293

Fakta 20 Tahun Album Debut Sheila On 7

Sheila on 7 circa album pertama, Self TItled / ilustrasi @abkadakab

Dari lagu-lagu yang aransemennya coba-coba siapa yang menyangka kalau akhirnya jadi album yang punya sejarahnya sendiri?

Dua dekade sudah berlalu sejak Duta muncul dengan topi aneh mirip kap lampu dan Adam memakai kacamata yang membuatnya lebih mirip atlet renang dalam video klip “Kita”, Eross tampil dengan dandanan yang lebih mirip penjaga villa di “Dan”, Sakti masih berkalung rantai sebelum berganti jadi tasbih di “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”, dan Anton tampak kikuk mencuri pandang ke Dian Sastro di “J.A.P”. Tapi sampai hari ini single-single tadi masih fasih dinyanyikan bahkan oleh mereka yang belum lahir saat klip-klip tadi muncul. Single “Dan” bahkan masih bertengger di chart Billboard Top 100 Indonesia setelah beberapa tahun lalu memuncaki klasemen tangga lagu pop Indonesia di televisi, radio, maupun surat kabar.

Lebih dari itu, apa yang dilakukan cah-cah Jogja tadi dalam album debut perdananya telah memberikan satu penanda penting dalam lanskap industri musik Indonesia. Ada pergeseran kutub dari dominasi Jakarta dan Bandung menuju Yogyakarta juga kota-kota lain yang sebelumnya luput dari radar. Produser-produser tak ragu meninggalkan nyamannya studio di Jakarta untuk blusukan mencari bakat-bakat baru di sempitnya café atau pengapnya studio rekaman kelas dua, pada saat itu.

Baca juga:  20 Tahun Album The Groove “Kuingin” Bergoyang

Pop Hari Ini merangkum berbagai sisik melik dari album s/t milik Sheila On 7 yang tahun ini genap berusia 20 tahun lewat wawancara dan penelusuran arsip-arsip lainnya.

  1. Lagu ‘Kita’ adalah lagu berbahasa Indonesia pertama yang dibuat Sheila Gank, sebelum akhirnya ganti nama. Sebelumnya ada sekitar tiga atau empat lagu, semuanya berbahasa Inggris. “Kalau nggak salah, salah satunya berjudul ‘For A While’,” kata Adam.
  2. Ada sekitar enam lagu yang terpilih sebagai demo, termasuk “Kita” yang merajai chart Ajang Musikal di Geronimo FM, Jogjakarta dan radio-radio sindikasinya. Semua demo direkam di studio Blass di daerah Batikan, Yogyakarta. Tidak ada perubahan signifikan “antara Kita” versi demo dengan versi album. “Sudah ada test case yang bagus sehingga Sony tidak mau ambil risiko,” kata Eross.
  3. Adam mengingat ada sekitaran sepuluh demo yang dibawa, sementara seingat Eross ada sekitar tiga sampai empat demo. “Tapi baru menawarkan ke dua label kami sudah capek wong bisa seharian penuh,” kata Adam. Sejak awal mereka mengincar Sony Music Entertainment Indonesia sebagai target. “Band-band idola kami seperti /rif dan Oasis dirilis oleh Sony,” ujar Eross.
  4. Dalam perjalanan menawarkan demo tadi, mereka mengalami dua kejadian absurd dalam sehari. Pertama saat menawarkan demo ke toko kaset Bulletin yang waktu itu ada di Menteng Plaza. “Begitu kami turun dari bus kota lihat ada plang Bulletin gede banget. Kami masuk ke sana dan nawarkan kaset demo. Ya jelas yang jaga kebingungan, wong toko kok ditawari demo,” kata Adam. Setelah selesai membuat janji untuk bertemu Jan Djuhana, waktu itu A&R Sony Music, mereka menuju kantor label rekaman lain dan bertemu papan reklame bertuliskan Sony. “Ini pasti cabang Sony Music, coba kita tawarkan demo di sini saja siapa tahu malah langsung lolos,” kata Eross. Keluar dari situ mereka malah seperti orang pandir. “Jebul Sony sing dodolan tape (ternyata ini Sony yang jualan tape, -red),” kata Eross.
  5. Eross dan Adam esoknya akhirnya ditemui langsung oleh Pak Jan dan meninggalkan kesan yang baik. “Pak Jan sudah menyinggung soal kemungkinan rekaman. Malah waktu pulang kami diantarkan sampai ke bawah,” kata Adam. Sementara saat menawarkan demo di label berikutnya  mereka malah disarankan untuk mengacu pada The Doors dan…Stinky