Di Balik Layar Hari Musik Nasional: “Survive di Masa Pandemi”

• Mar 13, 2021

Kita semua mungkin akan tetap merasa paling sibuk di dunia tanpa corona karena merasa tidak punya waktu luang untuk hal lain. Percis setahun berlalu, semua orang harus diam di rumah menunggu aba-aba aman atau tidak beraktivitas. 

Corona membawa perubahan besar yang membuat orang tersadar bahwa ia makhluk yang saling membutuhkan. Yang diperkirakan tidak berbahaya, ternyata perlu melewati banyak sekali fase bertahan. 

Begitu pandemi corona muncul, ini seperti mimpi buruk, bak iblis tak terlihat. Namun, ketakutannya begitu nyata. Pendaftaran untuk memperoleh perlindungan pun dalam antrean. Ragam test virus hingga vaksin apa yang terbaik, lagi-lagi duitnya berapa. 

Pengalaman setiap petarung di masa pandemi tujuannya rata yaitu tetap waras. Tak sedikit orang yang terpaksa rela dirumahkan. Berbagai profesi saling berpengaruh, misalnya di balik layar permusikan yang memiliki ceritanya sendiri.

Dalam rangka perayaan Hari Musik Nasional di tanggal 9 Maret lalu, Pophariini berbincang dengan Asthie Wendra (Show Director), Bayu Fajri Hadyan (Pemilik Bayusvara), Boby Endrasworo (Kru dari MALIQ & D’Essentials), Davian Akbar (Fotografer dari Barasuara), dan Rifanda Putri (Manajer dari .Feast) tentang bagaimana saat pandemi datang hingga mereka akhirnya berpikir untuk mengantisipasi segala kemungkinan di depan.

Nama-nama ini mencoba peruntungan baru. Ada yang tidak berhasil, ada pula yang berlanjut. Membangun strategi kehidupan agar pemasukan kembali stabil serta mendapatkan cara lain. Berbagi pengalaman itu menyenangkan.

Selamat menyimak.


 

  1. Asthie Wendra – Show Director

Dok: Ashtie Wendra.

Apakah loe terpaksa kehilangan pekerjaan saat pandemi corona datang? Pasti kalau kehilangan pekerjaan pasti, dan dialami juga sama semua teman-teman yang bekerja di industri yang sama. Kagetnya juga sama. Kalau dihitung, sebetulnya secara quantity ya mungkin ada sekitar 20 event 2020 gue di- cancel, lebih mungkin. Dari sejak pandemi, dari mulai yang postponed, sampai akhirnya si postponed jadi cancel. Jadi memang pasti ngalamin banget gitu kehilangan pekerjaan itu. Dan yang bikin sedihnya karena dadakan sih. Benar-benar jebret, nggak ada persiapan. Bagaimana loe bersiasat agar tetap mendapat pemasukan selain menjadi Show Director? Jadi tukang baso (baso aci) [tertawa]. Sebenarnya gini, kalau dilihat siasat pendapatan waktu itu ya, mungkin gini, gue termasuk beruntung. Walaupun waktu kejadian nggak tau ya. Waktu kejadian, gue nggak tau akan terjadi seperti itu. Tapi gue beruntung, ketika akhirnya gue benar-benar kosong itu hanya sekitar 2,5 bulan karena di pertengahan Juni itu ternyata sudah ada virtual event pertama gue. Jadi gue tidak merasakan terlalu banyak, secara perekonomian ya. Gue cuma merasakan dua bulan kosong nih. Tapi ketika itu terjadi waktu itu musti mikirin ngapain. Akhirnya, ya mencoba industri lain kan, usaha lain. Karena waktu itu mungkin akhirnya malah jeleknya adalah ikut tren yah. Oh, nyobain kuliner nih kayaknya seru nih dan nyari memang jenis kuliner yang orang-orang suka dan nggak terlalu mahal. Karena semua lagi ngalamin itukan. Gitu. Jadi pernah mencoba ke kuliner dan Alhamdulillah rugi. Tahu nggak kenapa? Karena akhirnya gue atau suami gue waktu itu lebih suka ngasih. Maksudnya gini lho, “Eh, loe cobain deh makanan gue!”. Loe cobain akhirnya yang gue jual mungkin hanya sepertiga dari semua jualan gue. Sisanya gue bagi-bagi. Jadi mungkin waktu itu. Jadi punya kesimpulan bahwa kayaknya enggak nih, gue nggak bisa usaha. Nah, untungnya di 2,5 bulan sesudah itu dari mulai pertengahan Juni sampai sekarang virtualnya jalan dan malah jadi banyak juga. Waktu nggak bisa gantiin ya. Sangat tidak bisa menggantikan. Tapi akhirnya kalau ditanya survive hidup gue, akhirnya gue balik ke event. Balik ke show akhirnya. Apa hal yang menjadi pembelajaran sangat berharga? Satu yang pasti, tadi bahwa nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita, dengan pekerjaan kita. Terutama, jangankan kita yang sebagai freelancer atau profesional. Orang yang settle as karyawan pun digaji setiap bulan pun bisa mengalami ketidakpastian ketika hal-hal seperti kemarin. Kan larinya sudah pandemi. Jadi memang satu adalah saving. Itu yang pasti, harus. Nabung itu harus. Jangan sampai loe keblinger dengan wah gue lagi dapat banyak. Apalagi freelancer gitu ya. Sebulan lagi banyak event nih. Memang harus benar-benar saving. Itu pasti. Kedua, memang benar bahwa walaupun gue belum menemukan apa itu, tapi memang harus ada hal lain yang kita lakukan yang bisa menjadi income buat kita di luar main– nya kita dan itu memang harus wirausaha. Jadi nggak bisa kita kerja lain di luar bidang kita. Tapi tetap kerja sama orang karena biar gimanapun kalau buat gue adalah kita ternyata tidak bisa menggantungkan hidup kita sama siapapun termasuk pemerintah. Keadaan berangsur membaik, sudah mulai banyak taping-taping secara online termasuk di dunia musik. Apakah usaha yang sebelumnya loe jalankan masih berjalan? Tentu tidak, saya makan sendiri sekarang. Nggak euy. Justru itu, makanya jeleknya gue adalah tadi balik lagi. Ketika gue, sekarang gue lagi banyaknya investasi lebih. Jadi bukan usaha sesuatu tapi ketika sekarang gue punya penghasilan gue investasi buat sesuatu. Tapi tidak menutup bahwa gue membuka sekarang ini ya. Sementara ini ya harus sih harus memang. Pengin kepikiran tapi masih mempertimbangkan antara membuka usaha di luar yang gue kerjain sekarang atau masih berhubungan. Ya plus minusnya kalau yang masih berhubungan ketika pandemi jatuh, jatuh semua. Cuma kalau mencoba sesuatu yang baru nah gue harus lebih banyak belajar aja sih. Lebih banyak tau. Jadi sekarang yang paling cepat bisa dilakukan sebetulnya lebih ke investasi sih. Jika pandemi berlalu dan rutinitas biasanya sudah kembali semula. Apakah loe berpikir untuk membuka usaha lain? Kepikiran tapi belum tau apa. Antara gue mau bikin usaha di dalam industri gue sendiri contohnya buka penyewaan clear com (HT). Itu masih bagian area gue atau gue bikin di luar itu. Gue balik ke kuliner, gue belajar lagi. Kalau kepikiran, kepikiran. Tapi sampai saat ini belum menjalankan. Lebih kayak gitu sih. Harus, harus karena ya tadi gue harus punya sesuatu yang lain ketika amit-amit. Amit-amit jangan deh pandemi terjadi lagi atau apapun terjadi lagi harus siap. Lebih siap. Bagaimana loe memaknai Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret? Buat gue, Hari Musik Nasional itu saatnya kita mengapresiasi apapun yang berhubungan dengan musik. Tidak hanya karyanya saja. Tapi semua elemen yang ada di situ dan karena gue jadi bagian di dalamnya jadi tau gitu bahwa musik itu turunannya banyak banget. Banyak banget dari mulai tadi yang karyanya, artisnya, dan elemen lainnya sampai orang-orang event kayak gue sampai pekerja-pekerja lain. Jadi, Hari Musik Nasional tuh saatnya kita mengapresiasi. Apalagi kita yang hidupnya di situ. Dan pastinya kalau buat gue tahun ini pasti akan sangat berbeda yah. Cara kita mengapresiasi Hari Musik Nasional itu karena mungkin kita malah jauh lebih menghargai, jauh lebih tau bahwa ya itu adalah sesuatu yang harus kita apresiasi banget gitu musik dan semua elemennya.

1
2
3
4
5
Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

16 Pertanyaan: Enzy Storia

Kemunculan Enzy Storia membawa single perdana “Bila Aku Jatuh Cinta” menjadi awal dari keseriusan perjalanan bermusiknya. Ia mengaku, bukan tak ingin langsung menghadirkan lagu yang berbeda. Melainkan saat itu ada proyek musik untuk cover …

Asteriska Membawa Single “Ibu Pertiwi” untuk Bumi

Apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan kecintaan terhadap bumi telah diungkapkan oleh Asteriska baru-baru ini lewat single terbarunya berjudul “Ibu Pertiwi”. Single ini kabarnya pembuka bagi mini album berisi empat lagu yang ia beri …