728

Alm. Naniel: Sosok Misterius di Balik SWAMI dan “Bento”

Ilustrasi @abkadakab

Iwan Fals gelisah, bernyanyi dan bermain gitar di bangku depan. Naniel menimpali, turut menulis lirik-lirik di bangku belakang. Mereka “jamming” dan “workshop” di atas Jeep yang meluncur dari Medan ke Lhokseumawe. Emosi sedang teraduk-aduk. Perjalanan tujuh jam pada Maret 1989, itulah cikal bakal SWAMI.

Naniel saat itu sedang menjadi wartawan surat kabar yang akan meliput, sementara Iwan Fals seharusnya memulai konser 100 kota di Palembang. Pertunjukan turnya dilarang. Iwan kecewa. Berkawan Naniel, yang juga seorang musisi/seniman, tumpahlah lagu-lagu barunya.

Sesampainya di Jakarta, Iwan Fals dan Naniel semakin sering intens bertemu untuk melanjutkan menggarap sketsa-sketsa lagu di Jeep itu. Hingga Iwan Fals mendatangi Sawung Jabo dan mereka membentuk band, mungkin lebih tepat disebut sebagai proyek musik. Jabo merekrut Inisistri (drum) dan Nanoe (bas)—kawan-kawannya di kelompok musik Sirkus Barock untuk memperkuat formasi mereka (pada rekaman juga terdapat Tatas mengisi keyboard dan Jerry mengisi gitar elektrik).

Baca juga:  Catatan Retrospektif Album "Retropolis" Dari Naif

Iwan Fals mengusulkan “Sep Tik Teng” sebagai nama untuk kelompok itu, tapi nama SWAMI dari Sawung Jabo yang akhirnya dipilih. Semua lagu ditulis bersama oleh Fals, Naniel, dan Jabo, kecuali beberapa lagu di mana Fals menulis bersama salah satu di antara Naniel dan Jabo.

Iwan Fals, Naniel dan Sawung Jabo di era SWAMI / foto: dok. istimewa

Singkat cerita, debut album SWAMI dirilis dan langsung meledak! Lagu “Bento” menjadi single yang terdengar di mana-mana.

“Namaku Bento / Rumah real estate / Mobilku banyak / Harta berlimpah / Orang memanggilku / Bos eksekutif / Tokoh papan atas / Atas segalanya /Asik!”  

Pada 1989 saat album debut SWAMI dirilis, Iwan Fals sudah menjadi nama besar, sudah bisa “menuhin stadion”, wajahnya digambar di tembok-tembok, dan anak-anak muda dengan telaten mengoleksi kaset-kasetnya, selain menyanyikannya keras-keras di berbagai tongkrongan dan kesempatan. Tapi mereka belum pernah menemukan Fals seperti dalam SWAMI, seperti daam “Bento”.

Baca juga:  Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Saya salah satu pendengar muda yang terpana dengan keseluruhan album itu. Dan menemukan suara vokalis yang berbeda di sebuah lagu, semacam “sunshine pop” 1960an, yang belum saya dengar pernah dilakukan dalam katalog Fals. Ternyata Naniel menjadi vokalis utamanya. Suaranya tipis, halus. Liriknya luar biasa:

Menangis embun pagi yang tak lagi bersih / Jubahnya yang putih tak berseri, ternoda / Daun-daun mulai segan menerima / Apa daya, tetes embun terus berjatuhan // Mengalir sungai-sungai plastik jantung kota / Menjadi hiasan yang harusnya tak ada / Udara penuh dengan serbuk tembaga / Topeng-topeng pelindung harus dikenakan”

Kesuksesan debut album SWAMI diikuti dengan rilisnya proyek raksasa Kantata Takwa pada 1990, yang memang sudah menjadi wacana sebelum SWAMi terbentuk. Selain Fals dan Jabo, di sana ada Setiawan Djody, Jockie S, dan penyair Rendra. Rilis album Kantata Takwa diikuti dengan pertunjukan akbar di Stadion Senayan< Jakarta serta rangkaian tur—memainkan reportoar Kantata Takwa, SWAMI, dan juga Iwan Fals.

Baca juga:  PHI Kaleidospop 2018: Meramu Mantra Kunto Aji
Formasi live SWAMI. Ki-ka: Toto Tewel, Fals, Jabo, Inisistri (drum), Nanoe, Naniel, Jockie S. / foto: istimewa

Bagai tak terbendung, para “gerombolan” SWAMI kemudian membuat album kedua dan proyek lainnya bernama DALBO. Yang juga menarik adalah bagaimana Jockie S. mengajak Naniel untuk memperkuat Suket, sebuah proyek album yang rilis pada circa1993, di mana semua lagu dikerjakan oleh Jockie dan liriknya banyak ditulis oleh Naniel. Favorit saya adalah nomor “Oksigen Hitam”—seperti Jane’s Addiction dengan musik tradisi lebih tebal.