6195

Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Saya takut terkena asam kafein sekali lagi, di rumah tadi sudah ngopi, tapi saya pesan juga secangkir (pastinya tanpa gula), untuk menemani meneruskan mengetik naskah ini, bersama album yang terlalu santai bermesiu.

Baiklah, lagu berikutnya, “Dimana”, tetaplah godaan funk dan Rock N’ Roll yang diledak-ledakkan oleh dinamika snare drum. Mereka mengakhirinya dengan bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan. Mungkin tidak sepenuhnya dirancang, tapi itu menjadikan lagu “Kotak Saran” yang menyambungnya terasa panas menampar kekakuan.

Sehabisnya ada lagu “Melankolis”.  Judul yang memang mendeskripsikan isinya. Bila Anda memiliki alat pengukur tensi di rumah, diamkan saja, darah akan mengalir rendah bersama lagu ini. Segala gelap dan depresi dibuatnya berhulu tenang. Beranjaklah kita dengan wajah lebih segar dari sebelumnya, walau lirik-lirik itu berlumpur frustrasi, pakai bantal halusinasi.

Baca juga:  Ahmad Band, 20 Tahun yang Lalu

Simpan saja di dalam hatimu, tak perlu semua diungkapkan. Segala apa pun yang ‘kan kau rasakan sendiri, hanya kau yang rasakan”, dengan cara petuahlah Plastik membuka lagu berikutnya,” Rahasia” yang mencipratkan reggae kepada kejiwaan Rock N’ Roll yang menukik lepas dan personal. “Perjalanan dirimu, untukmu. Jadikanlah rahasia, simpanlah di hati. Tak semua orang bisa mengerti, simpanlah ceritamu”. Dunia manusia memang lain-lain rimba.

Album asam ini ditutup dengan “Vitamin”. Tema gitar dan koornya manis menggoda. Sudah tuntaskah kedukaan yang mampir satu per satu atau mengeroyok?

Kopi pahit saya angkat sekali lagi.

 

____