827

Debut Album ROXX dan Perayaan Metal Indonesia

Puncaknya tentu pada Agustus 1992, ketika ROXX berhasil menerbitkan album debutnya. Sebagian penggemar metal sebetulnya kupingnya sudah semakin sakit, brutal, ataupun berpetualang ke musik-musik “ajaib” lainnya ketika album ROXX itu datang. Sementara Metallica sendiri telah merilis “Black Album” yang tidak sengebut dan sekompleks album-album mereka sebelumnya.  Tapi thrash metal, apalagi Metallica, jelas-jelas masih berada di tahtanya yang kokoh, jika tidak bisa dibilang semakin kuat mencengkeram.

Maka perayaan pada debut album ROXX tak terelakkan. Tatkala album dirilis, anak-anak muda berkaos hitam memburunya di toko-toko kaset. Menyetelnya dengan gembira dan berulang-ulang!

Lagu “5 cm” langsung menjadi favorit saya, juga bagi banyak orang. Ngebut seperti Anthrax era Among the Living dan State of Euphoria.  Album itu bersampul hitam, dengan tulisan ROXX merah. Karena dekat dengan kesan Metallica, tentu sampul itu mengingatkan pada “Black Album” yang rilis pada 1991.

Baca juga:  Irama Dari Nusantara: Perjalanan Panjang Radio Kita

Album debut ROXX dimulai ritem gitar yang merengsek. “Gontai” mengangkat tema anak-anak muda yang gelap. Lumayan untuk pembuka. Tapi pada lagu kedua “Penguasa”, aroma thrash semakin menjadi-jadi. Pengaruh Megadeth dan Metallica sekaligus hadir di sini. Dobel pedal, sesuatu yang juga menjadi signature thrash metal, dimainkan berderu-deru!

Lagu ketiga, tempo menurun. Namun tak langsung begitu saja menurunkan minat terhadapa album ini; sulit untuk menolak notasi mantap pada refrainnya yang berpotensi menghadirkan sing along, juga bagian solo gitarnya yang megah. ROXX bahkan sempat memasukkan gitar akustik di verse setelah solo gitar, untuk kemudian refrain melodius itu hadir kembali, dilanjutkan oleh koor yang memperindah outro sebelum gitar solo menyalak lagi dan dua buah roll dari drummer Arry menghajar rasa.

Baca juga:  Gempuran Baru Band Metal March

Setelah itu “5 Cm”, yang bisa menguras begitu banyak energi anak muda untuk ber-slam dance sampai tuntas. Pada sebuah part musik tanpa vokal, saya bahkan membayangkan bassist Tony layaknya Frank Bello sedang ber-head bang dengan satu kaki di atas ampli, walau Tony mungkin tak bercelana Hawaii.