49

EARHOUSE SONGWRITING CLUB: Saksi atas Karya yang Lahir Setiap Minggu

Setiap hari Senin malam, saya selalu bersemangat untuk Earhouse Songwriting Club. Ini adalah kegiatan rutin mingguan bagi para penulis lagu untuk berkumpul di Earhouse, kedai kopi sederhana milik saya (Endah) dan Rhesa, dari duo musik Endah N Rhesa. Bertempat di sudut ruko Pasar Kita (Pasar modern Pamulang) Tangerang Selatan. Kegiatan ini gratis tak berbayar, terbuka untuk semua orang, dan tidak mengikat.

Tak terasa, Earhouse Songwriting Club sudah lima tahun berjalan. Banyak yang datang, tak jarang pula yang ‘terbang’. Demikian istilah yang saya pakai untuk mereka yang sibuk hingga tak sempat datang, atau sudah menjadi musisi beneran.

Suasana workshop penulisan lagu di Earhouse / foto: Earhouse

Setiap minggu ada saja wajah-wajah baru muncul. Wajah lama juga ada yang bertahan bulanan, bahkan hingga tahunan. Mereka berkumpul dengan berbagai alasan. Ada yang memang ingin belajar menulis lagu, cari teman baru, motivasi berkarya setiap minggu, dan alasan-alasan lainnya. Yang jelas, tidak pernah ada jaminan apakah lagu yang dihasilkan akan sukses, laku, dan hits dipasaran. Ya, ini hanya komunitas untuk bersenang-senang dan untuk nasib, tetap Tuhan yang menentukan. Haha!

Jika gitaris melakukan fingering, penyanyi melakukan vocalizing, maka tak ada jalan lain bagi penulis lagu untuk terus latihan menulis

Lima tahun lalu, saya menggagas kegiatan rutin ini di Earhouse semata-mata untuk mencari teman sesama penulis lagu. Seperti layaknya berteman, inginnya bisa berbagi kisah, cerita, bertukar pikiran, berbagi sudut pandang, semua dalam bentuk karya. Kemudian, kita menentukan PR untuk dikerjakan dan kemudian dimainkan di minggu mendatang. Ya, setiap minggu selalu ada tantangan yang membuahkan hasil lagu baru pada pertemuan berikutnya.

Baca juga:  Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan
kumpul-kumpul nulis lagu / foto: dok. Earhouse

Menurut saya, menulis lagu itu perlu dilatih. Sama seperti latihan gitar, vokal, dan instrumen lainnya. Jika gitaris melakukan fingering, penyanyi melakukan vocalizing, maka tak ada jalan lain bagi penulis lagu untuk terus latihan menulis. Perkara mau dijadikan apa lagunya itu urusan belakangan. Kegiatan rutin seperti ini sangat bermanfaat untuk menstimulasi kreativitas agar ia tidak mandek.

Jujur saja, saya tidak pernah mempengaruhi teman-teman yang ikut komunitas ini untuk terjun sebagai musisi atau penulis lagu profesional. Mau jadi apa dan diapakan lagunya itu menjadi keputusan masing-masing orang. Menurut hemat saya, menulis lagu bisa dilakukan siapa saja apapun latar belakang, profesi, atau pekerjaannya. Ketika lagu direkam, dipublikasikan dan kemudian ada efek ekonomi, itu hanya sekelumit dari segudang manfaat menulis lagu. Sungguh menyedihkan apabila itu menjadi satu-satunya hal yang dikejar saat menulis lagu karena bisa menutup mata atas keuntungan-keuntungan lain yang bisa kita dapatkan manfaatnya dari kegiatan ini.

Baca juga:  Menjadi Indonesia: Nasionalisme Banal Ketika Tur Luar Negeri
Menulis lagu menjadi fun di Earhouse Songwriting Club / foto: Earhouse

Kegiatan menulis lagu memiliki banyak fungsi. Ia bisa menjadi sarana berekspresi, luapan emosi, tempat untuk berkomunikasi, sebagai media pendidikan, menyampaikan pesan, bersosialisasi, dan sebagainya. Seperti halnya Paduan Suara Dialita yaitu kelompok ibu-ibu yang bernyanyi yang merupakan para penyintas Tragedi 1965. Paduan suara ini dikenal menyanyikan karya-karya yang mereka tulis di penjara saat menjadi tahanan politik. Tujuan mereka menciptakan lagu dan bernyanyi adalah untuk menjaga kewarasan, supaya tidak gila, dan terus menjaga semangat hidup.