Di Balik Layar Hari Musik Nasional: “Survive di Masa Pandemi”

551

 

5. Rifanda Putri – Manajer dari ‘.Feast’

Dok: Rifanda Putri.

Apakah loe kehilangan pekerjaan di masa pandemi? Kalau kehilangan banget sih sebenarnya enggak. Kayak gue masih salah satu yang lumayan beruntung dan Alhamdulillah juga gue masih kerja, dan masih digaji juga. Cuma memang ada beberapa per- forecast– an duit gue lumayan berantakan karena awalnya adalah dari forecast gue itu ada hitungan pemasukan buat panggungan. Which is beberapa panggung yang memang sudah fixed dan sudah ada tanggalan sebelumnya. Nah, tapi ternyata setelah ada pandemi ini ternyata forecast itu semuanya panggungan nggak jadi. Ada yang minta dibalikin DP- nya lah, berapa persen dan segala macam. Ada yang cancel lah. Jadi agak lumayan berantakan. Jadi semua itu gimana caranya gue menanggulangi si plan forecast gue dengan cara gue mencoba usaha makanan. Bagaimana cara loe bertahan di masa pandemi dan bermanuver selain dari musik? Sebenarnya sih sekarang juga masih struggling ya. Kayak masih mencari-cari cara, kayak gue harus ngapain lagi ya biar ada duit lagi nih. Cuma sekarang sudah ada beberapa, kayak virtual concert, mungkin memang nggak seperti sebelumnya. Cuma sudah lumayan berasa. Maksud gue adalah cari cara lain dengan jualan cookies (Kuki Wacky) sama satu lagi jualan sambal. Tapi jualan sambal itu masih on progress, kita masih ada beberapa yang mesti dikelarin.Ya, hopefully sih bulan depan lah gue sudah mulai jualan lagi. Jadi makanya gue mencari cara, jualan cookies kayaknya masih kurang. Akhirnya, gue coba cari cara lain deh. Gue jualan apa lagi nih supaya bisa menutupi beberapa hal-hal yang harus gue bayar untuk menghidupi gue. Bagaimana strategi loe menjalani usaha tersebut? Itu gue lumayan agak burning juga sih. Soalnya kan gue memang ngirim ke beberapa teman-teman gue yang memang into sama makanan kan. Kayak mereka tuh suka makan ini, dan gue benar-benar cari orang yang “loe cobain deh, menurut loe enak nggak?”. Mungkin sudah ada beberapa ratus orang lah sudah gue suruh cobain cookies gue itu. Terus kan tiap gue mau rilis new variant gitu gue harus ngirim ke mereka dengan secara cuma-cuma. Dengan gue dapat feedback, dapat input, gue kurang apa, dan segala macamnya. Jadi memang lumayan agak burning, itu salah satu bentuk strateginya sih. Harus ngasih ke orang-orang yang bisa ngasih feedback mengenai jualan gue ini. Jika pandemi sudah berlalu, rutinitas biasanya sudah kembali. Apa usaha loe terus berlanjut? Masih sih. Bahkan kayaknya kalau misalnya ini (pandemi) berakhir kayaknya gue pengin ada offline store juga. Kalau misalnya gue ada rezeki, gue mau buka offline store yang memang day by day orang bisa datang dan orang bisa makan di tempat, segala macam. Ya, itu salah satu mimpi orang-orang juga sih kayak punya toko sendiri, orang bisa dine-in segala macam. Mungkin sekarang masih agak risky karena masih ada beberapa yang mungkin takut blend-in, maunya cuma grab and go doang dan take away. Jadi kayak buat sekarang pun gue malah nggak kepikiran untuk bikin offline store karena benar-benar masih riskan banget. Tapi kalau setelah pandemi ini gue pengin banget punya offline store. Bagaimana loe memaknai Hari Musik Nasional? Kalau sekarang gue masih kayak memikirkan industri kayak lebih menghargai orang-orang yang masih struggling yang masih hidup dari musik yang memang full time– nya dari musik. Terutama crew yah yang mungkin sangat terdampak. Gue sih malah penginnya kita semua ini mencoba untuk kayak membantu beberapa crew terutama yang memang butuh bantuan. Kita sebagai musisi atau kita yang masih punya privilege malah kita gimana cara kita bisa membantu teman-teman yang sebelumnya memang full time di musik. Gue penginnya kayak kalau kita mikirin terus kapan manggung offline nggak ada yang bisa jawab juga. Jadi dari kitanya gimana cara kita bisa gerakkin industri terus bertahan. Kita sama-sama saling bisa bantu.

Baca juga:  Perjalanan Band Metal Indonesia Di Panggung Wacken Open Air
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments