82

Resensi : Harlan Boer – Bila Lapar Melukis

sampul album Harlan Boer - Bila Lapar Melukis.

Album kedua yang menyentuh relung hati, rekaman lagu pop yang rentan bikin meleleh

Artist: Harlan Boer
Album: Bila Lapar Melukis
Label: Langensrawa
Peringkat Indonesia: 9/10

Selalu ada alasan tertentu untuk menyukai karya-karya dari Harlan Boer. Entah karena kesederhanan musik dan aransemennya, elemen visual covernya atau karena lirik-liriknya yang simpel-kadang-nyeleneh. Saya sudah ikuti perjalanan eks vokalis C’Mon Lennon ini dari lagu-lagunya tak luput dari pendengaran saya tak berada di ibukota (dinas luar kota ini tak menghentikan saya mengikuti musik-musik tanah air).

Secara klise, saya harus menyebut album kedua Harlan makin matang. Matang di segala lini – ya liriknya, ya eksplorasinya, ya semua sepuluh-sepuluh lagu yang ada dalamnya. Album ini lebih mudah dicerna oleh awam sekalipun. Tidak ada itu lagu-lagu yang nyelenehnya berlebihan seperti pada “Lupa” atau “Kerja itu Liburan” di Operasi Kecil. Kalau pun ada, eksplorasinya amat minim, atau amat terukur dan seperti hati-hati sekali, seperti sekadar ‘suara gitar yang meleleh’ di “Berlayar” atau ada cerita seru apa di balik “Biologi Elektronik”.

Baca juga:  Lapar? Saran Harlan Boer Melukis dan Tur Saja

Siapa yang tak tak tersentuh mendengar kata-kata “Perang Kita begitu seru, menguasaiku,” lagu tentang perang batin dalam “Perang” yang terngalun sendu. Sementara “Jatuh Cinta Diam-Diam” yang amat Koes Plusque itu benar-benar membuat saya kesengsem jatuh cinta oleh lagu cinta yang tak terdengar seperti lagu cinta yang bersalah untuk didengarkan.

Tidak ada alasan untuk tidak mencintai karya-karya Harlan Boer. Bagi awam, jalan cinta nya sudah ada: Dua album penuh dan sekian banyak mini album berceceran, terserah mau mulai dari mana. Dari karya-karya super-eksploratif di Operasi Kecil atau empat rangkaian EP klasiknya, masih banyak waktu untuk menyelami perjalanan musisi eksentrik dan produktif ini.