Di Balik Layar Hari Musik Nasional: “Survive di Masa Pandemi”

551

 

3. Boby Endrasworo – Kru dari MALIQ & D’Essentials

Dok: Boby Endrasworo.

Apakah loe kehilangan pekerjaan saat pandemi corona datang? Dibilang kehilangan pekerjaan enggak. Cuma ke- pending aja pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya. Gue rasa nggak cuma gue aja kali ya. Banyaklah teman-teman yang  lain, yang di bidang-bidang lain pun banyak yang tertunda kerjaannya gitu kan. Bagaimana cara loe bertahan dan berapa lama proses bermanuver agar tetap mendapat pemasukan selain dari musik? Cara bertahannya ya gue harus nyikapinnya harus dengan sebisa mungkin dengan bijaklah karena kalau gue mikirnya yang ini itu akan kembali ke diri gue sendiri akhirnya. Cari tahu dulu infonya. Ini apa sih. Pandemi ini apa, virus corona itu apa. Gue cari tahu dulu informasinya. Seiring berjalan cari tahu. Baru kita pikirin cari solusinya apa.Ya sudah pada intinya saat ini kan, anggaplah ini bencana yang global bisa dibilang. Nggak cuma diri gue atau teman-teman yang lain. Gue pikir gue harus menyikapi dengan menerima keadaan. Gue harus bisa terima. Mungkin nggak cuma ini kali ya. Negara kita saja goyang karena nggak mampu menjawab itu semua. Gue coba menyikapinya bijaksana. Gue berpikir jernih gimana caranya nih kehidupan harus berjalan. Mau nggak mau gue harus banting stir. Apa saja coba gue lakuin. Yang tadi biasanya gue narik-narik troli alat (peralatan band) segala macam karena keadaan ini jadi nggak bisa tuh. Sudah harus terus cari peluang, cari jalan terus pasti ketemu deh. Nah, gue baru ketemu tuh sekitar 2-3 bulan setelah pandemi karena dua bulan di awal pandemi isu virusnya mematikan. Orang juga ngeri kan. Wah nih virus mematikan. Tapi berjalannya waktu kan, informasi masuk terus. Ternyata begini. Pemerintah bikin peraturan begini. Kita ikutin aturan pemerintah. Kita cari celah dari situ deh. Apa usaha yang dijalani? Gue kemarin sempat buka usaha dagang sate taichan karena kebetulan ada saudara, yang gue pernah coba makanan. OK nih gue bilang dan untuk makanan OK dia punya taste. Dan satu makanya gue berani untuk jalanin usaha makanan karena makanan doang yang kita nggak bisa download. Iya dong? Mau nggak mau kita harus makan ya nggak. Harus ketemu fisiknya. Bagaimana strategi loe menjalani usaha tersebut? Via online, gue masuk lewat Go-Food juga kemarin sambil manfaatin social media karena usaha kita baru. Pokoknya segala peluang. Bahkan gue maunya masuk mal karena kita kan dagang jualan. Jualan mah di mana aja. Masih berjalan usahanya? Sampai saat ini masih berjalan, cuma kondisi saat ini yang buat gue harus istirahat dulu sebentar. Sate taichan kan cenderung dengan sambal yang pedas. Harga cabe sekarang 150 ribu. Akhirnya untuk sementara gue harus berpikir juga kalau gue jalanin terus risiko juga karena satu kilogram bisa buat dua ekor ayam. Jadi, untuk sementara gue pending dulu karena babak belur juga ngadepinnya. Jika pandemi berlalu dan rutinitas biasanya sudah kembali. Apakah usaha yang loe bangun di masa pandemi akan terus berlanjut? Gue berharapnya terus lanjut. Begitu nanti pandemi selesai, gue mau terus jalani karena ini peluang. Peluang yang bagus. Bagaimana loe memaknai Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret? Kalau dari gue terus aja berkarya sebagai seniman. Berikan karya terbaik buat bangsa. Hasilnya biar mereka yang nilai. Kuncinya untuk para seniman, jangan putus asa.

 

Baca juga:  The Monophones, A Voyage to the Velvet Sun: Sekali, Berkesan Selamanya

4. Davian Akbar – Fotografer dari Barasuara

Dok: Davian Akbar.

Apakah loe kehilangan pekerjaan saat pandemi corona datang? Kehilangan banget sih pasti sih. Awal-awal tuh kemarin Maret pertengahan ya 2020 kemarin. Benar-benar sama sekali tugas hilang semua, mulai satu satu di- cancel. Terus ya sudah mulai bingung kayak, satu minggu sampai tujuh minggu pertama masih OK lah. Ya sudah libur dulu aja mungkin ya. Tapi ketika sudah penghujung Maret, sudah mulai mikir nih. Ini gimana caranya supaya tetap dapat penghasilan. Akhirnya, gue bikin sama teman gue. Teman gue kan kebetulan kerja karyawan kantor. Mereka juga kena PHK. Akhirnya gue mikir “coba dagang kali ya?”. Gue awal-awal tuh sempat kepikiran dagang si masker kain tuh. Sampai akhirnya masker sudah jalan. Nyoba lagi nih, ketemu sama teman gue lagi. “Mau coba bisnis lain nggak?”. Lemon peras sendiri. Kita belanja lemonnya, kita peras sendiri. Jalanlah si lemon itu. Ada kan sebulan tuh (April-Mei) produksi si masker dan lemon itu. Strategi pemasarannya? Gue nggak pernah mikirin sih. Dagang itu kan ada bagian-bagiannya. Loe urusan ngambil si barangnya, ada bagian yang meresinnya, gue bagian marketing. Jadi bisnis selama corona ini, gue selalu di marketing karena gue bisa mengandalkan Facebook dan Instagram. Social medianya gue yang pegang. Akhirnya, loe mau dagangnya kayak gimana nih. Gue research. Pas dagang lemon, gue searching nih, orang tuh dagang lemon kayak gimana sih? Karena gue sebelumnya nggak pernah dagang lemon ataupun masker kan. Nah, karena gue orangnya nggak pernah ngomong ‘baik’ ya [tertawa], gue suka ngomong kasar, gue bilang “sudah sini gue yang ngurus deh”. Ya sudah, gue cuma taruh (lemon) di meja , gue post, “beli dong lemon gue anj**ng”. Gue gituin saja. Iseng doang awalnya, ngetes. Ini DM-DM yang masuk, bagaimana sih responnya. Pas gue lihat, cuma balas pada ketawa-ketawa saja, nggak ada yang beli [tertawa]. “Loe dagang lemon gini banget sih bro, kocak”. Gue nggak mikirin itu dulu. Ya sudah, akhirnya gue bikin pakai hashtag tuh, hashtag LemonAJG. Jadi dulu orang kalau ngatain gue LemonAJG gitu. Akhirnya gue iseng ngerapihin templatenya di Instagram, akhirnya gue bikin trademark itu si LemonAJG. Lumayan lah, pembelinya sudah ada. Terus akhirnya gue iseng lagi, cara ordernya gimana sih. Gue bikin tuh template lagi. “Bang, mau order lemon hashtag AJG dong.” Dan akhirnya setelah itu, yang masuk ke gue sekarang formatnya itu. Iseng-iseng doang sebenarnya. Jika pandemi berlalu dan rutinitas biasanya sudah kembali. Apakah usaha yang loe bangun di masa pandemi akan terus berlanjut? Terus sih. Sebenarnya kan maksudnya yang gue bangun banget itu kan si lemon, alhamdulillah masih jalan gitu. Ya kalau misalnya mereka lagi down gitu, gue tetap ngebantu, ngepromoin lagi. Nah kalau misalkan Garasi Pekayon sih, alhamdulillah, jauh sebelum gue masuk, mereka sebenarnya sudah jalan. Tetap berlanjut. Maksudnya, gue masih senang untuk di luar motret ya di Instagram. Bagaimana loe memaknai Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret? Musik kan sudah jadi bagian hidup gue sehari-hari sebagai fotografer. Ketemu sama siapapun yang ujung-ujungnya di musik juga. Misalkan gue lagi ikut klien baru, pas gue masuk video, yang ngerjain itu-itu lagi, yang berdekatan dengan musik, dia-dia lagi. Jadi sebenarnya ya, mau siapapun klien gue mau itu yang baru atau lama, di dalamnya ketemunya ya itu-itu lagi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments