Eksistensi Sebuah Band oleh Ramadhista Akbar (Nidji)

Jun 15, 2021
Eksistensi Band

Masih belum pudar dibenak dan kerap jadi perbincangan orang-orang tentang sebuah band yang berasal dari almamater sebuah kampus seni di daerah Cikini yang berinisial “N” menyatakan diri untuk bubar.

Kaget, sedih, kecewa, ini sebagian dari reaksi orang-orang yang mendengar berita ini,  banyak yang masih gak percaya kejadian ini bisa terjadi dengan band sekelas
“N” yang umur perjalanannya bisa dibilang sudah sangat mapan sebagai band di industri musik.

Tapi dibalik itu semua, sebenarnya kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya band itu sendiri yang tahu sebabnya.

Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan sebuah band berhenti berkarya bahkan bubar, baik faktor dari luar band ataupun dari tubuh band itu pun sendiri. Kita sebagai pengamat yang duduk di kursi penonton hanya bisa menerka-nerka dengan begitu banyak analisa dari berita yang kita dengar.

Gue Ramadhista Akbar dari Nidji, band ini tahun depan usianya dua puluh tahun. Apakah mudah menjaga sebuah eksistensi band? Jawabannya tentu tidak, apalagi semua ini berhubungan dengan karya seni dan manusia yang punya indra perasa sebagai bagian dari brand itu sendiri

Khusus di rubrik Musisi Menulis ini, gue mau sedikit berbagi pengalaman dari apa yang udah gue lakukan, meskipun mungkin ini belum tentu sama seperti pengalaman band-band lainnya.

Sebenarnya apa aja sih variabel atau faktor yang diperhitungkan untuk menjaga sebuah eksistensi band?

Pertama, jelas bandnya itu sendiri. Bisa dibilang ini elemen yang paling penting atau krusial, apalagi chemistry antar personil, yang  juga paling utama.

Kalo diingat-ingat di early days ngeband, yang bisa bikin barengan ‘se-frekuensi’ itu antara lain pertemanan yang mempunyai kecocokan, baik di passion dan spirit, selera musik, visi bermusik tak terkecuali tongkrongan yang sama

Lalu seiring berjalannya waktu, sifat atau karakter manusia pun bisa berubah, apalagi menyatukan kepala yang banyak dalam sebuah band. Ibaratnya nih kalo pacaran atau suami istri aja yang cuma berdua sering beda pendapat atau berantem, nah coba bayangkan gimana yang lebih dari dua orang, pasti mumet!! Tapi ya menurut gue disitulah seninya.

Perubahan yang tadi gue singgung tadi biasanya kerap terjadi setelah masuk industri, terkhusus kalau menurut pendapat gue yah biasanya setelah album pertama.

Gue selalu mengibaratkan album pertama sebuah band itu adalah ‘dokumentasi chemistry’, energi interaksi antar personil yang emang jujur dan tulus apa adanya

Kenapa gue bisa bilang begitu, kalo gue berkaca dengan diri sendiri, dulu ketika album pertama gue dan anak anak hanya berpikir cuma untuk masuk studio, rekaman dengan karya lagu sendiri dan kondisi alat apa adanya tanpa berpikir teknis yang berat.

Masuk ke dalam industri, setelah album pertama disitulah cobaan dimulai. Di tahap ini kita harus menaikan diri untuk saling toleransi dan menghargai satu sama lain.

Berbagai perubahan terjadi: Dari yang orang nggak kenal sama kita jadi tiba-tiba orang tahu kita, ego yang semakin sensitif juga tinggi dan tentu tak terkecuali masalah finansial kadang juga bisa memantik perdebatan.

Ada hal yang menarik: seiring jadwal yang semakin padat yang di satu sisi memang membuat kesehatan finansial makin bagus namun ternyata di sisi lain justru terkadang itu malah bisa bikin gak sehat secara fisik dan mental. Hal ini yang juga kadang membuat renggang hubungan antar personil. Dampaknya kongkret: tiap personil mungkin hanya bisa ‘ketemu’ di konteks pekerjaan saja, bukan berdasarkan pertemanan lagi.

Dari sini gue mencatat: Saling berkomunikasi dalam sebuah band itu penting, ketika kita sudah lupa akan saling menghargai antar sesama, disitulah masalah akan timbul.

Yang kedua untuk menjaga eksistensi band adalah tentu mempunyai manajemen / manajer yang bisa me-manage bandnya dengan baik. Ini elemen penting berikutnya setelah band-nya itu sendiri.

Pengaturan yang baik dengan memanfaatkan potensi juga tau arah visi bandnya kemana, peran serta manajemen amatlah penting selain tentunya mencari pekerjaan untuk bandnya. Seorang manajer juga harus lihai mengakomodir masing-masing personilnya juga sebagai jembatan antar personil dengan netral.

Kalo boleh jujur sih, sedikit intermezzo, gue justru lebih pusing ketika waktu itu manajer gue mengundurkan diri dibanding vokalis lama gue yang cabut.

Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena pada dasarnya ketika sistem manajemen udah jadi, kontak-kontak klien semua ada di manajemen, semua sistem sudah settled, begitu hilang kita malah harus reset lagi dari awal dan, to be honest, itu bikin pusing.

Di sini kita bisa lihat peran manajemen/manajer sangat penting menjaga eksistensi band. Band sebesar Slank dengan manajemennya adalah salah satu contoh konkret bagaimana band bisa terus berevolusi, eksis dan beradaptasi dengan segala perubahan jaman.

Lewat film dokumenter Coldplay yang pernah gue tonton,  jelas terlihat kunci dari band Coldplay seutuhnya ada di sosok Phil Harvey, manajernya.

Bertahun-tahun, Phil menjadi penengah dari personil Coldplay. Chris Martin bahkan sempat mengatakan bahwa Coldplay akan bubar ketika manajernya keluar. Ini membuktikan pentingnya peran manajer / manajemen memang krusial untuk eksistensi band bahkan sampai setua U2 atau The Rolling Stones.

Sebagai penutup yang manis, berangkat dari manajemen dan komunikasi yang baik, saling menghargai dan mendengarkan satu sama lain layaknya seperti di tongkrongan jaman dulu, gue merasa sebuah band akan bisa eksis dan berkarya bersama terus, bahkan sampai tua.

_____

Penulis
Ramadhista Akbar
Ramadhista Akbar adalah gitaris band Nidji. Bersama Nidji, dirinya sudah membuat beberapa buah album dan soundtrack. Di luar Nidji dan bermusik, pria yang punya hobi broadcasting dan traveling juga punya profesi lain yaitu sebagai seorang penyiar.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Daftar Musisi Berzodiak Scorpio

Kami pun mencatat siapa musisi berzodiak Scorpio yang berulang tahun di antara tanggal 23 Oktober sampai 21 November, antara lain Iwa K hingga Titiek Puspa.

Merindu NAIF Bersama Diskoria, Isyana Sarasvati dan Ardhito Pramono

Studio Pop kembali lagi, masih dengan sebuah kolaborasi kejutan, juga ditemani dengan sebuah tribut yang spesial untuk NAIF.