Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

• Jan 23, 2019
Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

Jika ada satu tren yang diam-diam menjangkit di industri musik Indonesia sepanjang 2010 sampai sekarang sampai hari ini, itu adalah city pop. Musik city pop 80-an Jepang ini populer kembali secara mendunia di jagat dunia maya. Katalog-katalog lama musik pop Jepang era 80an yang kental dengan pengaruh musik funk/disko dan boogie kemudian menemukan popularitasnya kembali dan menjadi begitu seksi sekarang ketika tren 80-an bergema lagi. Terutama ketika subgenre elektronik vaporwave banyak men-sampling lagu-lagu city pop lawas itu.

Saat itu musik city pop muncul karena gaya hidup di Jepang berubah drastis di era 80an. Biang keladinya adalah industri ekonomi Jepang beserta budaya populernya seperti film, televisi, kartun dan komik manga yang berkembang dan menjadi konsumsi masal seluruh dunia. Kota-kota besar terutama Tokyo terkena modernisasi sehingga bermunculan gedung-gedung tinggi perkantoran dan apartemen. Juga jalan layang serta lampu-lampu kota yang indah, kokoh dan dingin.

Warganya yang kemudian menjalani gaya hidup kosmopolitan berimbas kepada munculnya musik pop bernuansa modern dengan pengaruh funk/disko dan boogie sebagai perayaan kehidupan baru mereka yang ‘urban’ di era 80-an tersebut. Silahkan simak playlist city pop di bawah ini yang dibuka dengan lagu “Plastic Love”. Lagu yang mendadak tenar di jagad internet sepanjang 2018 kemarin.

 

Di tahun 2010 hingga kini ‘demam city pop’ ini kambuh lagi karena internet dan Youtube. Youtube dibanjiri oleh playlist city pop Jepang buatan netizen termasuk di Indonesia yang kemudian juga mengklaim punya city pop versinya sendiri. Alasannya historis: ada banyak musisi Indonesia era 80-an yang menyelipkan elemen funk/disko dan boogie ke dalam musik pop mereka.

Sehingga muncul irisan antara musik Indonesia pop disko/funk 80an dengan apa yang disebut musik city pop Jepang. Lalu tidak heran bila saat ini tidak sedikit netizen Indonesia membuka katalog lama musik 80-an Indonesia dan berlomba-lomba membuat playlist city pop versi Indonesia di Youtube. Salah satunya adalah di bawah ini yang dibuat oleh entah siapa, tapi sudah dibuat berseri hingga volume 6.

 

Funk, Benang Merah City Pop dan Pop Urban
City pop secara harafiah bisa disamakan artinya dengan pop urban, yaitu (musik) pop perkotaan dengan pengaruh gaya hidup kosmopolitan manusia sekarang. Unsur funk, disko, boogie, jazz dan elektronik bercampur di dalam pop urban ini. Istilah pop urban pernah dipakai jadi salah satu kategori nominasi di AMI Awards 2015 hingga kini dan juga pernah jadi nama kompilasi CD pada 2009. Musisi yang terlibat adalah yang menyelipkan unsur modern dan urban termasuk musik funk pada lagu-lagunya seperti Maliq & D’essentials, RAN, Soulvibe dan Tompi.

CD Urban Pop. Foto: Istimewa

Sekali lagi elemen funk adalah irisan antara city pop dengan musik Indonesia yang pernah bersinggungan dengan funk. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya di dalam tulisan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu tentang sejarah panjang funk dalam musik Indonesia. Hal ini membuat city pop Jepang bisa relevan di Indonesia. Penting diingat, funk sebagai ‘eyang’ nya musik disko ini mempunyai ciri-ciri cenderung ceria dan mampu membuat badan bergoyang, baik itu di lagu bertempo cepat ataupun lambat

Musik funk mempunyai ciri ketukan drum dan permainan bass yang dinamis dan tidak mengikuti ketukan normal, kocokan gitar listrik berdecit di nada tinggi ataupun rendah. Seringkali gitar juga hanya memainkan 3 not sama berulang ulang dengan teknik palm muting yang perkusif. Unsur lainnya adalah suara piano elektrik, synthesizer dan brass section yang bersahutan, kadang dipermanis dengan suara strings section yang menimpali dan perkusi yang primitif jadi penguat tubuh untuk bergoyang.

Kesemua itu bisa terjadi pada lagu bertempo cepat atau lambat, dan tetap akan memberikan sensasi yang berbeda dari mendengarkan musik pop biasa. Dari badan bergoyang, atau hanya kepala yang mengangguk pasti. Contohnya ada pada salah satu lagu pop jazz/funk era 80-an bertempo pelan milik almarhum penyanyi Utha Likumahuwa ini. Meskipun bertempo lambat, namun tubuh mustahil bisa diam tidak bergoyang. Oh ya, dulu sebelum urban pop, media menyebutnya dengan pop kreatif.

Dengan ciri-ciri itu sehingga sah saja bila netizen Indonesia berbahagia ketika menemukan benang merah city pop dengan kearifan lokal pada musik 70 dan 80-an, terutama pada karya-karya legendaris seperti karya Chrisye di era 70/80-an dengan Jockie Suryaprayogo, juga Candra Darusman saat dengan band Chaseiro. Dan yang terpenting Transs dengan album satu-satunya Hotel San Vincete (1982)

 

 

Sepanjang tahun 2018 kemarin musik pop urban ini masih bertebaran di musik populer Indonesia. Dimainkan oleh arus samping dan utama, menjadi hits di skena ataupun jadi hits di tangga lagu nasional dan bahkan wara-wiri di ajang penghargaan bergengsi AMI Awards. Seperti album GAC, singel populer milik Lalahuta, “Jangan” dan album penghargaan Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman. Dan di semua karya itu elemen funk hadir secara kentara. 

Yang menarik pop urban Indonesia adalah elemen funk yang meregenerasi dan hadir jadi warisan turun temurun. Estafet funk terjadi pada Barry Likumahuwa dengan proyek jazz funk-nya yang nge-pop: BLP (Barry Likumahuwa Project). Barry adalah putera Benny Likumahuwa pemain saksofon/trombon band soul/funk legendaris 70-an, The Rollies. Lalu ada EQ Puradiredja dari duo nu jazz/funk Humania yang populer di 90-an. Di 2010 ia memproduseri juniornya Maliq & D’essentials yang satu dekade terakhir sangat identik dengan pop funk/pop urban Indonesia saat ini.

Regenerasi terus berlanjut ketika gitaris dan kibordis Maliq & D’Essentials bersama salah satu dari trio pop urban RAN membentuk Lale Ilman Nino. Kini mereka adalah satu penulis lagu/produser paling gawat saat ini dengan prestasi yang tidak main-main. Berbagai lagu hits serta penghargaan sudah ada di tangan mereka. 

Puas: Lale Ilman dan Nino menerima AMI awards untuk produser terbaik / @ninokayam (instagram).

Hidupnya pop urban dengan sentuhan funk ini tentu juga terbantu oleh para pelaku seperti para pemandu cakram pemutar lagu lantai dansa seperti Diskoria dan Munir yang selalu setia memutar lagu-lagu funk Indonesia klasik dalam repertoarnya. Tak terkecuali beberapa acara revival seperti Suara Disko dan Swara Gembira yang banyak mengangkat musik-musik dansa Indonesia klasik, salah satunya seperti acara penghargaan untuk Candra Darusman dan Chrisye.

 

Pop Urban di 2018
Sementara itu di sepanjang 2018 lagu-lagu pop urban wara-wiri. Ada Marion Jola dengan lagu Jangan dari produser Lale Ilman Nino dengan musik yang goyang, perpaduan antara pop, reggae dengan sedikit funk. Lagu ini mendapatkan 6 nominasi dan membuat Lale Ilman Nino memenangkan penghargaan produser terbaik di ajang AMI Awards 2018.

Marion Jola – Jangan ft Rayi Putra

 

Masih dari Lale Ilman Nino ada band Lalahuta yang juga mendapatkan 1 nominasi di ajang AMI Awards, dengan lagu Jangan yang bertempo lebih kalem. Lagu dengan kadar pop yang catchy ini diaransemen dengan semua elemen funk yang terselip manis dan mampu membuat badan bergoyang. Simak ketukan drum yang goyang dan bass yang bermain nakal dengan kocokan gitar elektrik dan piano yang bersahut-sahutan.

Lalahuta – Jangan

 

Lalu ada penyanyi Isyana Sarasvati dengan salah satu lagu bernunasa pop-funk/disko yang diambil dari soundtrack film Milly dan Mamet. Meski drumnya cenderung konstan, tapi ada ketukan yang goyang di dalamnya. Yang jelas betotan bass-nya begitu asik menari dengan kocokan gitar funky yang mengejar-ngejar di belakang.

Isyana Sarasvati – Stargazing

 

Ada juga single Hivi! di 2018, “Satu-Satunya” yang bernuansa funk/disko 70a-n dan sangat cocok untuk diputar oleh Diskoria ataupun Munir di lantai dansa kekinian. Meski condong ke disko, sesemua elemennya merupakan turunan dari musik funk.

Hivi! –  Satu-Satunya

 

Ada Calvin Jeremy yang merilis album dengan lagu bernuansa pop-funk/jazz 80-an Indonesia dengan album berjudul Nostalgia di penghujung 2018 kemarin. Total nostalgia 80-an!

Calvin Jeremy – Nostalgia

 

City Pop Indo
Dari arus samping ada beberapa musisi yang menyatakan terang-terangan terpengaruh city pop. Ada Springsummer yang baru merilis album tahun lalu dan Ikkubaru yang telah merilis album ke 2, Amusement Park tahun lalu. Keduanya berasal dari Bandung. Ada Tokyolite dari Bogor yang telah merilis 3 album. Mereka berdua telah beberapa kali main di Jepang dan memang membidik pasar di sana.  Lalu yang terbaru ada putri musisi legendaris Jockie Suryoprayugo, Aya Anjani yang merilis singel berjudul “Roman Romansa” yang kental nuansa city pop Jepang lengkap dengan artwork dan nuansa videonya

 

Sepinya Gemerlap Kota
Pada akhirnya manusia adalah mahluk sosial. Secepat dan sebising apapun kehidupan urban saat ini manusia akan mudah merasa kesepian. Terlebih di tengah tingginya gedung pencakar langit, saling-silang jembatan layang, dan lampu kota yang indah tapi dingin. Karenanya kita akan selalu butuh musik dinamis untuk menemani kita menghadapi semua kebisingan modernisme. Itu mengapa musik Indo pop-urban yang dinamis dan positif akan selalu dibutuhkan untuk menjadi musik kehidupan kota. Baik untuk menemani di tengah padatnya penumpang Commuterline atau di tengah kemacetan di dalam mobil, yang anehnya di keramaian seperti itu kadang rasa kesepian justru sering datang menyergap.

 

____

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …