163

Anomalyst : Belajar dari Filsafat Jawa

Makin produktif: Anomalyst, 2018 / dok. Anomalyst.

Anomalyst sedang berada dalam masa produktifnya. Rasa-rasanya belum lenyap ingatan kita akan Segara, debut album mereka. Satu tahun berlalu, di kuartal keempat tahun ini, band yang kini digawangi Christianto Ario Wibowo (Gitar, Piano, Vokal), Farizky Wijanarko (Drum), Aryorespati Xavier Sastrowardoyo (Vokal Gitar) kembali menyodorkan karya terbarunya, Cipta Rasa Karsa tepat pada hari ini, Jumat (19/10/2018).

Mengapa mereka begitu produktif? Menurut vokalis sekaligus penulis lagu dan lirik Christianto Ario Wibowo, pengerjaan album ini hanya memakan waktu selama tiga bulan mulai dari penulisan lagu hingga produksi rekaman dan paska produksi. Entah ilham atau setan mana yang tengah merasuki mereka. Yang jelas, pada Senin (15/10) kemarin, mereka langsung mengadakan sesi pra dengar album terbaru mereka yang dihadiri lebih dari 150 pendengar.

Baca juga:  Lonernavts dan Bumbu Pop 80an

“Cipta Rasa Karsa”, sebuah ungkapan yang sering didengar orang ini dicomot sebagai judul album Anomalyst. Ungkapan ini diambil dari filsafat hidup Jawa yang dinilai mewakili fase hidup para personil yang sedang mekar dan berbunga-bunga, tergambarkan dari arahan artistik yang lebih terang dan berwarna (coba lihat cover albumnya yang cantik karya Maryam Nisa Taqiya.