Album Rekomendasi PHI: Naif – 7 Bidadari

Di ulang tahunnya yang ke 22, Naif akhirnya merilis album baru setelah 6 tahun lamanya tidak merilis karya apapun paska album Planet Cinta yang ‘gelap’ itu. Berjudul 7 Bidadari, album ke 7 Naif hadir dengan nuansa yang sangat Indonesia. Dari judul dan gambar sampul album yang menggambarkan bidadari dari kisah dongeng tradisional Jaka Tarub, tema lagu, hingga sentuhan musik dangdut di beberapa lagu dan tentunya seluruhnya berlirik bahasa Indonesia.

Di album 7 Bidadari ini Naif mengangkat tentang keindahan Indonesia, menghadirkan musik swing, bernyanyi tentang dongeng, bernyanyi sendu tentang perubahan, lalu gembira sambil dangdutan, berkontemplasi dan membicarakan tentang hubungan sesama manusia, lalu bernyanyi tentang patah hati dan ditutup dengan emoh pulang karena lagi keasikan menikmati momen. Semua dihadirkan dalam 10 lagu yang ada di album ini.

Setelah Planet Cinta, senang mengetahui kalau mereka kembali bersenang-senang di album ini. Racun musik Naif masih ada. Isian ritem gitar Jarwo yang rapih ditambah melodi gitar melodius yang pas, bass Emil yang ndut-ndutan, permainan drum Pepeng yang dalam detailnya selalu ogah bermain standar, plus karaker suara David yang tipis, lantang dan tinggi tapi merdu menyanyikan lirik-lirik sederhana Naif yang ringan namun seperti ada makna tersirat di situ. Jangan lupakan vokal latar pecah suara yang menjadi kekuatan dan ciri khas Naif, dan bila itu tidak cukup isian orkestra string section yang aduhai indahnya melengkapi album ke 7 Naif ini.

Yang membedakan album 7 Bidadari ini dengan 6 album Naif sebelumnya adalah absennya ‘kejailan’  secara musikal maupun lirikal. Jika dulu Naif gemar bermain-main dengan berbagai genre seperti musik pop ’70an (“Piknik ’72”), surf rock (“Safari Menuju Laut”), hardrock (“Kuda Besi”), prog-rock (“Lepas Jiwa”), disko (“Ajojing”), soul/gospel (“Stop [Air Mata Buaya])”, keroncong (“Pujaan Hati”) dan musik dangdut/India (“Towal Towel”), di album ini kita tidak akan menemukan itu. Yang ada adalah penyajian estetika dalam kesadaran penuh demi kebutuhan aransemen. Naif memilih menyisipkan liukan seruling dan kendang genit khas musik dangdut yang lebih harmonis dan melodius bukan karena ingin melakukan parodi musik dangdut/India seperti yang telah mereka lakukan di lagu “Towal-Towel”. Namun lebih karena unsur estetis. Hal itu bisa didengar di lagu “SeDjak” dan “Apa Yang Membuat Dirimu Untuk Terus Di Sini”

Kita juga tidak akan menemukan Naif yang nakal, ngocol dan menggelitik di album ini. Tidak ada upaya bernyanyi lirik nihilisme seperti pada “Towal Towel” dan “Curi Curi Pandang” ataupun mengambil sudut pandang unik seperti di lagu “Mesin Waktu” dan “Uang”. Gantinya Naif memilih untuk meneruskan kepiawaian mereka membuat balada seperti “Di Mana Aku Di Sini”, “Benci Untuk Mencinta”, “Jikalau” dan “Karena Kamu Cuma Satu” dengan lirik sederhana yang terkias. Hasilnya adalah lagu-lagu tentang kontemplasi dan hubungan antar manusia di lagu “Berubah”, “Kenali Dirimu”, “Diriku Dirimu” dan “Apa Yang Membuat Dirimu Untuk Terus Di Sini”.

Yang terakhir, materi di album yang sudah dirilis dalam bentuk CD dan piringan hitam ini dominan untuk bergitar-ria alias ‘gitar kopong-friendly’. Lagu-lagunya baik kord dan liriknya tetap terdengar begitu sederhana dan naif ala Naif. Namun seperti seperti yang sudah-sudah, ada keseriusan dan kedalaman dibalik semua itu.

 

www.naifband.com

foto: dok. Naifband.com

 

____

 

LEAVE A REPLY