Catatan Retrospektif Album “Retropolis” Dari Naif

938
Ilustrasi Rosyad A.

Menyambut dirilisnya album Retropolis Naif yang dirilis hampir 15 tahun lalu ini ke dalam platform musik streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dkk, Harlan Boer menulis untuk Pop Hari Ini tentang album ke 4 Naif yang sangat penuh eksplorasi ini. (Red.)

Empat belas tahun yang lalu, saya segera memutar kaset album Retropolis setelah mendapatkannya di toko kaset langganan. Di dalam kamar, bersama perasaan menduga-duga akan seperti apa bunyi album ini.

Empat belas tahun yang lalu, musik Indonesia sudah semakin menarik dengan banyaknya rilis album-album bersuara indie yang bukan hanya menyegarkan dan semakin membuka banyak kemungkinan, tapi juga lebih mudah diakses dengan dukungan promosi dan distribusi Nasional. Bila pada masa rilis album debut Self-titled (1998), Jangan Terlalu Naif (2000), dan Titik Cerah (2002), tiga karya Naif yang sangat mengagumkan, pilihan masih terhitung sedikit, maka 2005 adalah tahun yang sudah jauh berbeda. Belasan hingga puluhan nama baru kita kenal, bersama gaya bermusik mereka masing-masing, dari shoegazer Sugarstar sampai garage rock revivalist The Brandals.

Empat belas tahun yang lalu, jika kita melihat dari asal kampus Naif terbentuk, maka scene IKJ pun bisa dikata sedang meledak luar biasa! Sebut saja: Kebunku, The Sastro, White Shoes And The Couples Company, The Adams, dan terutama The Upstairs.

Empat belas tahun yang lalu, dan ini sesungguhnya menyedihkan bagi saya sebagai penggemar, untuk pertama kalinya Naif merekam album tanpa Chandra, salah satu keyboardist Indonesia favorit saya. Permainan Chandra di tiga album pertama Naif layaknya kehadiran Indra Q di lima album pertama Slank: “jail” yang menjadikan aransemen tiap-tiap lagu menjadi sangat bersensasi.

Empat belas tahun yang lalu scene IKJ pun bisa dikata sedang meledak luar biasa!  Kebunku, The Sastro, White Shoes And The Couples Company, The Adams, dan terutama The Upstairs.

***

Plastik pembungkus sudah dibuka, kaset dimasukkan ke dalam mesin pemutar yang menyatu dengan CD player. Nuansa psikedelia langsung terdengar dari lagu pertama “Goda Goda”, yang dilanjutkan dengan “Gula Gula”. Naif serasa baru pulang dari India, duduk-duduk di Cikini dengan rambut gondrong dikuncir senar sitar dan setiap paha mereka mengepit tabla. Gaya bermain dan sound drum Pepeng di lagu “Gula Gula” tentu saja langsung mengingatkan pada Ringgo Starr di lagu “Tomorrow Never Knows”.

David, vokalis hebat itu, baik sebelum maupun sesudah nge-gym, menyanyikan lirik-lirik sugestif terbaik, dalam kandungan positif, sepanjang karir mereka:

Tak pernah aku meminta, maka usah engkau memberi / Kau tahu hati adalah pengelihatan paling sejati / Tolonglah jauhi aku, ku tak pernah ingin terjatuh / Ke dalam sesuatu yang lebih baik kuanggap tabu

Segera kita menaruh teks “Gula Gula” ke dalam konteks tertentu, terlebih bersama dukungan suasana musik meleot-leot seperti itu. Matahari bersinar terang, mungkin mereka bertelanjang kaki, sementara tubuh mereka sedang segar-segar saja.

Bila album pertama dibuka dengan gaya retro “Mobil Balap” yang juga banyak mempengaruhi band-band Britpop 1990an, Jangan Terlalu Naif dibuka dengan “Johan & Enny” yang kalem (dan dari judulnya saja kita sudah bisa membayangkan romantika pasangan lampau sejoli paman dan tante kita), dan Titik Cerah dibuka dengan “Aku Rela” yang relatif straight forward early 1960’s pop yang disusupi kenikmatan interlude dan refrain melandai, maka pembukaan Retropolis serasa lahir di paruh kedua 1960an yang dihujani impian kedamaian.

Namun tentu kita mengenal kebiasaan Naif sebelumnya: mereka senang untuk menjadi eklektik, mengambil segala kembang terharum dari jelajah musik pop masa lalu, dari yang terjadi di Inggris sampai Indonesia. Bagitu juga yang berlaku di album keempat mereka.

Sebuah balada asmara dengan dada keharuan langsung mengambil kendali berikutnya: “Benci untuk Mencintaimu”. Sampai hari ini penonton masih lantang menyanyikan bagian refrainnya di berbagai kesempatan pentas Naif. Korek api dinyalakan.

Aku tak tahu apa yang terjadi… / Antara aku dan kau / Yang kutahu pasti / Kubenci ‘tuk mencintaimu

Gitaris Jarwo sangat mengesankan di bagian interlude, berbaring tepat setelah refrain pertama. Dengan durasi solo gitar yang hanya sebentar, awan-awan mencurahkan mawar secara perlahan.

kebiasaan Naif: senang menjadi eklektik, mengambil segala kembang terharum dari jelajah musik pop masa lalu, dari Inggris sampai Indonesia

Dari kesan awal album ini, jelas sudah tidak perlu ada lagi yang disangsikan. Naif masih relevan untuk terus berjalan, masih jagoan dalam membuat karya rekaman.

Setelahnya, datang keroncong “Pujaan Hati”, diawali suara announcer yang butuh beberapa kali take untuk bisa merasa nyaman mengantarkan lagu yang akan dipersembahkannya secara layak dan budiman. Tantu saja tone suara sang penyiar terasa pulen, layaknya yang kerap ditemui di tempo dulu. Main-main yang naïf, yang jadi satu hal permainan Naif.

Pada “Pujaaan Hati”, Naif kembali menunjukkan kesukaan mereka, atau bahkan lebih, pada Koes Plus. Seperti kita tahu, Koes Plus juga kerap memasukkan nomor keroncong di beberapa album mereka. Jejak cara bernyanyi David yang ditujukan pada Koes Plus, pertama kali sangat membekas di refrain lagu “Posesif” dari album Jangan Terlalu Naif. Kini kita bisa mendengar sangat jelas keseluruhan nuansa sejak permulaan lagu, namun tidak ada arah estetis yang lebih tulen dari bagaimana mereka bisa menulis lirik ini:

Sumpah mati aku kasih padamu / Sungguh sayang sekali

Empat belas tahun yang lalu, saya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diperbuat Naif, melainkan tersenyum mahfum.

Selepas “keroncongan”, album diisi kelugasan, hampir menjadi power pop sepenuhnya. Sesungguhnya butuh jarak pada “Tak Pernah Melupakanmu” bagi saya. Hari ini, ketika musik Indonesia dan dunia sudah semakin variatif, kesederhanaan lagu ini terdengar lebih mendekati kawasan tiga menit yang sejati dibandingkan sepotong pop standar.

Kemudian “Nanar”. Penghayatan vokal David kembali mengingatkan kita pada kualitas penyanyi itu, yang bila pun masih di bawah para legenda sebelumnya, diletakkan di posisi yang sangat terhormat. Singkat saja: inilah pop sesungguhnya, dinyanyikan oleh vokalis pop yang sesungguhnya. Lagu tak perlu dibuat berlama-lama untuk jadi tahan lama.

Seperti bersambung dari keroncong pada “Pujaan Hati”, lagu berikut di Retropolis adalah Rock N’ Roll yang juga masih dalam pengaruh Koes Plus—simak  bagian verse-nya yang bertabur gula jawa di atas roti bermentega. Ini juga saat yang tepat untuk mendapatkan buaian bassline Emil yang begitu sesuai untuk musik Naif, berharmoni bersama gerusan primitif gitar Jarwo. Setelah refrain dengan vokal David yang menggebu dalam mengungkapkan hasratnya, kita dibawa pergi sesaat ke dunia Jarwo yang permai. Lagu “Senyum yang Hilang” memesona dengan caranya sendiri, dengan koor penutup yang Beatles-que dan rolling Pepeng yang terdengar “enjoy berat” sampai fade out, bila dibutuhkan.

Secara tema lirik, lagu berikutnya, “Uang” serasa “Benci Libur” di album pertama mereka. Jika dahulu tentang suasana hati merindukan kehangatan dan keramaian kampus yang hilang di saat libur datang, “Uang” lahir dari panjangnya Naif melakukan tur dan rasa untuk ingin segera pulang ke keluarga untuk membawa rupiah hasil dari pekerjaan mereka. Respon paling menarik justru pada video musiknya yang digarap oleh sutradara Anggun Priambodo (salah seorang dari kolektif kreator video musik The Jadugar, vokalis Bandempo, seniman, dan film maker). Anggun, yang sudah lama tidak kribo, langsung menempelkan lagu ini pada adegan-adegan yang terinspirasi dari acara televisi Uang Kaget yang mengudara pada masa-masa Retropolis dirilis, di mana host memberikan sejumlah uang kepada seseorang “yang kurang beruntung” untuk bisa segera dibelanjakan dalam waktu singkat yang telah ditentukan.  Kita bisa melihat ekspresi berterima kasih dan terbirit-biritnya lari menghampiri tempat-tempat untuk berbelanja.

Lima video musik dari album ini tidak hanya merekam rupa dan musik mereka masa itu, tapi juga suasana berkesenian melalui medium video musik di televisi Indonesia pada sebuah era, yang hanya dalam beberapa tahun setelah 2005 telah jauh berganti rasa.

Rilis album Retropolis memang memiliki catatan menarik ketika Naif mengajak teman-teman mereka di IKJ untuk membuat lima video musik sekaligus dalam satu kesempatan syuting, memanfaatkan set sebuah pemukiman yang dirancang untuk sesi foto sampul album mereka. Sebuah set hunian dengan gerbang bertuliskan “Retropolis—City of Joy”.

Selain karya Anggun Priambodo, sekarang mata dia sudah plus, kita bisa melihat karya Indra Ameng (salah seorang dari kolektif Ruangrupa, kurator, seniman, mantan manajer Rumahsakit, manajer White Shoes And The Couples Company)  dalam video “Pujaan Hati”. Di saat rekan-rekannya sibuk dengan perkara syuting, Indra Ameng terus memotret untuk nantinya dijadikan video stop motion. Salah satu model di video ini adalah Hahan, seorang seniman dari Yogyakarta yang karya-karyanya juga dekat dengan artistik “modern masa lalu Indonesia”.

Henry Foundation (seniman, The Jadugar, Be Quiet, Goodnight Electric, Frigi Frigi) menggarap video musik “Gula Gula”, pastinya melibatkan pendekatan visual psikedelia. Bimbo (editor kawakan) menggarap “Benci untuk Mencinta”, sementara Tony Tandun (Satellite of Love, desainer banyak sampul album era 1990an dan 2000an, DJ) membuat video musik “Nanar”.

Selain memanfaatkan set yang tersedia, keputusan Naif mengajak lima teman IKJ sekaligus untuk menggarap lima video musik yang berbeda bahkan lebih berhubungan dengan “suasana seni terbaru” yang terjadi pada empat belas tahun silam. Di masa itu, The Jadugar sedang bersinar dengan video musik-video musik mereka yang dipancarkan oleh MTV dan mendapat banyak perhatian anak muda. Bimbo banyak meng-edit video The Jadugar. Inisiatif seniman Ruangrupa di Jakarta, di mana Indra Ameng berada di sana, telah memasuki tahun kelima mereka dan kiprahnya semakin dikenali. Sementara porto folio Tony Tandun dari Satellite of Love, dengan beragam sampul album ikoniknya (yang seringkali menggunakan lipatan kertas sampul yang banyak dan penuh), jelas tak diragukan.

Lima video musik sekaligus dari album Retropolis milik Naif tidak hanya merekam rupa dan musik mereka di masa itu, tapi juga suasana berkesenian melalui medium video musik di televisi Indonesia pada sebuah era, yang hanya dalam beberapa tahun setelah 2005 telah jauh berganti rasa.

Retropolis ditutup dengan “Voor Moedoer” yang terdengar bak kemegahan lagu pengiring untuk menutup layar panggung pertunjukan. Saat pita kaset habis, empat belas tahun lalu, saya mengganggap album ini boleh juga, begitu juga kadar kepuasan saat diputar via internet hari ini. Retropolis menarik untuk terjadi, walau buat saya tak sedahsyat tiga pendahulu dan satu album penerusnya, Televisi.

Tahun-tahun Naif bersama Bulletin Records layaknya kembali bertemu jejak-jejak permata musik populer di label mainstream Indonesia, tahun-tahun terakhir sebelum rilisan fisik sepenuhnya drastis menyusut, dan segala di peta menjadi benar-benar berubah derajatnya.

Sementara aksi Naif tampak segar bugar, nama mereka masih jadi jaminan pertunjukan, seperti tak mau jatuh bagai tertulis dalam lirik “Gula Gula”.

 

_____