Bincang Manajemen Band Dengan SRM Management dan Frisson Entertainment Asia

Oct 26, 2017

Diskusi ini merupakan salah satu dari sekian panel yang menarik di konfrensi musik Archipelago Festival di Jakarta yang berlangsung pada tanggal 14-15 Oktober di Soehanna Hall SCBD, Jakarta. Berlangsung sebagai panel pembuka di hari kedua panel ini dihadiri oleh Ryan Novianto dari Frisson Entertainment Asia Entertainment dan Satria Ramadhan dari SRM management, serta Dimas Ario sebagai moderator. Diskusi ini menarik karena baik SRM dan Frisson selalu berusaha mengikuti perkembangan jaman di era internet seperti sekarang. SRM sendiri kini menaungi beberapa band independen di antaranya Sore, L’alphalpha, Trees & The Wilds, Sajamacut, Rumahsakit dan Ballads of the Cliché, sementara Frison  pernah menaungi band-band Scaller, Dried Cassava di awal karir mereka dan saat ini fokus menaungi Neonomora dan Elephant Kind.

Neonomora. Foto: dok. istimewa

Ada perbedaan yang cukup signifikan antara SRM dengan Frison. Jika SRM menitik beratkan pada sistem booking agent atau sebagai jasa pemesanan band, Frisson awalnya kurang lebih sama tapi kemudian berkembang ke arah brand career development. Baik Satria dan Ryan keduanya sepakat peran manajer sangat penting. Fungsinya adalah objektif untuk melihat dari sisi pasar dan bisnis, serta juga tak kalah penting adalah mengerem band itu sendiri. Baik itu dari target pencapaian maupun sisi kreatif band itu sendiri.

Namun mereka berdua juga sepakat kalau dalam sekarang itu peran manajer itu perlu, tidak perlu. Seperti yang diungkapkan oleh Ryan bahwa saat ini secara umum ada dua tipe band independen. Yang sudah mandiri, baik itu urusan artistik dan branding bandnya, dengan yang hanya baru punya modal musiknya saja dan sama sekali tidak paham urusan artistik dan branding-nya. Frison mencontohkan Elephant Kind. Semua personilnya punya skill masing-masing yang bisa menguatkan bandnya dan semuanya sudah terbagi rata. Dari urusan artwork dan grafis, video, promosi serta manajerial serta yang pasti: urusan musiknya itu sendiri.

Elephant Kind. Foto dok. Rizky Abdu Rahman

SRM juga diakui Satria sangat terbantu oleh band-bandnya yang mandiri. Mereka sudah mengerjakan logo band, kover serta materi promosinya sendiri hingga konten dalam media sosial. Sehingga SRM bisa memfokuskan diri menjadi booking agent, dan lebih efektif dalam mencarikan panggung saja. Namun Ryan menambahkan kalau Frisson lebih sering berhubungan dengan fase awal band. Karena ia lebih tertarik pada proses pengembangan awal sebuah band. Makanya ia menyebut Frisson sebagai career development company.

SRM dan Frisson juga bercerita soal kesulitan menjalankan bisnis ini. Salah satunya menurut Ryan adalah, kalau di luar negeri lazimnya band membayar di depan, untuk sebuah target atau kurun waktu. Sedangkan hal itu tidak memungkinkan diterapkan di sini, karena band-band independen di sini pada umumnya belum punya perekonomian yang baik. Jadi pada Frisson berlaku sistem pembagian untung di belakang. Sedangkan untuk Satria yang di SRM juga bertindak sebagai manajemen kesulitannya adalah karena band-band yang ia pegang rata-rata sudah berumur panjang dan bisa dibilang sedikit mapan, sehingga harus lebih sabar.

SORE. Foto dok. Istimewa

Di akhir panel akhirnya bisa ditarik kesimpulan. Pertanyaan mendasar untuk sebuah band yang baru mau terjun ke industri saat ini adalah: apakah band itu sudah siap dengan aspek kreatif, identitas brand, dan promosinya, atau mereka hanya butuh panggung lebih banyak? Kalau yang pertama, maka band itu butuh manajer dan manajemen. Karena kalau hanya butuh panggung sementara aspek kreatif, identitas brand dan promosinya sudah ada maka jawabannya adalah booking agent.

Namun pada akhirnya perlu diingat semua itu kembali lagi pada kebutuhan dan target utama band yang bersangkutan. Karena dengan mengetahui kebutuhan dan target utama, akan memudahkan bagi manajemen atau booking agent untuk membuat rencana dan time plan yang jelas.

____

SRM Band Management
Frisson Entertainment Asia

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Dead Bachelors ‘Reuni’ di Single Terbarunya

Yang satu ini, bisa dibilang sebagai sebuah kejutan yang menyenangkan bagi duo Narendra Pawaka dan Mario Pratama yang tergabung dalam unit Dead Bachelors.

Saling Menguatkan bersama Nino Kayam

Mengenai “Nikmati Rindunya”, Nino mendedikasikan single terbarunya ini untuk sang ayah yang berpulang di bulan Oktober 2020 lalu.