Rekomendasi: denisa – bloodbuzz

Oct 25, 2021
denisa

Selama kurun waktu satu dua tahun ini, denisa menjadi nama yang layak mendapat lampu sorot di peta musik Indonesia. Suara yang unik dan ekspresi musiknya menjadi buah bibir di setiap diskusi soal musisi baru yang akan bersinar. Dan bloodbuzz, debut albumnya, menjadi awal yang baik.

Berisi 10 lagu, pendengar dimanjakan musik musik pop dengan beat dan sound yang segar dari mulai “Ben,”, “You Are Not My Savior”, “What Happen Next” sampai nomor favorit saya, “J Street”. Pemilihan beat menjadi sangat penting untuk mendefinisikan musik pop yang tengah diusung penyanyi yang juga menjadi engineer musik ini di album debutnya. Lewat empat lagu dengan tempo cepat ini, karakter vokalnya makin lebih tebal begitu dimainkan.

Kemudian ada lagu bertempo lambat, “Honey”, dan “Driver’s Seat” serta “(Un) Comfortably Alone” yang sepertinya berusaha menyeimbangkan emosi dari empat lagu dengan beat-beat cepat.

Di tengah-tengah, filler “What Happen Next” punya tempo sedang cukup menarik.

Nampaknya, saya melihat denisa tengah bereksplorasi dengan beragam ekspresi musik. Eksplorasi ini sebetulnya sudah dimulai sejak day-one ketika ia merilis “grace/gone” yang berisi sapuan synthesizer yang aduhai. Kemudian ada “19” di mana ia bermain-main dengan sound dan beat-beat elektronik. Lalu muncul “It Was Hell”, nomor synthesizer yang amat megah dan emosional.  Semua di EP Crowning menjadi arena bermain denisa yang harapannya bisa lebih sempurna di debut albumnya.

 

Kesempurnaan menjadi harapan setiap musisi di tiap karya yang dirilis. Harapan ini pun juga ada dalam benak saya sebagai reviewer atau siapapun yang mendengarkannya secara utuh sebagai sebuah album. Namun sayangnya, harapan ini tak sepenuhnya terpenuhi.

Dibalik aransemen, songwriting dan pemilihan sound yang keren, bloodbuzz memiliki kelemahan yang meski minor, namun ini mengurangi keutuhannya sebagai sebuah album. Pertama adalah pemilihan urutan track. Dari kacamata saya sebagai penggemar filler, saya justru melihat nomor seperti “J Street” di nomor tujuh justru sebaiknya ditaruh di tiga awal album ini. Menurut saya, “J Street” cukup mewakilkan ekspresi album ini. Beat dance dengan komposisi segar yang bisa membuat pendengarnya langsung bisa relate. Empat nomor pembuka seharusnya bisa dihajar dengan track-track beat yang cepat. “What Happen Next” bisa disisakan di tengah lagu dan track-track lambat bisa ditaruh di akhir.

Malah, jika mau ekstrim, seharusnya karakter denisa ini bisa lebih kuat di unsur dance. Kalau sudah begini, maka nomor-nomor akustik macam “Driver’s Seat” dan “Runaway” adalah sebuah kesalahan karena tidak pada tempatnya. Tapi tentu saja, ini masalah selera saya sebagai reviewer.  Ini penting, karena bloodbuzz dirilis fisiknya dalam format CD. Ekspresi mendengarkan musik di CD dan digital adalah dua hal yang berbeda.

Meskipun sebagai sebuah lagu yang berdiri sendiri, bloodbuzz tak ada masalah karena pendengar akan lebih cherry-picked ke nomor-nomor yang cocok dengan mereka. Namun sebagai sebuah album fisik, keutuhan perjalanan emosional sebuah album adalah penting dan semua elemen seperti pemilihan lagu termasuk urutan track menjadi elemen yang menyertainya.

Overall, sebagai sebuah album, bloodbuzz cukup menjanjikan, meskipun sebagai album terbaik, pertarungannya akan lebih sengit dengan album serupa dari solois-solois muncul di tahun ini.


 

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …