145

Cahaya Kulkas Arc Yellow yang Menerangi TV Berwarna

Artist: Arc Yellow
Album: Oh Well… Nothing
Label: demajors
Ranking Indonesia: 7,5/10

Arc Yellow datang dengan menawarkan indie-rock 1990an dengan pengaruh kuat dari Nirvana, mungkin lebih tepatnya era In Utero. Terdengar ingin mengajukan manisnya pop dari balik garukan distorsi gitar (juga feedback, tentunya!), teriakan vokal, dan drum yang berisik. Dari jejak-jejak demam grunge pada lubang di dengkul tradisinya: yang bukan bikin-bikinan industri.

Arc Yellow mengesankan diri ingin tampil apa adanya dalam perayaan personal, sendiri atau bersama teman-teman dekat. Mereka dekatkan karya dengan apa yang melekat dikonsumsinya. Begitu CD kita putar, itulah yang tertangkap telinga. Seperti ingin slebor saja di sofa, Converse masih di kaki. Di kulkas, ada botol Cola. Seperti belum ada ojek online, kita pesan delivery pizza!

Jadi, seberapa jauh Oh Well… Nothing dari Arc Yellow menservis kita dengan buih-buih sodanya? Atau, apakah ini sejenis pizza yang banyak daging, jamur, dan kejunya?

Lagu kedua, “Ruam”, menunjukkan bahwa Arc Yellow bisa bukan menjadi band sembarangan dalam kecenderungan nihilisnya, bahkan terdengar seperti dinyanyikan oleh The Brandals versi lebih santai dan sembunyi. Salah satu lirik “remeh temeh” terhebat, terutama berkat judul lagunya, dalam musik yang menyenangkan telinga? Mereka gila!

Baca juga:  Resensi: Sisitipsi - Minta Lagi

Bergumam berujung perih
Lantas memang berbuih-buih
Meradang lantang berlari
Langsung hajar tak henti-henti

Mengepal tangan berayun
Kencang cepat terburu-buru
Meronta rahang dituju
Ruam lebam pucat terharu

Mengalir merah merekah
Mengalir merah bernanah
Menyeka darah merona

Saya pun memutar “Fleur”, lagu pertama di album ini, sekali lagi. Berharap lagu ini semakin enak ketika semakin didengarkan, hanya karena saya begitu menyukai lagu kedua. Koor vokal sahut-sahutan tipikal itu, sebaiknya snack rambut nenek-nenek, Tapi, sayang, pilihan itu bisa lebih manis lagi. Botol sirup bisa sama, tapi isinya beda.

“Loud Louder Soft Softer”, lagu ketiga, adalah pahlawan berikutnya. Keren! Catchy. Becanda pol bersama rip off yang membuat nyengir. Menyenangkan sekali. Saya jadi teringat flannel merah-biru yang dulu saya pakai ke Puncak, Jawa Barat, dalam senang-senang dan menggigil tapi enak. Badan juga mau goyang gara-gara refrain dan bagian solo gitarnya dinaikin pakai tamborin. Detail batuk-batuk di akhir lagu membuat juri-juri amatir langsung mengangkat kertas karton berisi nilai tertinggi untuk formasi piramida asal-asalan dari cheerleaders kumisan.

Baca juga:  Resensi Kunto Aji - Mantra Mantra

Yuk, lanjut, “Pink Stripe” sekarang. Rasa Nirvana kuat sekali. Saya jadi penasaran, apakah si vokalis gondrong sebahu? Karena saya tidak yakin dia depresi dalam melakukan ini. Lagu ini layaknya penebalan ringannya identitas daripada mendapatkan sekantung permen.

Sekarang saya berada di wilayah outdoor, sekalian merasakan bagaimana musik Arc Yellow bila bertemu sepoi-sepoi angin sore. Di earphone, telah berbunyi lagu berikutnya, “Sweet Talking Woman”. Ah, seandainya mereka justru sedang bermain di sini, tanpa panggung yang tinggi, dengan dekorasi pesta ulang tahun balita pastinya.

Lagu keenam, “Kool”, suasana fun datang lagi, dengan dinamika yang lebih. Saya ingin mengenakan kupluk dengan buntalan bulat sebesar bakso telur! Dilanjutkan dengan “Sleepless”, di mana kita sudah bersalin piyama, saking malasnya keluar rumah, dan meriahnya jiwa remaja belasan di kadung badan. Beanie dengan “topping” bakso telur saya tiba-tiba dicaplok lumba-lumba ketika sampai di “Pregnant Simulation”—salah satu lagu terkuat mereka, pindah-pindah kamar di sini membawa suasana gembira. Mantap dalam kepolosannya.

Baca juga:  Resensi: Kelompok Penerbang Roket – Galaksi Palapa

Menu berikutnya, kembali berlirik Bahasa Indonesia. Buat saya, “Limbung” tak sekuat “Ruam”, meskipun masih menyisakan kata-kata penutup “terjebak kalap kondisi”.

Akhirnya, “More Viscous” menutup album brengsek ini. Terasa bukan penutup yang dipikirkan matang. Sama sekali bukan untuk memberi kesan terakhir. Ini hanya salah satu lagu yang bisa mereka ciptakan kapan saja, nampaknya.

Saya membayangkan bila Arc Yellow merekam banyak demo lagu, bisa jadi ditemani seorang produser yang cocok dan sering bokek, untuk memilih yang termanis dari semua yang mereka tulis. Hasilnya mungkin membuat kita tersenyum lebih lebar lagi, mengepalkan tangan ke udara sambil tetap selonjoran.

Oh, ya, Arc Yellow adalah Gilang T. Firdaus (vokal dan gitar), Regie Pramana (bas dan vokal,) serta Rizky Octadinanta (drum dan vokal). Oh Well… Nothing merupakan album kedua mereka.

Saya betul-betul malas mengecek apa yang terjadi di Facebook setelah mendengarkannya (kecuali hanya untuk berbelanja CD atau mobil-mobilan).