Heals – Emerald

Dec 11, 2023

Tak dipungkiri, dirilisnya album baru dari grup asal Bandung, Heals tak berselang dengan dirilisnya album dari Polyester Embassy adalah kabar naik bagi scene musik di Bandung. Ini bukti bahwa Bandung tengah menggeliat secara artistik.

Namun tetap, urusan resensi adalah urusan selera subyektif. Namun terlepas dari resensi ini nanti, saya tetap akan mengacungkan jempol dari anak-anak Heals yang masih gatal untuk bermain dan meramu musik dan menghasilkan sesuatu yang patut dipertanggungjawabkan.

Ada banyak sebab mengapa secara artistik, musik Heals berubah di album keduanya ini. Mungkin saja, jeda enam tahun dari 2017 jadi salah satu faktor penting, selain dari meningkatnya referensi dan skill bermusik dan rekaman mereka. Asupan-asupan dari luar juga kegelisahan musisi akan pencapaian artistik juga bisa jadi elemen penentu mengapa album ini sulit untuk dicerna.

Bagaimana tidak, seseorang yang bukan fans akan dibuat bingung, bagaimana sebuah band nu gaze akan memasukkan instrumen saksofon di sana (coba tengok lagu “Oxymoron”) atau tiba-tiba ketukan tabla yang aneh (coba tengok “Walking Cliche”). Ini belum termasuk ketukan-ketukan ganjil yang hanya segelintir orang bisa masuk dan larut di dalamnya.

Mendengarkan Emerald, saya tidak melihat sosok Heals yang dikenal sebagai shoegaze/nu gaze. Di album ini, mereka menjadi mahluk-mahluk berbeda, yaitu musisi-musisi progresif  kelas tinggi yang mencoba memeras sedemikian rupa daya berpikir dan sensitifitas rasa mereka akan musik. Apresiasi pendengar pun jadi nomor dua, yang penting adalah semua ide di kepala bisa dikeluarkan.

Sebelas lagu Heals di dalam Emerald butuh waktu dan perhatian khusus untuk diresapi. Tak seperti album Spectrum yang langsung kena begitu di tarikan pertama. Pada kenyataannya, Heals dan Emerald tidak sendiri, sadar atau tidak, dunia musik kita telah lama disodorkan dengan warna-warna musik prog-rock, math rock yang kesemuanya punya spektrum dan pola serta arsitektur musik yang mirip.

Saya memberikan jempol kepada bagaimana mereka menulis lirik lagu-lagu berbahasa Indonesia, sesuatu yang belum pernah mereka coba di sepanjang karier mereka. Coba dengar “Silau” dan “Air Emas”, salah satu favorit saya di album ini.

 

Bagaimana ketukan konstan yang saya rindukan, sayatan-sayatan gitar bersahut-sahutan di kiri kanan earphone, perkawinan ryhthm section yang dikemas groovy aduhai membuat lagu ini sedikit mengembalikan muatan Heals yang saya kenal, tentunya dengan unsur pembaruan di sana-sini.

Jangan-jangan Heals memang harus lebih banyak menulis lagu dengan bahasa Indonesia, dengan itu musik mereka bisa lebih straight-forward dan mengalir tanpa adanya elemen yang ganjil di sana-sini. Terlepas dari itu, this is just another good album.


 

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; redaktur pelaksana di Pophariini, penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat beberapa album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Nagita Slavina Mengawali Rencana Album dengan Single Bersyukurlah

Jeda hampir 2 tahun dari perilisan single terakhirnya “Untukmu Rafathar Rayyanza”,  Nagita Slavina kembali lagi membawa yang terbaru dalam single bertajuk “Bersyukurlah” hari Sabtu (17/02).   Lagu “Bersyukurlah” yang rilis bertepatan dengan ulang tahun …

Band Bentukan Dul Jaelani, Qodir Rilis Video Musik Aku Butuh Dia

Dul Jaelani bersama ketiga rekannya, Muhammad Xaviar (gitar), Deriel Sudiro (gitar), dan Axel CB (drum) membawa bendera Qodir resmi merilis video musik single terbaru “Aku Butuh Dia” via kanal YouTube Official Qodir hari Jumat …