“Apa Kabar Produser Perempuan di Abad Ke-21?” Oleh Noni

Feb 1, 2022
noni

Begitu bunyi cuitan yang pernah ku post di Twitter di akhir bulan Maret 2021 lalu. Agak mengagetkan karena, ya dilihat dari engagementnya, banyak orang yang nampaknya sepemikiran denganku. Aku memulai tulisan ini bukan untuk menggurui, apalagi pamer. Tapi lebih ke mencurahkan sedikit kegelisahan yang aku rasakan selama ini tentang minimnya produser perempuan.

Sebelumnya, maaf kalau baru mulai saja topiknya sudah melenceng tapi tolong percaya saja, apa yang mau aku jabarkan ini sebenarnya ada hubungannya, haha. Kalau kalian sering seliweran di media sosial, terutama Twitter, pasti kalian sering menemui diskursus tentang representasi yang seharusnya lebih akurat di film-film. Misalnya, ketika sebuah film ingin menampilkan tentang budaya dari Meksiko, maka yang memainkan peran harus seseorang yang merupakan warga asli atau setidaknya memiliki keturunan dan masih mengimplementasikan budaya Meksiko dalam kehidupannya.

Dulu, aku tidak begitu menghiraukan frasa “representation matters” (trans: representasi itu penting), bukan karena aku tidak peduli, tapi karena saat itu aku merasa tidak begitu membutuhkannya maka aku tidak terlalu menghiraukan soal itu. Tapi setelah menyadari bahwa akhir-akhir ini imposter syndrome-ku semakin memarah, aku rasa itulah sebenarnya yang selama ini aku butuhkan; representasi dari identitasku saat ini.

Sedikit saja ku jabarkan tentang diriku sendiri; Sejak kecil, aku sudah familiar dengan dapur rekaman yang kemudian memiliki andil yang cukup besar dalam proses adaptasiku dengan hal-hal paling dasar mengenai DAW (digital audio workstationred) seperti proses rekaman dan mixing. Namun, aku baru mulai belajar cara produksi musik yang lebih tepat dan mencoba menguasainya ketika menginjak umur 17 tahun setelah diperkenalkan dengan FL Studio oleh teman baikku, gitaris dari band Toscasoda, kak Zehan.

Hingga kini pun, aku masih berkutat dengan DAW. Harus ku akui, kemampuanku dalam memproduksi musik menggunakan DAW sekarang sudah jauh lebih baik daripada kemampuanku lima tahun yang lalu, bahkan sudah menumpuk banyak sekali demo dan sempat merilis beberapa lagu yang kuproduksi sendiri. Memang, aku memulai segalanya dari menyanyi. Aku lebih pandai menyanyi daripada memainkan alat musik. Aku juga lebih familiar ketika disebut sebagai seorang penyanyi. Tapi, pun ketika aku merasa sudah mampu memproduksi laguku sendiri, mengapa aku masih merasa kurang pantas untuk memanggil diriku sendiri sebagai seorang produser musik?

Jika kamu mencari di Google kata kunci “female music producers”, tentu hasil yang muncul pasti mereka yang berasal dari Amerika Serikat. Tapi pernah enggak kamu kepikiran; kalau di Indonesia sendiri bagaimana? Respon dari tweetku saat itu banyak yang menyebutkan nama seperti Maia Estianty, Melly Goeslaw bahkan DewiQ. Tentu, aku sangat familiar dengan nama-nama itu. Namun ketika aku berbicara soal representasi, aku tidak hanya berbicara soal produser musik perempuan secara general tetapi juga soal bagaimana mereka, sebagai produser musik perempuan, merepresentasikan karya yang dibuatnya. Aku berbicara soal bagaimana SUMIN dan MISO, dua produser musik perempuan panutanku dari Korea Selatan, selalu meruntuhkan segala batas dan mampu menciptakan warna baru dalam setiap karya musik yang dibuatnya.

Aku berbicara soal WondaGurl sebagai produser musik di balik banyak track dari musisi-musisi hiphop R&B ternama, sosok penting di balik salah satu nomor Drake yang paling banyak disukai dari album barunya (Certified Lover Boy Track 06. “Fair Tradeft. Travis Scott). Representasi yang aku maksud bukan hanya tentang bagaimana mereka adalah perempuan dan mereka memproduksi musik, tapi juga tentang apa yang mereka ciptakan. Sebagai musisi dengan genre R&B sebagai fokusku, tentu aku sangat haus akan hal itu.

“Jika kamu mencari di Google kata kunci “female music producers”, tentu hasil yang muncul pasti mereka yang berasal dari Amerika Serikat.”

Terlepas dari persoalan itu pun, jumlah produser musik perempuan di Indonesia secara general masih sangat minim. Namun di waktu yang sama aku juga bisa mengerti kenapa ada banyak perempuan yang tidak familiar dengan proses produksi musik. Aku menggambarkan proses produksi musik itu sama seperti proses memperbaiki mesin mobil yang rusak. Ketika masuk ke ruang studio atau sekedar membuka DAW, itu rasanya sama seperti membuka kap mobil; Ini apa sih? Gimana sih cara mengoperasikannya? Kamu bingung mau mulai dari mana dan merasa hanya bisa melihat saja karena takut kalau kamu sentuh atau bahkan coba operasikan, yang ada malah membawa malapetaka. Lalu karena kamu merasa kurang atau bahkan tidak mampu, kamu memilih untuk mengopernya ke orang yang lebih mengerti dan mayoritas dari mereka adalah laki-laki.

Ya, aku paham. Karena aku juga masih merasa seperti itu. Itulah mengapa aku hanya bisa produksi, urusan engineering dan semacamnya aku serahkan ke teman-temanku yang lebih mahir haha. Hal lain yang mungkin menjadi kendala bagi perempuan untuk memproduksi lagu adalah kesulitan dalam mengaransemen, aspek apa yang mau dan tidak mau ada dalam karya musik yang dibuatnya. Selama ini, jika kita memposisikan diri sebagai penikmat musik, hal pertama yang menjadi pertimbangan suka atau tidaknya kita terhadap suatu karya musik adalah sesuai atau tidaknya karya tersebut dengan selera dan preferensi kita. Kita hanya melihat gambar besarnya. Setelah belajar mendalam tentang produksi musik, gambar besar sudah tidak lagi begitu berarti bagiku.

“Jumlah produser musik perempuan di Indonesia secara general masih sangat minim.”

Ketika disuguhkan sebuah karya musik, aku malah lebih fokus ke detil-detil yang ada di dalamnya. Misalnya seperti bagaimana aku sangat menyukai bassline dalam lagu “Leave The Door Open” karya Silk Sonic, secara spesifik di menit 2:23 ketika nada lagunya mulai naik dan Bruno Mars hanya sedang bersenandung “La la laa~ La la la la~”. Atau pads yang digunakan dalam lagu NCT 127 yang berjudul “Focus” yang membuatku ingin meneror produser dari lagu tersebut hanya untuk mencuri presetnya (siapa sih produsernya? NCTZen kasih tau dong!!).

Kita tidak terbiasa dengan memfokuskan diri kita ke hal-hal detil seperti yang sudah ku jabarkan tadi karena minimnya representasi produser musik perempuan yang kita kenal maka itu membuat kita jadi kita hanya fokus di bagian gambar besarnya saja; Lagunya enak atau tidak, suaranya bagus atau tidak. Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi menurutku penting bagi seorang musisi untuk setidaknya familiar dengan detil-detil seperti itu karena pengaruhnya tidak hanya terhadap karya kita, tetapi juga terhadap komunikasi kita dengan kolaborator atau orang-orang yang membantu kita dalam proses pembuatan suatu karya musik.

Tentu dalam proses pembuatan suatu karya, kita memiliki banyak referensi baik itu instrumen maupun teknik mixing yang diinginkan. Bagiku pribadi, pengetahuan akan hal-hal kecil itu sangat memudahkan komunikasiku dengan teman-temanku yang senantiasa membantuku dalam proses produksi laguku, terutama ketika berbicara soal referensi. Bahkan hal-hal kecil itu pun sudah tidak menjadi hal kecil lagi dan terkadang malah menjadi sangat penting karena perannya bisa menentukan suka atau tidaknya aku terhadap karya yang ku buat.

Di beberapa wawancara, aku selalu berbicara tentang bagaimana seorang seniman harus tahu apa yang mereka mau. Seumur hidupku bermusik, aku tidak pernah membiarkan orang lain terlalu menggiring arah kreatifku. Bahkan dulu ketika masih aktif meng-cover lagu di Soundcloud, aku selalu hanya akan meng-cover lagu-lagu yang aku suka. Terkadang penting menjadi egois terhadap karya sendiri. Tapi ya begitulah stigma bagi musisi perempuan, mereka selalu diharapkan untuk menunggu sampai ada siapapun itu yang bisa “mengangkat” mereka ke posisi yang lebih tinggi (setinggi apa itu urusan mereka untuk mengukurnya).

Ketika aku membuat cuitan yang kusematkan di awal tulisan ini, bahwa industri musik Indonesia butuh banyak produser perempuan, targetku bukan untuk yang sudah ada, tetapi lebih untuk yang akan dan atau ingin menjadi. Tulisan ini aku buat, selain untuk meredakan kegelisahanku, tetapi juga untuk mengingatkan bahwa kalian selalu punya pilihan untuk memulai sendiri.

_____

*) Amaranggani atau yang akrab disapa Noni adalah solois R&B dari Jakarta yang siap untuk mengambil tempat di industri musik lokal saat ini. Sempat menjadi tiga terbaik dalam ajang Irama Kotak Suara-nya Pophariini, ia memiliki EP perdananya, BOYISH yang rilis di bulan November tahun 2020.

Penulis
editorial
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Jadi Vokalis DeadSquad, Vicky Mono: Jalani Saja Dulu

DeadSquad mengaku Vicky sosok vokalis yang mereka cari. Selain berkualitas, ia dianggap memiliki kemampuan untuk menguasai panggung sebagai stage performer.

Dzee Rilis Video Musik “Epik”, Simak Langsung di PHI Eksklusif

Di PHI Eksklusif kali ini, saksikan lebih dulu video musik “Epik”, salah satu single dari album debut Dzee sebelum tayang di berbagai platform.