Belajar dari Masa Lalu: Kisah Label Independen FFWD, Aksara Records dan Demajors

Oct 25, 2017

Ada yang menarik dari perhelatan Konfrensi Musik Pertama Di Indonesia, Archipelago Festival 2017 yang digelar di Soehanna Hall, SCBD pada 14-15 Oktober kemarin. Dari banyaknya diskusi panel yang menarik pada 2 hari gelaran festival ini, topik yang menarik untuk diangkat di sini adalah Peers & Pioneers. Kontennya kurang lebih menguak sejarah dari label-label independen yang secara langsung telah membentuk scene independen di Indonesia dengan band dan rekaman-rekaman yang mereka rilis.

Pembicaranya tidak asing lagi, mereka adalah orang yang kurang lebih bertanggung jawab terhadap perkembangan scene musik hari ini. Ada Helvi pendiri FFWD records, David pendiri Demajors dan Hanin pendiri Aksara records. Selama satu jam lebih diskusi, penonton diajak mengikuti ‘kisah sukses’ dari perjalanan label ini, bagaimana label ini masih tetap eksis hingga saat ini.

Helvi misalnya, bagaimana situasi jaman dulu yang serba terbatas tak membuat semangat Helvi untuk mendirikan FFWD Records pada tahun 1999 dan merilis album Mocca pada awal 2002. “Waktu pertama kali merilis Mocca, saya sampai ngutang ke CV Tropic (tempat penggandaan kaset – red) di Bandung. Saya bilang nanti bayar sisanya pakai keuntungan dari kaset ini, ” ungkap Helvi. Namun siapa sangka, kaset album pertama Mocca pun meledak dan sekarang sudah mencapai angka ratusan ribu kopi. Sebuah angka yang cukup fantastis bagi band indie pada saat itu.

 

Kesuksesan Mocca pun dibarengi oleh beberapa rilisan FFWD berikutnya, Homogenic, The SIGIT, Polyester Embassy, Rock and Roll Mafia, Teenage Death Star, sampai roster terbaru mereka, yaitu Heals dan Lizzie. Bandung memang jadi fokus band-band yang dirilis oleh mantan manajer band hardcore/punk asal Bandung, Puppen ini. Mengapa Bandung? Karena semata-mata bahwa ia melihat momen banyak band bagus dan potensial di Bandung, disertai acara-acara sejenis yang jadi sirkuit bagi band ini. 

Meskipun ada pasang surut dari 18 tahun perjalanan label ini, namun bukan perkara mudah untuk menjaga keberlangsungan sebuah perusahaan selama itu. Apalagi ditengah gempuran industri musik tanah air yang juga pasang surut. “Intinya sih kembali kepada tujuan awal kita pengen bikin FFWD, yaitu ingin merilis band yang kita mau dan kita suka dan kita senang aja melakukannya,” ungkap Helvi yang mengaku tidak pernah memiliki ekspetasi besar terhadap label ini.

Alasan yang sama kurang lebih juga dipegang oleh Hanin Sidharta, pendiri Aksara Records. Awalnya, Hanin adalah seorang music freak yang tiada hari tanpa mendengarkan dan membeli banyak CD musik. Hingga suatu hari ia dan David Tarigan (yang saat itu menjadi A&R dari Aksara Records) menangkap momen-momen luar biasa yang terjadi saban malam di BB’s Cafe Menteng, Jakarta Pusat. Betapa Hanin terkesima dengan band-band seperti Seringai, White Shoes and The Couples Company, The Upstairs, The Brandals, The Adams dan lain sebagainya hingga timbul keinginannya untuk mengabadikan momen the so-called ‘keriaan anak muda’ waktu itu dalam sebuah produk rekaman.

Perjalanan bergulir, ia mendirikan studio Pendulum. Studio ini awalnya hanya tempat produksi untuk artis-artis dari major label, akhirnya ‘bergeser’ untuk merekam lagu-lagu dari band-band BB’s tadi. Dari sini lahirlah sebuah kompilasi yang kemudian menjadi semacam ‘tonggak sejarah scene independen Indonesia pada awal 2000an bernama JKT: SKRG dirilis oleh Aksara Records, label yang ia bentuk untuk kompilasi ini.

Dari kompilasi JKT:SKRG, Aksara kemudian merilis band-band yang ada dalam album tersebut juga beberapa ‘band BB’s scene’ lainnya, dari SORE, White Shoes and The Couples Company, The Adams, The Brandals. Bahkan setelah scene BB’s tutup dan berganti dengan keriaan lain seperti Parc, Aksara tetap merekamnya dengan merilis band-band lainnya seperti Goodnight Electric, Stereomantic sampai band baru yang tengah naik daun pada saat itu, Efek Rumah Kaca. It’s all about documenting the moments,” ungkap Hanin.

Mendokumentasikan momen atau scene ini juga diaplikasikannya dalam bentuk soundtrack film seperti Janji Joni (2005), sebuah soundtrack film yang isinya kurang lebih bagaikan JKT: SKRG vol.2 dengan banyak band baru yang bagus bertebaran di sana.

Meskipun sekarang Aksara Records udah tutup, namun semangat ‘mendokumentasikan momen’ itu secara tidak langsung diestafetkan oleh Demajors. Berawal dari toko piringan hitam, David Karto, sang empunya toko akhirnya mendirikan demajors di tahun 2001 dan memokuskan dirinya sebagai distributor rekaman-rekaman musik jazz dan band-band di jalur independen.

Tanpa henti mereka merilis serta mendistribusikan rekaman-rekaman band indonesia yang keren ke beberapa ‘kantung Demajors’ di beberapa kota di Indonesia. Seiring berjalannya proses, Demajors pun berbenah, mereka memiliki radio dan website untuk menunjang kepentingan promosi katalog mereka.

Senada dengan Helvi dan Hanin yang membuat label untuk mendokumentasikan momen. David pun melihat momen hari ini dimana band-band yang dipupuk oleh mereka berdua dari dulu kini tumbuh subur dan telah menemukan pasarnya, bahkan boleh dibilang mendominasi hampir seluruh acara musik yang ada di kota-kota besar. Ia contohkan seperti penyanyi Tulus, yang berangkat bukan dari label mainstream, namun menemukan ‘jodohnya’ ketika bergabung dengan Demajors dan menjadi ‘ledakan baru’ di kancah industri musik Indonesia.

foto: dok. Instagram Tulus

Dan demi mendokumentasikan momen inilah yang kemudian secara tidak langsung menjadi latar belakang David membuat sebuah festival yang hampir sebagian besar pengisinya adalah band-band independen yang bernama Synchronize Festival.

Kecintaan dan konsistensi adalah dua kata yang perlu kita petik sebagai pelajaran dari apa yang diperbuat label-label ini di masa lalu. Cinta akan musik harus jadi dasar dari apa yang akan dilakukan untuk membuat label rekaman, band atau apapun itu. Dan jika sudah terbentuk, maka konsistensi adalah kunci selanjutnya untuk mempertahankan apa yang kita cintai sejak awal.

Terima kasih atas pelajarannya, FFWD, Aksara dan Demajors.

Foto: dok. Instagram Demajors

____

Penulis
David Silvianus
Mahasiswa tehnik nuklir; fans berat Big Star, Sayur Oyong dan Liem Swie King. Bercita-cita menulis buku tentang budi daya suplir

Eksplor konten lain Pophariini

Dead Bachelors ‘Reuni’ di Single Terbarunya

Yang satu ini, bisa dibilang sebagai sebuah kejutan yang menyenangkan bagi duo Narendra Pawaka dan Mario Pratama yang tergabung dalam unit Dead Bachelors.

Saling Menguatkan bersama Nino Kayam

Mengenai “Nikmati Rindunya”, Nino mendedikasikan single terbarunya ini untuk sang ayah yang berpulang di bulan Oktober 2020 lalu.