Benyamin S: Seniman Kelas Satu!

1895

Benyamin S menulis dan menyanyikan ratusan lagu, terlibat dalam sekitar seratus album rekaman, dan berjingkrak di berbagai panggung pertunjukkan. Segala kuantitas itu diikuti dengan kualitas yang sangat sulit tertandingi. Ide-idenya, lirik-liriknya, ragam gaya bernyanyinya, lintas genrenya, suaranya. Musisi Betawi, musisi Indonesia, musisi dunia!

Suatu hari saya menonton Benyamin S bernyanyi di TVRI, awal 1990an. Sesuatu yang langka. Biasanya saya jauh lebih familier menjumpai film-film Benyamin melalui rental video ketimbang menyaksikan Bang Ben melakukan promosi untuk albumnya di layar kaca.

Proyek band Benyamin tersebut ternyata dibuat bersama “anak-anak (dalam konteks sekarang: oom-oom) Pegangsaan”; ada Keenan, Oding Nasution, dan Harry Sabar di sana. Seingat saya, Benyamin mengenakan jaket jeans dengan bordiran bertuliskan “Biang Kerok” di punggungnya. Musiknya: rock! Meskipun Benyamin selalu tampil bernyanyi di film-filmnya yang saya tonton, mungkin baru pada hari itu saya menyadari bahwa Bang Ben jugalah seorang penyanyi rekaman.

Sambil membuat tulisan ini, saya mendengarkan lagu-lagunya. Tepat di lagu “Oom Senang”, saya geleng-geleng lagi.  Ini rilisan 1969, dan bahkan terdengar terlalu maju untuk 100 tahun dari sekarang!

Oke, sampai di mana tadi? Ah, ya, entah dari mana sedikit demi sedikit karya-karya musik Benyamin semakin saya akrabi. Sudah pasti lagu-lagu seperti “Begini Begitu”, “Superman” dan “ I’m a Teacher” yang paling membuat kami, anak-anak muda pendengar musik-musik “keluar jalur”, mencurahkan kekaguman sepenuh perasaan. Tapi juga tak mampu menolak syahdu pada “Hujan Gerimis” yang diduetinya bersama Ida Royani, misalnya.

Saya pun kembali “didekati” oleh karya-karya musik Benyamin S karena diajak terlibat sebagai periset musik untuk sebuah proyek buku biografi Benyamin. Pada saat itulah tabir-tabir terbuka dan permata-permata satu per satu saya dengarkan sambil hati ini berdecak. Keunikan tema lirik dan pemilihan diksi Benyamin tentu saja yang jadi bunganya, selain genre musik yang bukan hanya membentangkan jarak yang lebar, tapi juga mencampurnya dengan sangat keren. Lagu “Sepakbola” salah satu yang paling menempel buat saya, di mana Benyamin S menyanyikan laporan pandangan mata pertandingan sepak bolapaguyuban pelawak Indonesia versus tim Brazil (Jojon menendang bola, disundul Darto, dan bola tak kunjung turun. Sup Yusup ditimang-timang. Tali kolor Diran putus, untung bolanya Diran tidak sempat dilihat wasit).

Hey, sekarang sedang berputar lagu “Ngomel” di earphone saya. Lagi-lagi zamrud kelas atas dari Benyamin. Bagian lirik “Ampun gak lo? Ampun gak lo?” dan bassline lagu ini sangar bukan kepalang! Lalu lagu “Aiga”… oh, apakah ini funk atau telaga sirup Marjan? Dan ketika sampai di bagian refrain, apakah kita akan melayang atau tersedu kesepian? Percampuran rasa itu kini bolehlah beralih gemas, karena lagu “Ngundang” dari album Indehoi (Mesra, 1968) sudah berputar. Saya minum kopi sedikit, besok sajalah diteruskan mengetik.

Baiklah, saya teruskan naskah ini.  Kembali sembari mendengarkan karya-karya Benyamin. Kali ini yang terputar adalah salah satu albumnya dari kawasan gambang kromong, Tukang Delman. Kadang Bang Ben nyanyi sendiri, kadang Ida Rojani bernyanyi seorang kadang mereka berduet. Bagaimana saya harus melukiskan karya-karya manis ini? Dari haru sampai menggelitik. Dari nakal sampai merdu. Terpaksa kita bertanya sekali lagi, kenapa Benyamin jarang-jarang ditampilkan sosoknya sebagai penyanyi.

Seringkali Benyamin disebut sebagai seniman serba bisa. Saya pikir itu berlebihan sekaligus berkekurangan. Karena pada hal-hal seperti berakting dan bernyanyi, jelas Benyamin bukan sekadar serba bisa, tapi serba kampiun!