Berpegangan Pada Ritme Baru, Saat Ini Tidak Produktif Tidak Apa-Apa.

588
Ilustrasi: @abkadakab

Kita memasuki bulan kedua paska virus Covid-19 ini menjangkiti Indonesia awal Maret lalu. Atau bulan 4 kalau dari kemunculan di negara asalnya pada Desember 2019 lalu di Wuhan, Cina. Kini virus Corona dinyatakan sebagai wabah pandemi yang menjangkiti seluruh dunia. Dan kita dihadapkan pada wajah kehidupan baru yang tidak akan pernah sama, dan hampir pasti serba baru.

Tagar #dirumahaja bergema di Indonesia, dan tagar #stayathome bergema di seluruh penjuru dunia dan keduanya teramplifikasi melalu media sosial. Dan hal yang tidak pernah terjadi di muka bumi pun terjadi. Semua orang di seluruh penjuru dunia memilih berdiam di rumah saja dan menghindari bepergian kalau tidak perlu sekali. Kalaupun perlu kita akan menjumpai orang-orang saling memakai masker dan beberapa bahkan sarung tangan di tempat umum. Bagaikan dalam film-film genre post-apocalyptic.

Nyaris semua industri dihajar babak belur. Etos Work From Home yang digadang-gadang memutus rantai penyebaran virus Corona tak anyal turut mengganggu rantai ekonomi juga. Nyaris semua kena imbasnya termasuk industri musik yang masih bergantung pada panggung-panggung mingguan yang komunal. Social distancing kemudian menjadi physical distancing dan kini PSBB (Pembatasaan Sosial Berskala Besar) bagaikan mimpi buruk yang tidak pernah terbayangkan. Terlebih para musisi beserta tim produksinya yang masih bertumpu pada acara panggung-panggung mingguan. Sehingga kini berbagai jenis gigs/festival musik yang mengharuskan berkumpul-kumpul dibatalkan dan diundur entah sampai kapan.

Namun bukan industri kreatif namanya kalau tidak bisa beradaptasi dan memutar otak dengan cepat. Hanya dalam hitungan minggu berbagai inovasi dan konten untuk menghadirkan hiburan dari rumah ke rumah segera bermunculan. Berbagai brand dan pihak sponsor yang biasa mendukung acara musik lantas berlomba-lomba membuat aktivasi daring. Sehingga para musisi yang biasa merajai panggung dibanjiri pinangan untuk aktifasi ini-itu. Dan tidak sampai sebulan era pandemi ini para musisi yang melakukan aktifasi daring bermunculan di media sosial.

Kini kita dihadapkan pada wajah kehidupan baru yang tidak akan pernah sama, dan hampir pasti serba baru.

Siapa sangka ritual komunal berkerumun, berpeluh keringat, goyang bersama menyanyikan lagu kesukaan kala menonton acara musik kini bisa digantikan dari rumah. Meskipun minus semua unsur-unsur menyenangkan dari sebuah gigs itu. Kita kini bisa menyimak sang idola tampil dari layar hitam gawai kita langsung dari rumah/studio pribadinya. Dan lucunya bila sebelumnya banyak anjuran untuk membatasi screentime gawai karena tidak baik untuk kesehatan mental, justru kini layar hitam itu menjadi teman terbaik manusia dalam menyingsing pandemi ini.

Para insan kreatif, terutama musisi berlomba-lomba membuat konten dan melayarkan kegiatan mereka melalui layar gawai. Baik itu hal-hal musikal ataupun hanya sekedar mengobrol. Dari bedah lagu, tutorial, latihan, membuat video untuk direspon, podcast, penggalangan dana dan masih banyak lagi. Sebisa mungkin menjadi produktif adalah kuncinya. Dan semua dilakuan via media sosial.

Tapi berhati-hatilah bila produktifitas ini kemudian membebani kita para pekerja kreatif termasuk musisi, dan terutama para pekerja musik yang biasa bergerak di balik layar. Boro-boro produktif, penghasilan bulan ini dan beberapa bulan ke depan saja tidak menentu. Entah bagaimana bisa selamat dari bulan-bulan tanpa penghasilan pasti yang masih bergantung pada panggung-panggung mingguan itu.

Perlu dingat sudah menjadi rahasia umum bila media sosial adalah bagaikan pisau yang bermata dua. Selain kini menjadi pusat informasi dan juga hiburan utama, media sosial sekaligus juga sumber stres dan depresi bagi manusia-manusia jaman sekarang yang kesehatan mentalnya begitu rentan di era industri 4.0 ini. Ditambah melalui layar hitam itu kini di era pandemi ini kita harus terbiasa melihat orang menjadi sangat produktif dari rumahnya. Dari buku, film, album-album musik yang mereka konsumsi, juga kebiasaan postif seperti olahraga, berkebun, memasak menu-menu yang Instagram-able yang bermunculan setiap detik di layar gawai kita. “Walaupun pandemi, dan di rumah saja kita tetap harus produktif gaes!”. Kalimat tersebut seolah menjadi pesan terbaru kehidupan ideal di era pandemi ini.