Hak Cipta Dalam Musik: Sebuah Perkenalan

1403

Akhir-akhir ini linimasa media sosial diramaikan oleh diskusi-diskusi tentang kasus penggunaan karya ciptaan seniman luar negeri Baptiste Virot dalam artwork album terbaru solois Pamungkas yang berjudul Solipsism 2.0. Walaupun mungkin terlihat sepele, menggunakan unsur karya seseorang tanpa izin dalam kegiatan komersial is a big no no. Hal ini berkaitan erat dengan Hak Cipta yang melindungi karya tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut, sudah pada tau belum apa sih Hak Cipta itu? Mengapa hak ini penting terutama bagi para seniman dan musisi? Mari kita ulik!

Apa itu Hak Cipta?

Secara sederhana, Hak Cipta adalah hak yang mencegah orang lain untuk menggunakan sebuah ciptaan tanpa izin. Dengan kata lain, kita tidak bisa “seenak jidat” menggunakan ciptaan orang lain seakan-akan karya tersebut adalah milik kita sendiri.

Ada dua hal spesial yang perlu kita ketahui tentang Hak Cipta.

Pertama, Hak Cipta itu diberikan secara otomatis. Iya, otomatis dan gratis tanpa dipungut biaya apapun. Secara cuma-cuma. Free. Kamu tidak perlu mendaftarkan ciptaan kamu ke pemerintah untuk mendapatkan hak ini. Jika perlu, bisa dicatatkan, namun hal tersebut tidak diwajibkan. Misal nih, kamu membuat sebuah lagu dan kamu distribusikan melalui soundcloud. Secara otomatis hak cipta lagu itu adalah milikmu. Tidak sulit bukan?

Kedua, hak cipta terdiri dari hak moral dan hak ekonomi. Apa sih itu?

Hak moral adalah hak yang memberikan kamu pengakuan mutlak sebagai pencipta dari ciptaanmu. Kamu menulis lirik lagu A? selamanya kamu akan diakui sebagai penulis lagu A. Kamu menjadi produser untuk lagu B? selamanya kamu akan diakui sebagai penulis lagu B. Tidak bisa diganggu gugat. Hak ini tidak bisa dipindahkan maupun diperjualbelikan. Intinya, kamu akan selalu dikenal sebagai pencipta dari ciptaan tersebut dan tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya.

Hak Cipta itu diberikan secara otomatis. otomatis dan gratis tanpa dipungut biaya apapun

Lalu, Hak ekonomi memberikan kamu kemampuan untuk mendapatkan uang dari ciptaanmu. Mengapa demikian? karena hasil kreativitasmu, kerja kerasmu, dan juga segala sumber daya yang kamu kerahkan untuk mewujudkan ciptaan tersebut memiliki nilai ekonomi. Nah, hak ekonomi ini seringkali kita temukan dalam bentuk royalti. Royalti adalah imbalan yang kamu terima dari penggunaan ciptaanmu. Di masa modern seperti ini, ada banyak jalan menuju royalti yang berlimpah. Misalnya, untuk musik, royalti bisa didapatkan melalui rate per stream yang kamu dapatkan dari streaming platform (Spotify, Apple Music, Resso, bahkan TikTok) atau dari lisensi sinkronisasi penggunaan musik untuk soundtrack sebuah film. Itu hanya contoh kecil dari berbagai macam cara untuk mendapatkan royalti. Menarik bukan?

Baca juga:  Album Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 Bertabur Pesona

Hak Cipta dan Perlindungan yang Diberikan

Pernah nggak sih kamu mencoba untuk membuka sebuah video di Youtube tapi ternyata nggak bisa? bahkan kita disambut oleh kalimat seperti ini:

“This video is no longer available due to a copyright claim”

Apa sih maksudnya? Jadi selain memberikan apresiasi yang layak bagi penciptanya, hak cipta juga digunakan untuk melindungi ciptaan dari tindakan-tindakan curang yang merugikan penciptanya. Bagaimana caranya? yaitu dengan mengajukan klaim. Klaim hak cipta adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk menutut hak dari penggunaan ciptaan tanpa izin.

Dua dasar klaim hak cipta yang palilng relevan saat ini adalah Pembajakan dan Plagiarisme. Mari kita berkenalan lebih dekat dengan dua kejahatan ini!

Pembajakan adalah penggunaan, pembuatan ulang, atau pendistribusian ciptaan yang dilindungi oleh hak cipta tanpa izin. Sulit untuk kita mengakui ini, namun pembajakan masih menjadi hal yang lazim kita maklumi hingga saat ini.

Tidak asing melihat nama LK21 atau IndoXXI, apalagi menggunakannya untuk menonton film terbaru tanpa perlu mengeluarkan modal untuk tiket bioskop. Rasanya hal tersebut terasa sangat wajar.

Sama juga dengan musik. Sebelum streaming platform menjadi aplikasi terwajib untuk dimiliki semua ponsel, kita pernah mengenal istilah pinjam-meminjam flashdisk. Ingatkah kamu pada masa-masa dimana mengunduh musik dari 4sharedatau stafaband dan mengumpulkannya ke dalam folder-folder di dalam flashdisk adalah hal yang paling normal dilakukan oleh para pecinta musik? Terlihat “sepele” bukan? Namun hal “sepele” tersebut berhasil mengakibatkan kerugian sebesar Rp. 4 Triliun untuk industri musik setiap tahunnya sejak tahun 2007.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments