Eksplorasi Bermusik: Sebuah Momok Bagi Musisi?

717
Ilustrasi @abkadakab

The Beatles butuh sekian tahun untuk mengubah total musik mereka di Sgt Peppers, Brian Wilson menjadi liar di album Pet Sound. Sementara Velvet Underground kadung nakal sejak lahir, lebih tepat lagi di album debutnya. Eksplorasi menjadi momok sekaligus mimpi basah para musisi. Mengapa banyak musisi takut untuk bereksplorasi?

Lewat Masa-masa, The Adams melakukan eksplorasi dalam pendekatan musiknya, salah satunya lewat notasi dan melodi yang keriting atau aransemen yang belak-belok. Iyalah, menunggu 13 tahun, mengapa hanya membuat album yang biasa-biasa saja?

The Adams, 2019 / foto: Pohan

Lewat Mantra Mantra, musisi Kunto Aji justru menjadi amat santai dan layu (baca: laid back), ibarat mengajak kita duduk sofa, sekadar bermalas-malasan, meski demikian notasinya masih bisa ketebak. Namun dibandingkan dengan Generation Y, eksplorasi musik di Mantra Mantra sudah tepat guna (jangan lupa permainan frekuesi suara yang aduhai). Keren maksimal!

Cover album Kunto Aji – Mantra Mantra.

Ada banyak bukti eksplorasi musik yang dibuat musisi Indonesia dari jaman ke jaman. The S.I.G.I.T. lewat album konsep Detourn yang sangat ‘tak sing-along‘ itu membuka mata fans bahwa mereka enggan dicap sebagai band yang crowd pleaser belaka, rocker-rocker kota Kembang ini sejatinya adalah musisi yang haus akan percobaan-percobaan yang hacep. Jauh sebelum itu, kebanggaan Bandung lainnya seperti Pure Saturday lewat album Utopia menjadi tak populer dengan sound-sound shoegaze yang dibawa band yang kadung ngetop lewat sound jangly ala The Cure dan Ocean Blue.

Bicara soal eksplorasi yang keren, saya harus angkat topi kepada Musik Pop dari band jazz/groove Maliq & D’Essentials. Album yang ‘bukan Maliq’ menurut definisi pribadi saya ini adalah contoh dari langkah sebuah band yang resah mencari batasan-batasan kemampuan menggurat-gurat komposisi musik tanpa batas. Membawa tinggi musik mereka sampai ke ubun-ubun bumi. Sayangnya, meski kemudian Musik Pop sudah digrafir sedemikian kerennya, band ini masih belum pede untuk memamerkannya ke atas panggung (perkecualian untuk “Himalaya”-satu track yang paling easy listening di album ini). Saya geregetan!

Kilas balik sedikit, saya ingat ketika pertama kali mendengar album Propaganda (2000) dari band bernama Waiting Room. Band yang terkenal sebagai band ska/punk lewat album Buayaska (1997) ini mendadak ber ‘acid jazz ria’ di album ini. Meski 3 tahun, namun band ini tak butuh banyak album untuk bereksplorasi. Hasilnya? Saya lupa, mungkin band ini kehilangan penggemar jaman ska dulu. Atau album Rotor yang paling ‘tidak thrashmetal’ seperti Menang (1997), yang sulit dikunyah. Gagasan industrial rock yang mungkin jaman itu mungkin tidak populer.

Ataukah eksplorasi bagi sebagian musisi mungkin dianggap sebagai momok? Kalau iya, ini mungkin menjadi alasan banyaknya band yang enggan untuk mengubah wajah musik mereka, baik sebagian apalagi total. Ada banyak pertimbangan menyertainya, dari takut albumnya nggak laku, takut dikritik – atau yang paling parah – pelan-pelan ditinggal penggemar. Apa iya?

Menjalankan eksplorasi dalam mencapai kesempurnaan sebuah karya musik memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif musisinya.

Kalau itu alasannya, mungkin saja Tulus, Payung Teduh atau Fourtwnty misalnya adalah band enggan (atau malas) bereksplorasi daripada zona nyaman mereka terganggu. Kendornya energi musisi akibat jadwal-jadwal panggung yang dihabiskan rapat selama setahun ditengarai menjadi alasan minimnya sebuah eksplorasi musik di sebuah karya musik.

Padahal, jika mengikuti prinsip klasik yang dianut Efek Rumah Kaca, ‘pasar bisa diciptakan’ seharusnya momok itu nihil. Oiya, bicara Efek Rumah Kaca, saya suka manuver eksploratif di Sinestesia. Pendekatan ‘album konsep’ yang didasarkan atas komposisi warna tiap lagu berdurasi panjang ini mungkin awalnya bukan upaya populis bagi penggemar band yang senang ber-sing-along atas lagu-lagu lepasan yang pendek durasi. Meski demikian, karya-karya Sinestesia masih bisa diapresiasi sampai sekarang. Lalu dimana momoknya?

Efek Rumah Kaca. dok. istimewa

Banyak musisi dan band hari ini hadir dengan beragam ekspresi yang menarik. Namun saya ragu apakah mereka lantas bisa sebegitu bebasnya melakukan eksplorasi musik di perjalanan album mereka atau mereka lantas terbuai -jika tidak terperangkap-dalam karya-karya indah mereka dan buaian jadwal panggung dan apresiasi fans.

Menjalankan eksplorasi dalam mencapai kesempurnaan sebuah karya musik memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif musisinya. Apapun alasannya, musisi berhak melakukannya atau tidak. Karena subyektif, saya pun berpendapat jika eksplorasi musik adalah hal yang penting dilakukan musisi. Bahkan lebih dari itu, eksplorasi musik adalah kewajiban sejati dari musisi dalam berkarya.

Balik lagi ke pertanyaan besar di tajuk. Sebuah pertanyaan yang lebih tepatnya ditujukan untuk segenap musisi yang membaca tulisan ini.

 

____