Fake Merch: Semua yang Palsu Itu Menyakiti Idolamu

Oct 19, 2023

“Musisi itu sudah kaya, ngebotleg satu dua karya nggak bikin mereka miskin,” ide ini pernah saya yakini bertahun lalu, ketika pertama kali menyadari mencari merch Linkin Park di Jember 2004 adalah hal yang nyaris mustahil. Di pasar, toko pakaian “sisa impor” menjual kaos gambar cover album Hybrid Theory dan dijual kurang dari 25 ribu saja. Bagus? Lumayan. Palsu? Jelas sekali. Keputusan membeli fake merch itu saya lakukan dengan kegembiraan, upaya melawan “status quo” yang “mapan”.

Kemudian 19 tahun kemudian, setelah menulis tentang bagaimana band-band Indonesia berusaha bertahan hidup sebagai kolektif melalui merch, saya menyadari bahwa ada banyak mulut yang dihidupi dari jual beli kaos band. Ada rasa menyesal, tapi dengan getir saya menepuk dada sendiri, Linkin Park jauh lebih kaya daripada Efek Rumah Kaca, jadi nggak perlu menyesal-menyesal amat.

 

Pembajak Ada Sudah Lama

Dua minggu terakhir saat tulisan ini dimuat, media sosial dipenuhi perdebatan tentang fake merch. Salah satu yang memulai adalah ketika akun sosial media Teenage Death Star, komentar di akun yang diduga menjual fake merch mereka. “Kemarin kebetulan dapet info dari brsk.merchandise. Mereka juga sudah pasti gerah dengan hal ini, karna mereka meraih uang dari penjualan merch yang kami buat. Jadi gw iseng kemarin nyatroni toko itu,” kata Firman Zaenudin, personil Teenage Death Star.

“Musisi itu sudah kaya, ngebotleg satu dua karya nggak bikin mereka miskin,” ide ini pernah saya yakini bertahun lalu, ketika pertama kali menyadari mencari merch Linkin Park di Jember 2004 adalah hal yang nyaris mustahil

Firman memahami bahwa saat ini ia hanya bisa meledek dan komentar di akun penjual akun palsu. Sejauh ini ia bersama teman-teman band lain, berusaha mencari cara agar untuk mengatasi problem merch-merch palsu yang ada. “Dan gw juga tau, mereka (penjual fake merch) biasanya memainkan permainan ini dengan cara menyewa buyer fake untuk memancing pembeli-pembeli lain supaya tertarik untuk beli,” katanya.

Firman Zaenudin menyebut ia dan teman-teman band menyadari kemunculan fake merch dan bootleg ini sejak 2018. “Gw pernah denger selentiran info dari orang-orang terdekat kalo kaos teenage death star sekarang sudah banyak banget yang pake, bahkan cenderung gambarnya tidak sesuai dengan apa yg pernah kita buat,” katanya. Awalnya tentu senang, tapi setelah menyadari itu palsu, Firman mulai gerah juga.

Penjualan fake merch ini tentu memiliki pengaruh langsung pada band. 100 persen keuntungan penjualan sudah dipastikan band tidak mendapatkan royalti. Untuk band besar mungkin ini tidak terlalu berpengaruh, tetapi untuk band-band yang baru merintis atau memiliki personil banyak dampaknya bisa serius. “Karena hasil dari penjualan mereka kan sudah dipastikan gak ada yg masuk ke kita hehe. Pada umumnya sekarang, para musisi itu bisa dibilang pendapatannya selain dari manggung off air yaa dari merchandise itu,” jelas Firman.

Firman Zaenudin Teenage Death Star menyadari kemunculan fake merch dan bootleg ini sejak 2018. “Gw pernah denger selentiran info dari orang-orang terdekat kalo kaos teenage death star sekarang sudah banyak banget yang pake, bahkan cenderung gambarnya tidak sesuai dengan apa yg pernah kita buat,” 

Firman menyadari bahwa sebagai musisi ia juga tidak bisa melarang fans buat membeli merch palsu. Atau bahkan beberapa malah ditipu, mengklaim merch asli tapi bahan, desain, dan kualitas sablon buruk karena palsu. “Sebetulnya kalo gw liat dari sisi baiknya, jika sudah ada produk yang dipalsukan seperti ini, berarti antusias terhadap musisi/band tersebut menjadi lebih dikenal ke khalayak atau masyarakat. Dan so far sih untuk reputasi yg berdampak buruk sih gak ada,” katanya.

Menariknya, berdasarkan riset yang dilakukan pada 2018 oleh International Trademark Association, kepada 4500 anak muda di Indonesia diketahui cara pandang Gen Z dan Milenial terhadap produk bajakan. Dalam temuan itu diketahui bahwa 53% anak muda Indonesia yang disurvei, merasa mereka tidak mampu membeli gaya hidup yang mereka inginkan. 87% di antaranya telah membeli produk palsu dalam setahun terakhir. Dua produk palsu yang paling sering dibeli adalah pakaian, sepatu, dan aksesori.

Ketika ditanya alasan membeli produk palsu, 73% responden mengatakan produk palsu lebih mudah/dapat ditemukan daripada produk asli. Lantas 72% responden berencana untuk membeli lebih sedikit produk palsu di masa depan. Dalam riset tersebut juga diketahui bahwa 90% dari mereka yang setidaknya pernah mendengar tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) percaya bahwa HKI sama penting atau lebih penting daripada hak fisik. 

Berdasarkan riset diketahui cara pandang Gen Z dan Milenial terhadap produk bajakan. 53% dari mereka tidak mampu membeli gaya hidup yang diinginkan. 87% telah membeli produk palsu setahun terakhir. Produk palsu yang paling sering dibeli adalah pakaian, sepatu, dan aksesori

Mereka menyadari bahwa pembajakan itu salah, tapi tetap membeli produk bajakan karena yang asli susah didapat. Lalu bagaimana cara mengatasi hal ini? Saat ini Teenage Death Star sendiri berusaha melakukan pencegahan dengan memperkuat landasan hukum tentang HKI. “Mungkin tahap awal kita akan mendaftarkan nama band dan juga logo band ke DJKI untuk memperkuat legalitas dari sisi hukum. Gw kira itu perlu yah, karena band adalah brand merk untuk jualan kita,” jelas Firman.

 

Bagaimana Merch Dibuat dan Dijual?

Lantas pernah ngga kita tahu bagaimana proses pembuatan merch itu sendiri? Di artikel saya sebelumnya, kita mengeksplorasi proses pembuatan merch dari kacamata band yang menjual merch secara mandiri. Kali ini kita akan cari tahu dari rekan yang bekerja sama dengan membeli lisensi dari band yang diajak berkolaborasi.

Yoppie Irawan atau Jenggot, saat ini bekerja sama bersama Majelis Lidah Berduri untuk memproduksi dan menjual produk merch mereka. Jenggot menyebut bahan baku kaos bisa mahal atau murah tergantung pembuatan. Jika kaos dibuat sendiri, dengan metode membeli kain secara meteran. “Kisaran bahan baku kalo harus bikin kaos sendiri (bukan pakai kaos jadi) sekitaran 25-30rb per piecenya, kaos jadi harga antara 30-40rb per pieces. Untuk sablon kalo pakai DTF bisa murah mas, 10-25rb per pcs tergantung besar desain. Sementara 

Kalo pakai sablon plastisol per kaosnya sekitaran 15-25rb.” kata Jenggot.

Sebagai penjual ia berusaha mengejar HPP di angka 50-60 ribu per kaosnya. Ini mengapa jika ada penjual kaos band marketplace yang jual t shirt di bawah 100 ribu, nyaris sudah bisa dipastikan itu palsu dan bajakan. “Saya pernah nyoba beli kaos merch band luar di salah satu marketplace, penasaran karena sudah jelas fake merch dan jualnya murah. Di marketplace toko bilangnya pake sablon plastisol, ternyata begitu datang sablonnya pake separasi rubber,” kata Jenggot.

Jika ada marketplace yang jual t shirt di bawah 100 ribu, nyaris sudah bisa dipastikan itu palsu dan bajakan. “Saya pernah nyoba beli kaos merch band di salah satu marketplace, karena murah. Bilangnya pake sablon plastisol, ternyata begitu datang sablonnya separasi rubber,” kata Jenggot

Mengapa perbedaan metode sablon atau jenis kaos berpengaruh? Sablon plastisol menggunakan dasar atau base minyak, hasil sablon akan lebih kuat dan biasa dipakai oleh kaos merch band luar. Sementara sablon rubber base-nya air, hasilnya biasa saja. Secara umum memang sama-sama bisa dipakai buat sablon separasi. Hanya saja metode plastisol bisa dimanfaatkan untuk banyak variasi. Misalnya dibuat untuk permukaan kasar atau timbul, dll. 

“Kalo sablon rubber biasanya flat. Nah konsumen kebanyakan rata-rata ga tau perbedaan antara plastisol sama rubber kecuali mereka yang bener-benar tau tentang produksi kaos. Jadi pembohongan publik jelas mudah apalagi yang model jualannya menyasar konsumen kelas bawah,” kata Jenggot.

Menurut Jenggot ada banyak problem etis dari pembajakan, mulai pencurian hak band dan ilustrator yang membuat desain kaos, mereka juga membuat penjual yang asli kelimpungan. Beberapa orang fans mungkin akan memilih beli kaos palsu daripada yang asli karena harga. Sehingga jika dibiarkan, penjual merch asli sangat mungkin mengalami kerugian karena penjualan yang menurun.

Menurut Jenggot ada banyak problem etis dari pembajakan, mulai pencurian hak band dan ilustrator yang membuat desain kaos, mereka juga membuat penjual yang asli kelimpungan. Sehingga jika dibiarkan, penjual merch asli sangat mungkin mengalami kerugian karena penjualan yang menurun

Lantas bagaimana sih merch resmi dibuat? Calon partner biasanya akan mengontak manajer atau perwakilan band untuk memproduksi merch. Disitu akan ada pembahasan tentang desain, jumlah merch, hingga metode penjualan. Beberapa band ada yang mengelola dan menjual merch secara mandiri, seperti Avhath atau Sheila on 7. Tapi ada juga yang menyerahkan pengelolaan merch kepada pihak yang lain.

Misalnya band menyerahkan pengelolaan merch kepada label rekaman, ini yang dilakukan oleh Grimloc Records dan DSSTR Recs. Namun ada pula yang berkolaborasi bersama brand pakaian, seperti yang dilakukan oleh Vearst atau Maternal Disaster. “Kalo saya selama ini dengan proses kerja sama, artinya ada pembicaraan dengan pihak band, kemudian menentukan sistem kerja samanya, bisa royalti, bisa bagi hasil,” kata Jenggot. 

Untuk pengelolaan pihak lain ada beberapa hal yang disepakati. Misalnya jumlah merch, siapa yang membuat desain, jenis kain, hingga bentuk kerja samanya. Royalti merujuk pada berapa persen yang didapat band dari keuntungan penjualan. Misalnya dari harga merch 200 akan didapat angka harga dasar produksi 100ribu, keuntungannya 100 ribu, nah dari keuntungan itu band akan mendapat berapa persen? Jika beli putus maka band akan mendapatkan pembayaran diawal.

Lantas bagaimana sikap dari marketplace? Burhan, bukan nama sebenarnya, adalah pekerja di marketplace dan ia menjelaskan, “Proses verifikasi barang secara offline cukup sulit, terlebih untuk memastikan barang yang dijual adalah barang orisinil. Karena itu, tidak bisa dibedakan antara barang yang betul-betul /asli/original/licensed kecuali dari deskripsi penjual”

Lantas bagaimana sikap dari marketplace? Burhan, bukan nama sebenarnya, adalah pekerja di marketplace. Ia menyebut proses untuk pembukaan toko jual beli di platform sama dengan yang lain. Pada umumnya mereka melakukan pendaftaran toko dan upload barang yang akan dijual serta mendeskripsikan barang yang dijual tersebut. Namun sampai di sini marketplace tidak melakukan pemeriksaan apalagi kontrol, apakah barang tersebut asli atau palsu.

“Menurut saya ini bisa jadi celah yang sampai saat ini belum ada cara yang cukup ideal untuk menangani hal ini, karena apa? Proses verifikasi barang secara offline cukup sulit, terlebih untuk memastikan barang yang dijual adalah barang orisinil. Karena itu, tidak bisa dibedakan antara barang yang betul-betul berkualitas/asli/original/licensed kecuali dari deskripsi penjual,” katanya.

Pihak marketplace juga kesulitan melakukan deteksi, karena banyaknya jumlah barang yang masuk, mereka juga kesulitan memeriksa dan mendeteksi seperti apa bahannya. “Untuk penjual seperti ini pun menurut saya akan ditindak apabila ada laporan, bentuknya bisa barang yang di-suspend dari toko,atau penonaktifan toko. Tapi harus ada laporan terlebih dahulu,” katanya.

Pekerja marketplace ini, menyebut sangat sulit bagi mereka untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan jika tidak memiliki pemahaman soal merch dan band itu sendiri. Karena lagi-lagi, tidak semua orang memiliki interest yang sama untuk hal ini

Pekerja marketplace ini, menyebut sangat sulit bagi mereka untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan jika tidak memiliki pemahaman soal merch dan band itu sendiri. “Karena lagi-lagi menurut saya, tidak semua orang memiliki interest yang sama untuk hal ini. Secara sistem pun agak sulit dilakukan pendeteksian secara otomatis untuk membedakan mana barang yang asli atau pun tidak orisinil,” katanya.

Untuk itu, pihak marketplace mengajukan dan menyarankan setiap ada barang palsu atau fake, untuk segera melakukan pelaporan. “Jadi sebetulnya dari platform tuh emang harus nunggu ada laporan dulu kalo soal barang bootleg, tindakannya bisa berupa penonaktifan barang di tokonya atau akun tokonya sekaligus, yang jadi masalah, seller ini bisa dengan mudah buat akun baru gitu,” kata Burhan. 

Ini kerap terjadi di marketplace, ada satu toko fake merch ditutup pelaku akan membuka 10 toko atau akun seller baru. Menariknya pernah terjadi toko resmi yang dilaporkan bootleg. “Omuniuum yang jualan original malah masuk kategori bootleg,ini cukup aneh. Mungkin karena memang ga ada edukasi/informasi soal ini ke tim yang menangani seller langsung, dan lagipula untuk merchandise musik bukan point of interest semua orang,” katanya.

Kerap terjadi di marketplace, ada satu toko fake merch ditutup pelaku akan membuka 10 toko atau akun seller baru. Menariknya pernah terjadi toko resmi yang dilaporkan bootleg. “Omuniuum yang jualan original malah masuk kategori bootleg, ini cukup aneh. Mungkin karena memang ga ada edukasi/informasi soal ini ke tim yang menangani seller langsung”

Untuk itu penting melakukan tindakan pencegahan hingga ada solusi yang lebih permanen. Sementara bagi band atau penjual produk asli, dianjurkan untuk melakukan edukasi kepada para fans. “Program pendidikan atau informasi pun sejauh ini saya rasa masih agak kurang, namun sampai saat ini masih diupayakan untuk pencarian solusi terbaik untuk semua pihak,” katanya.

 

Tak Tergoda Membeli yang Palsu

Ibnu Raharjo, fans musik dan dosen yang tinggal di Malang, menyebut ada beberapa alasan mengapa ia akan selalu membeli merch asli. Ia percaya kualitas merch asli terjamin dan hampir tak pernah nemuin merch ori yang butut. Bahkan jika ada merch rilisan ulang yang kadang tidak sebagus yang awal tapi tetap lebih terjamin buatku kualitasnya, alasan lainnya adalah bentuk dukungan terhadap idola.  

“Ya sebagai bentuk dukungan/support buat band-nya ya. Berapa sih untung dari merch, tapi sebagai fan, yang sedikit itu akan berarti bgt buat nunjukin kecintaan kita sama band,” katanya. 

Ibnu Raharjo, fans musik dan dosen yang tinggal di Malang, menyebut ada beberapa alasan mengapa ia akan selalu membeli merch asli. Kualitas merch asli terjamin dan hampir tak pernah nemuin merch ori yang butut. Selain itu sebagai bentuk dukungan/support buat band-nya.

Ada cerita menarik ketika memakai merch band, saat itu Ibnu memakai kaos band dan memposting di blognya, tapi ada orang yang menawarnya. Padahal itu foto lama dan kaosnya sendiri sudah diberikan kepada orang. Ini menunjukkan bahwa nilai sebuah kaos bisa sangat penting bagi penggemar yang lain, dan harganya bisa sangat mahal. 

“Khususnya utk merch lama, tentu nilainya naik seiring waktu. Ada pasarnya juga ya, tren di sini mungkin mau niru hal yang sama di ebay atau situs jual beli internasional. Barang-barang lama ga karu-karuan harganya, ya khusus kolektor akhirnya. Kita yang bukan kolektor ngapain mikirin hal-hal kek gitu,” kata Ibnu.

Meski demikian harga bagi beberapa fans masih jadi pertimbangan untuk membeli sebuah merch atau tidak. “Soal harga merch, iya jadi pertimbangan juga mau ambil apa ga, kalau dalam pertimbanganku kemahalan ya ga kuambil, kecuali alasan khusus misal limited edition dan aku suka banget sama band sama desainnya. Gapapa deh ambil tabungan untuk itu,” katanya.

Sarah Arifin, pekerja asal Jakarta, menyebut bahwa ada beberapa hal yang perlu dipahami. “Karna finansial orang beda beda, kalo mereka seneng banget sama satu band tapi finansial mereka ga mencukupi bingung juga. Tapi pengen kalo band yang mereka suka manggung dipake dah itu kaos bootlegnya,” katanya

Tapi tentang fake merch, tidak semua fans menganggap itu perkara yang hitam putih. Sarah Arifin, pekerja asal Jakarta, menyebut bahwa ada beberapa hal yang perlu dipahami. “Karna kaaan finansial orang beda beda ya, kalo mereka seneng banget ni sama satu band tapi finansial mereka ga mencukupi bingung juga. Tapi pengen kalo band yang mereka suka manggung dipake dah itu kaos bootlegnya,” katanya.

Sementara itu untuk mencegah jual beli fake merch yang merugikan perlu ada perbaikan regulasi. Sarah melihat saat ini banyak merch palsu yang didapat dari marketplace. “Mungkin regulasi mengenai e-commerce yang harus dibenahi. Kemudahan akses jual dan beli di e-commerce salah satu yg mempengaruhi maraknya penjualan bootleg itu sendiri. Tapi mungkin itu agak susah dan panjang prosesnya karena akan banyak yang terlibat,” jelasnya.

Sebagai fans, menurut Sarah, kita bisa mendukung band idola melalui membeli merch yang asli. Ia sendiri yang memiliki teman musisi memahami betapa mahal biaya produksi sebuah lagu atau bahkan album.”Tau harga buat rekaman, mixing dan mastering ga murah, tapi dari merch itu sendiri bisa menghidupi orang lain yang berkontribusi buat ekosistem band itu sendiri. Jadi buat beli merch yang asli menurut aku harga segitu sudah cukup terjangkau,” jelas Sarah.

Sebagai fans, Ia sendiri memahami betapa mahal biaya produksi sebuah lagu atau bahkan album.”Tau harga buat rekaman, mixing dan mastering ga murah, tapi dari merch itu sendiri bisa menghidupi orang lain yang berkontribusi buat ekosistem band itu sendiri

Sarah sendiri adalah tipe fans yang rela menabung dan menahan diri untuk membeli merch idola. Tapi jika uangnya ada, ia tidak segan untuk membeli bahkan jika harganya tinggi. Ada perasaan takut atau ketinggalan yang kadang muncul. Dedikasi ini muncul bukan karena ia boros atau memang ingin pamer, tapi keinginan untuk mendukung musisi idola agar tetap membuat karya.

“Even bukan rilisan dari bandnya ya kaya Oh Hyuk punya clothing brand sendiri aku ngumpulin uang buat beli yang asli dan titip kalo ada temen yg ke Korea atau shipping ke sini. Aku pernah beli topi dari brandnya Oh Hyuk. Lebih mahal ongkos shippingnya sama bea cukainya dibanding harga barangnya,” katanya

Apakah merch melulu soal pakaian? Firman dan Teenage Death Star sebenarnya punya impian yang lebih jauh. Selama ini jika ada band yang ingin bekerja sama, hanya perlu mengontak manajemen TDS saja. 

“Selanjutnya akan didiskusikan dengan kedua belah pihak seperti outputnya seperti apa dan diutamakan barangnya sih bukan itu-itu ajah. Kita justru inginnya jika ada collaborator produk. In the future pengennya membuat sesuatu yang emang nyeleneh. Misalkan menyewakan alat pesta, jasa kitchen set, toko bangunan, atau berkolaborasi dengan jasa sedot wc,” kata Firman spontan berseloroh.

 

Ilustrasi oleh Agung Abdul Basith.


 

Penulis
Arman Dhani
Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Mengoleksi piringan hitam, buku, dan sepatu. Saat ini sedang menyelesaikan buku Melawan Perintah Ibu (EA Books) dan Usaha Mencintai Hidup (Buku Mojok). Bisa ditemui di IG dan Twitter. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Lalahuta Rilis Ulang Lagu Sheila On 7 Dan… untuk Proyek Album Mini Baru

Lalahuta tengah seru bernostalgia. Setelah membawakan ulang lagu Rio Febrian “Aku Bertahan”, kini mereka merilis ulang lagu Sheila On 7 “Dan…” hari Jumat (14/06).    Vokalis baru Lalahuta, Kevin Widaya mengiyakan band menghadirkan nuansa …

D’MASIV – 8

Dalam album 8, D’Masiv kembali ke warna yang sudah dikenal sebelumnya dan kali ini dengan pengaruh soft-rock dan pop-balada 80/90an yang jitu