bisa dibilang album perdana Flowers, 17 Th Ke Atas terasa lebih masa bodoh dan ugal-ugalan dibandingkan seluruh jebolan Potlot. Bahkan jika dibandingkan album perdana Slank yang memang bodor sejak dari akar.

Flowers seperti bocah yang benar-benar dibiarkan bebas tanpa ada kekangan. Maka laiknya orang yang hanya ingin bersenang-senang, mereka seolah tak punya “kewajiban moral” untuk, misalkan, menyentil kondisi sosial, atau melayangkan kritik nakal kepada pemerintah. Nihil. Neil. Zero. Ini bahkan terang-terangan mereka tulis di lagu “Boncos”.

Gak sempet kepikir politik / Isi dompet belum juga komplit / Hidup ini memang susah / Temen dikemek temen / Gak perlu ditambah susah / Lebih baik hibur diri berkhayal dan bernyanyi

Setidaknya ada tiga benang merah 17 Th Ke Atas: cinta, bersenang-senang, dan tentu saja tentang obat-obatan dan teler. Di babakan cinta, ada lagu “Bayangan”. Lagu ini adalah sebuah kisah cinta yang menolak tunduk. Ia terasa semakin elegan dengan solo harmonika –sekaligus menghindarkan klise suara harmonika atau solo gitar mendayu pada lagu-lagu sejenis.

Album 17 Th Keatas yang meroket harganya / dok. istimewa

Perihal senang-senang, “Nggak Ada Matinya” membawa semangat nongkrong gerombolan bocah berandalan era 90-an: kumpul di diskotik JJ, main musik, mabuk, tidur sampai siang. Lalu “Belum 17” dan “Buang Badan” membahas perempuan yang saat itu banyak hadir di kehidupan mereka.

Bagaimana dengan perkara teler?

“Emang waktu itu kita cerita soal drugs?” tanya Boris sembari terbahak.

Meski hanya tersirat sekalipun, orang yang tak paham perkara narkotika sekalipun, seharusnya tahu kalau “Tong Sampah” adalah lagu tentang zat psikotropika.

“Aku telan apa saja / Gak pakai pantang, gak ada urusan / Dari bahan alam, atau bahan campuran”

Dan siapapun yang mendengar “(Tolong) Bu Dokter”, pasti bisa membayangkan perasaan teler di bagian tengah lagu. Suara efek gitar mengawang, dan ratapan menghanyutkan “…tolong bu dokter…” seperti menarik semua ke alam halusinogen. Warna-warni.

Boris ingat betul lagu itu ditulis di rumah seorang kawan bernama Aji. Saat itu Njet sedang tiduran karena giting, dan Bongky menulis lirik berdasar notasi yang sudah dibuat Boris sebelumnya.

Drugs-nya kan kiasan semua. Bu Dokter, itu kan sebenarnya BD. Bandar,” kata Bongky buka rahasia.

Kemudian saya membayangkan, betapa dua dekade lalu Indonesia masih sangat santai jika bicara seks maupun obat-obat terlarang dan teler. Film panas tayang di bioskop di seluruh pelosok Indonesia, mengenalkan nama-nama seperti Eva Arnaz, Enny Beatrice, juga Ibra Azhari. Buku bikinan Enny Arrow atau Fredy S. punya pembaca setianya, dan jumlahnya jelas tak sedikit. Dan tentu saja, lagu tentang obat terlarang hadir di sana-sini.

Di zaman itu, perkara seks dan obat-obatan terlarang amat sepele ketimbang mengkritik pemerintah. Sekarang kondisinya sedikit berbeda. Seks sedikit banyak menjelma jadi hal yang penting untuk diurusin, hingga negara merasa perlu ikut campur. Soal obat-obatan terlarang apalagi, bisa kena hukuman mati. Yang mungkin tak banyak berubah adalah soal mengkritik pemerintah. Jika bikin kritik pedas, bisa-bisa pintumu diketuk tengah malam, lalu digelandang ke kantor polisi.

***

Sebagai sebuah album yang berceloteh tentang drugs, akan sangat mudah membayangkan penggarapan album 17 Th Ke Atas dipenuhi kengacoan di sana-sini. Teddy Riadi, operator studio untuk album ini, banyak geleng-geleng kepala melihat tingkah polah personel Flowers.

“Njet kelakuannya gila. Kalau Boris main gitarnya yang gila,” ujarnya bernostalgia.

“Gilanya gimana?” tanya saya via pesan pendek.

“Wah, harus ketemu langsung. Ceritanya panjang,” Teddy tertawa.

Gitaris Boris Simanjutak / foto: Mogot

Sebenarnya tanpa perlu diceritakan detail, saya sudah bisa membayangkan betapa kacaunya penggarapan album ini. Salah satu bukti kekacauan proses rekaman: Flowers tak pakai metronome. Artinya, rekaman dibuat tanpa panduan tempo, alias main aja dulu! Bongky memperkirakan, 80 persen waktu penggarapan album dilalui dengan kondisi teler.

Pembuatannya molor? Tentu saja.

Tapi Bongky yang didapuk sebagai ketua kelas Flowers sekaligus produser album, punya siasat. Dia sadar jika tak ada “barang” di studio, maka para personel Flowers ini akan pergi mencarinya dan tak akan balik lagi. Jadilah Bongky menyiapkan stok putaw di studio.

Vokalis Zaid “Njet” Barmansyah / foto: Mogot

“Udeeeh, ke sokin aja. Stand by,” kata Bongky membujuk para sekondannya. “Dan ya harus diakui, kalau ada barang, kerjaan beres.”

Namun bahan bakar drugs ini juga bikin repot. Bayangkan, mata melek, jari gatal, dan energi melimpah karena putaw. Mereka diberi alat musik, dan disuruh main sebebasnya. Jadilah mereka musisi dengan energi berlebih. Ditambah, pada dasarnya mereka semua senang jamming, jadilah semua lagu digarap dengan format nge-jam. Main gak ada aturan, satu lagu bisa melar sampai sepuluh menit.

“Semua lagu isinya lead semua, ngablu terus. Gak ada konsep musiknya kayak gimana,” kata Boris.

“Kadang berhenti di tengah lagu, karena bingung mau ngapain lagi,” tambah Bongky.

Flowers formasi lama / foto: Themanformerlyknownas John ‘Tobing (Facebook)

Namun Bongky berhasil menjalankan perannya sebagai produser dengan baik. Dia bisa menjahit semua kekacauan musikal itu menjadi satu bagian yang utuh dan pas. Meski untuk itu dia harus bekerja lebih keras, menentukan mana bagian yang dibuang, mana yang dipakai.

Lagu “(Tolong) Bu Dokter” jadi lagu yang paling rumit penggarapannya. Terutama di part tengah setelah solo gitar. Menurut Boris, lagu ini cukup bikin pusing karena hitungan tempo yang sedikit nyeleneh. Belum lagi soal mengakali alat untuk membuat efek suara yang diinginkan. Di bagian tengah, suara-suara scratch dibuat Boris dengan menggesekkan sendok ke senar gitar.

17 Th Ke Atas akhirnya dirilis medio 1997. Sebenarnya saat itu Aquarius masih meraba apakah musik seperti Flowers bakalan laku dijual atau tidak. Karenanya, mereka memilih merilis album dengan angka kecil, 25 ribu keping. Hingga sekarang, tak ada yang tahu pasti berapa angka penjualan album ini. Bongky bilang, album itu ludes terjual. Repotnya, tak ada data pasti.

Tak lama setelah album ini dirilis, Flowers sempat tidur panjang. Boris pergi ke Amerika Serikat untuk belajar gitar, Njet bekerja kantoran, Bongky bikin BIP bareng Indra dan Pay. Cole meninggal pada 1999. Chilling sempat bikin band Bunglon, dan meninggal pada 2009.

The Flowers, 2019 / foto: dok. Flowers

Meski hanya dicetak sedikit, atau mungkin justru karena hanya dicetak sedikit, album perdana Flowers ini menjadi album cult, punya banyak penggemar loyal, terutama para pemain gitar. Di lapak penjual kaset bekas, ia dihargai tinggi, bisa sampai Rp100 ribu. Pada 2007, tepat satu dekade setelah album ini dirilis, Rolling Stone Indonesia menempatkan 17 Th Ke Atas ke dalam senarai 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa.

 

_____