Berawal dari Ngeband, Muztang Akhirnya Fokus ke Musik Elektronik

Jul 27, 2022

Musisi elektronik beraliran drum and bass kelahiran Bali yang kini menetap di Jakarta, Gede Angga Raditya atau dikenal dengan nama panggung Muztang tengah mempersiapkan perilisan single terbaru untuk melanjutkan karier bermusiknya.

Single kali ini menurut Muztang memiliki sound berbeda dari materi-materi yang pernah dirilis sebelumnya. Ia melibatkan Tahir Hadiwijoyo alias Tata (Dekat) pada vokal, Sahid Nugroho pada bass, dan Sadhu Tadakara Yanaputra pada drum.

“Sound yang dikeluarkan sangat akustik. Semua instrumen suara yang ada di lagu ini adalah suara hasil rekam. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan suara elektronik yang sangat akustik. It’s more about the aesthetic for me personally karena bagaimanapun juga genre utama gue adalah drum and bass, dan itu sangat elektronik dan looping,” kata Muztang kepada Pophariini (26/07).

 

Sekarang ini materi barunya Muztang masih penggodokan di studio rekaman. Proses yang disebut Muztang paling susah dalam menghasilkan sebuah karya musik. Di samping itu, ia sudah ancang-ancang untuk album penuh yang berikutnya.

Album barunya nanti berisi lagu-lagu yang sudah pernah dirilis, namun hadir dengan aransemen yang baru. Ditambah beberapa materi yang benar-benar baru diciptakan.

Menelusuri kembali perjalanan bermusik pria bernama lengkap Gede Angga Raditya ini. Muztang memulainya dari Malang, kota yang disebut sebagai ruang berkembang secara musikal maupun personal bagi dirinya. 

“Saya memulai karier bermusik di tahun 2006 bersama Son Of Sundance sebagai gitaris. Sebuah band yang mendapat pengaruh dari genre emo pada masanya dan juga lingkungan kami yang juga banyak memainkan genre pop-punk,” ungkap Muztang yang saat itu masih menjadi kru untuk SATCF (Snickers And The Chicken Fighter).

Selama ia ngeband, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Angga. Perjalanannya bareng Son Of Sundance berlangsung dua tahun. Kemudian, ia diajak untuk bergabung ke Pickwolf, band heavy rock yang kental dengan southern riff sebagai tipikal tone-nya.

“Pickwolf banyak terpengaruh musik hardcore karena kebetulan di masa itu saya juga bekerja menjadi kru band legendaris bernama Screaming Factor,” jelasnya lebih lanjut.

Tak ingin sekadar unjuk kebolehan bermain gitar dari band ke band atau mendapat kesempatan menjadi kru band. Semua pengalaman yang pernah diraih Muztang membawanya bertemu dengan jalan yang baru.

Muztang memberanikan diri untuk berpindah dari Malang ke Jakarta di tahun 2013 demi merealisasikan sebuah rencana. Ia menyadari ketertarikannya terhadap genre musik elektronik, yang menurut Muztang ternyata sangat luas sekali.

“Saya bertemu dengan Arya Harditya selaku owner dari Invert Recordings dan diajak bergabung ke labelnya bareng talenta berkualitas lain seperti Massive Kontrol, Mardial, CVX, dan Jevin Julian. Lalu rilis debut elektronik pertama saya, ‘The Motion’,” ungkap Muztang.

 

Saat ini Muztang sudah tidak lagi bekerja sama dengan Invert Recordings. Semenjak merilis “Thousand Miles” di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk bergabung ke WESTWEW. Untuk materi yang berbeda, ia tetap berkolaborasi bareng Javabass Recordings.

“Sampai sekarang saya masih gabung di Javabass Recordings. Mainly fokus di rilisan drum and bass saja. Kalau di WESTWEW, musikal saya lebih lebar ke arah live performance act,” tutup Muztang.


 

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Maut dan Rayuan: 10 Tahun Dunia Batas Payung Teduh

Dunia Batas Payung Teduh menginisiasi subgenre, membangun generasi fans yang melekatkan diri dengan satu identitas, memiliki lagu yang dikenali dari intro.

Sisitipsi Persiapkan Album Tribut untuk Ismail Marzuki

Selama perjalanan yang sudah memasuki tahun kedelapan, ini merupakan kali pertama bagi Sisitipsi untuk merilis sebuah album tribut.