Finalis Go Ahead Challenge Jawab Keraguan di Creative Academy

83
Go Ahead Challenge
Kika: Hondo (Kamga & Chevrina), Hafi, Matt finalis Go Ahead Challenge 2019 / dok. GAC 2019

Di tahun kelimanya, Go Ahead Challenge yang berlangsung pada 22-27 Juli 2019 membuat Creative Academy dengan tema “Biar Tapi Jadi Bukti” yang melibatkan sembilan finalis.

Go Ahead Challenge Creative Academy tahun ini memiliki konsep menarik yaitu menggabungkan para finalis dari passion field berbeda dalam satu grup. Sehingga, dari sembilan finalis terbentuk grup gabungan dari musik, video/forografi dan visual art yang masing-masing didampingi mentor dari passion field yang juga berbeda.

Para mentor yang terlibat adalah Jason Ranti (musik), Gerald Situmorang (musik), Rekti Yoewono (musik), Anggun Priambodo (video/fotografi), Alain Goenawan (video/fotografi), Fanfani (video/fotografi), Sarkodit (visual art), Fluxcup (visual art), dan Muchlis Fahri ‘Muklay’ (visual art). Selain mentor juga terdapat kurator yang berperan dalam proses seleksi ide dan karya, diantaranya yaitu Widi Puradireja (musik), Lucky Kuswandi (video/fotografi), dan Naufal Abshar (visual art).

Go Ahead Challenge
Kika: Muklay, Rekti, Alain, tiga dari kurator Go Ahead Challenge 2019 / dok. GAC

Penggabungan passion field yang berbeda kedalam satu grup ini bukan hanya menjadi tantangan bagi para finalis, namun juga bagi para mentor. “Menantang bagi saya sendiri karena tahun kemarin lebih sesuai dengan bidang menangani band. Di tahun ini kan di mix, jadi mentor juga harus berfikir keras, dan saya pribadi jadi mendapatkan pelajaran.” jelas Rekti Yoewono.

Dalam mengikuti kompetisi ini, para finalis memiliki keraguan masing-masing. “Pada awalnya saya hanya suka mengikuti kompetisi internasional bukan nasional karena kapok, ketika tau ada Go Ahead Challenge dan submit karya, nggak nyangka aja ditelfon dan dibilang menjadi finalis, gak nyangka di Indonesia masih ada yang mengapresiasi genre fotografi (seascape) saya” jelas Matt Bachdar, salah satu finalis dari bidang fotografi yang berasal dari Ternate, Maluku.

Duo musisi Hondo yang beranggotakan Chevrina dan Kamga mengatakan bahwa Go Ahead Challenge Creative Academy sangat bermanfaat, karena bertemu dengan orang-orang kreatif lain lintas bidang yang membuka pikiran dan menginspirasi mereka.

“Pembuktian diri dalam berkarya itu ada pada makna yang terkandung di dalamnya. Bagamana kita sebagai kreator mampu memberikan berbagai interpretasi dalam karya yang dapat dinikmati oleh publik dengan identitas yang kuat. Kami sebagai mentor dalam Go Ahead Challenge Creative Academy berperan untuk menyampaikan hal tersebut kepada para finalis sehingga mereka dapat menjawab apapun keraguan mereka melalui karya.

Go Ahead Challenge
Suasana jumpa pers Go Ahead Challenge 2019 / dok. GAC

Para mentor adalah fasilitator yang membantu mengarahkan mereka untuk membuka wawasan serta berjejaring sehingga mampu menjadikan Go Ahead Challenge lebih dari sekedar kompetisi kreatif namun juga stepping stone dan ruan pengembangan diri,” ujar Muchlis Fahri ‘Muklay’ selaku mentor dari bidang visual art.

Setelah berakhirnya program intensif Go Ahead Challenge Creative Academy, para finalis akan kembali ke kota masing-masing dan menyelesaikan karya kolaborasi selama satu bulan untuk dipamerkan di Soundrenaline 2019. Setelah pameran tersebut, para kurator dan mentor Go Ahead Challenge akan mengambil satu pemenang terbaik dari bidang musik, visual art, dan video/fotografi.

Pemenang akan mendapatkan kesempatan dan pengalaman langsung terjun di industri kreatif profesional, diantaranya terlibat dalam proyek kolaborasi dan eksplorasi karya video/fotografi di New York bersama Lucky Kuswandi, karya visual art di Venice bersama Naufal bashar, dan kesempatan untuk unjuk karya musik di Korea Selatan bersama Widi Puradiredja. Sekembalinya ke tanah air, para pemenang juga akan mendapatkan aspirational reward sebagai ruang untuk mewujudkan proyek impian mereka masing-masing.