Hidup Dari Musik: Monetisasi Karya dan Siasatnya

Oct 15, 2021

“Bukan fame, tapi dampak”, familiar dengan kata-kata barusan? Ini adalah kalimat yang diutarakan Jason Ranti saat menutup rangkaian sepuluh episode pertama dari rubrik Manusiawi yang Pophariini hadirkan. Menjadi berdampak bagi orang lain rasanya adalah amanat yang sah dan direstui agama manapun di muka bumi. Pun Pophariini tulisan ini hadir karena timbulnya keinginan untuk memulai langkah. Setidaknya melanjutkan perjuangan yang sudah ada sebelumnya. Pergulatan yang dilakoni para anak band, manajer artis, road manajer, promotor musik, staf label, hingga calon musisi. Yaitu hidup dari musik, dari karyanya sendiri.

Pemantiknya satu, dari sini, harap muncul agar kobaran api yang mewakili semangat dan ambisi, mampu menjalar. Berawal dari sebuah pertanyaan : Bagaimana cara mendapatkan uang dari karya musik yang dihasilkan? Tentang royalti dan bagaimana hal tersebut ditanak sedemikian rupa agar mampu mensejahterakan musisi, kendala yang terjadi di Indonesia––semenjak sudah menjadi rahasia umum bahwa musisi hanya bisa mengandalkan panggung sebagai mata pencaharian. Alhasil, kalah dan terantuk di pandemi. Fenomena streaming dan upahnya yang menggelitik juga tak luput dari bahasan, hingga mencoba memberikan penjelasan terkait cara lain menjual karya selain dari royalti dan panggung.

Menghubungi Candra Darusman, figur legendaris bagi industri musik Indonesia, sekaligus sosok yang kredibel untuk angkat bicara mengenai topik ini, pertanyaan dimulai dari bagaimana musisi mampu hidup dari karya? Polos, tapi semua benar-benar ingin tahu. “Musisi itu ada dua kategori, yang hanya main musik, instrumen. Tapi juga ada musisi yang sekaligus kreator, pencipta lagu, arranger. Dua hal yang beda-beda kalau kita bicara soal monetisasi atau income. Kalau yang pertama, session player, artis instrumental, beda dengan musisi yang di-hire untuk rekaman. Kalau yang pertama, mereka yang main di kafe, night club, dan lain-lain, sepenuhnya bergantung dari job, ya. Di hotel dan lain sebagainya. Kepastian kerja mereka lah yang menjadi kekuatiran. Dipercaya menjadi ketua Federasi Serikat Musik Indonesia, tugas saya adalah memperhatikan kesejahteraan mereka itu. Masa pandemi ini gawat bagi mereka”, tutur beliau.

Candra Darusman: “Musisi itu ada dua kategori, yang hanya main musik, instrumen. Tapi juga ada musisi yang sekaligus kreator, pencipta lagu, arranger. Dua hal yang beda-beda kalau kita bicara soal monetisasi atau income”

Bergeser ke musisi yang berperan sebagai kreator, Candra Darusman menjelaskan bahwa mereka yang merupakan pencipta lagu ini, diberikan hak perlindungan lagu, yaitu hak cipta, oleh negara. “Kalau ada orang lain yang menggunakan lagu, harus meminta izin pencipta lagu. Izin penggunaan dan hak moral. Lagunya itu gak boleh dirubah, gak boleh dicincang. Tentunya, seorang pencipta lagu itu fokusnya ke menciptakan lagu. Segala urusan bisnis dia fokuskan ke manajer atau publisher. Mereka yang mencari pasar, menjual lagu, dan mengelola administrasi­­––aspek bisnis.” Penjelasan tentang collecting society sebagai entitas yang mengumpulkan royalti dari lagu yang terpakai di restoran, televisi, hingga layanan penerbangan juga dijabarkan olehnya. Performing rights oleh mereka, mechanical rights oleh publisher.

“Indonesia kan negara berkembang ya, jadi sistem perlindungan sosialnya belum baik, dibanding negara maju. Saya kasih contoh, anak saya itu, namanya Rino, masih di Australia, dan dia itu produser musik. Tau gak? Dia itu mendapat subsidi dari Pemda Melbourne. Dia mengajukan suatu permintaan bahwa selama pandemi tidak ada job. Dalam beberapa hari e-mail dia dibalas dan dapat santunan. Bayangkan!” Curahan hati seorang Candra Darusman melihat anaknya mendapatkan keberhasilan sistem perlindungan sosial di negara maju yakni Australia, yang sudah jalan. Sementara Indonesia, akuinya, belum.

Lewat dialog dengan Candra Darusman, satu nama solois perempuan ini kembali terlintas. Namanya juga yang disebutkan sebagai contoh pun perbandingan dalam berbagai aspek, apabila berbicara soal royalti dan membawakan karya di panggung. Raisa, nama yang dimaksud. Sekian juta angka putar di layanan digital berhasil ia koleksi. Terakhir, salah satu kasta tertinggi dari membawakan karya di atas panggung, mengadakan konser tunggal, nyaris ia adakan. Di Gelora Bung Karno! Tidak main-main. Sayang, dunia memukul mundur dan membuat babak belur tim yang sudah bersiap, menurut pengakuan Boim––sapaan akrab sang manajer.

“Anak saya dia itu produser musik tinggal di Austrailia. Dia itu mendapat subsidi dari Pemda Melbourne. Dia mengajukan suatu permintaan bahwa selama pandemi tidak ada job. Dalam beberapa hari e-mail dia dibalas dan dapat santunan. Bayangkan!”

Ditemui di kantornya, PT Juni Suara Kreasi, di bilangan Jakarta Selatan, Adryanto Pratono atau akrab dikenal sebagai Adry Boim, bersedia untuk sedikit menceritakan pengalaman bekerjanya di masa lalu. Rasa penasaran berhasil diutarakan sebab beredar kabar bahwa yang bersangkutan pernah berkecimpung sebagai reporter dan jurnalis untuk sebuah majalah anak muda yang membawakan beragam isu dan update seputar kultur pop.

Akuinya, selama mengisi dua posisi tersebut, ia pun belum pernah menggarap tulisan atau laporan terkait cara-cara musisi memonetisasi, royalti, panggungan, dan hidup dari karya. Pengetahuan akan kondisinya yang memanajeri Raisa dari awal hingga kini menimbulkan satu pertanyaan. Di titik mana timbul kesadaran untuk menggaet publisher atau mengumpulkan karya Raisa ke sana.

Apakah Raisa didaftarkan ke publisher sedari awal? Atau hal ini terlaksana seiring berjalannya waktu? Sang manajer berujar bahwa, “Seiring berjalannya waktu ya. Karena kan, pengetahuan soal musik dan keterbukaan soal musiknya ibaratnya baru berjalan tujuh tahun terakhir. Sebelumnya ya, artis lebih banyak mempercayai semua karya pengelolaannya ke label rekaman. Eranya juga belum digital kan. Sewaktu industrinya mulai berbenah, baru kesadaran itu muncul sih.”

Membahas royalti, bagi Boim, sudah selayaknya menjadi era keterbukaan, setidaknya itu yang dirasakan dan harapkan sebagai seorang pemilik label rekaman. Menambahkan, bisnis rekaman, dan bisnis publishing adalah bisnis yang berbeda. Jadi, ia menunjuk rekanan guna mengurus publishing artis di labelnya, Juni Records

“Delapan tahun yang lalu industrinya belum kayak gini sih. Belum banyak pilihan. Pilihan tuh belum banyak. Lalu, konsep distribusi musiknya juga beda banget. Dulu waktu CD, harus punya sticker cukai. Hanya diterbitkan oleh perusahaan rekaman terdaftar. Tapi kan sekarang enggak, pribadi juga bisa. Pilihan belum banyak. Bukan soal gak percaya sama mereka (entitas pengurus yang sudah ada), tapi lebih ke pengen berkembang. Tujuan waktu itu buat mengurus diri sendiri. Mengurus diri sendiri bisa macam-macam kan. Semacam nitip RBT sama si A. Digital produknya ke B. Publishing ke C. Itu kan bagian dari ngurus diri sendiri. Independensinya kan di situ”

Membahas royalti, bagi Boim, ini sudah selayaknya menjadi era keterbukaan, setidaknya itu yang ia rasakan dan harapkan sebagai seorang pemilik label rekaman. Menambahkan, ia berpendapat bahwa seiring berjalannya waktu ia sadar, bisnis rekaman, dan bisnis publishing adalah dua bisnis yang berbeda. Jadi, ia merasa, ia butuh untuk menunjuk rekanan guna mengurus publishing artis di labelnya, Juni Records. “Kalau publishingnya, jujur, banyak yang kita pakai. Tergantung kebutuhan, kolaborasi, kolaborator”, tambahnya.

Baginya, hidup dari royalti adalah mungkin. Namun, standar hidup orang yang berbeda-beda yang menjadi pertanyaan. Tapi apabila dalam konteks bergelimang harta. Agak berat terjadi di Indonesia.

Nama Raisa rawan jadi target sasaran apabila topik yang dipilih adalah kemungkinan untuk hidup dari royalti. Baginya, hidup dari royalti adalah hal yang mungkin. Namun, standar hidup orang yang berbeda-beda yang menjadi pertanyaan. “Bisa bisa aja sih. Asal bisa mencukupkan kebutuhan hidup dari uang royalti itu”. Apabila sepenuhnya bergantung pada royalti, tidak bekerja, ujarnya, tinggal bergantung pada seberapa banyak perencanaan lagu yang musti dilepas. Lagi, apabila dalam konteks bergelimang harta. Agak berat baginya hal ini mampu terjadi di Indonesia.

Dikomparasikan dengan apa yang terjadi pada fenomena one hit wonder di dunia barat, bagi Boim, hal ini tak bisa dijadikan perbandingan. Satu, kolamnya beda, yang satu dunia, yang satu Indonesia. Berdasarkan pengetahuannya, nilai penghargaan untuk satu kali pemutaran di Indonesia pun masih lebih rendah dari yang lain. Tata kelola royalti di Indonesia juga masih di tahap awal, dari apa yang ia dengar. Ia kurang aktif di asosiasi dan lembaga terkait, memang. Baginya, di Indonesia, asosiasinya masih belum presisi. Masih menuju. Bukan buruk, bukan hancur, tapi bagus pun tidak. Masih di fase awal, tutupnya. Menakar pada digitalisasi yang baru masuk sekitar tujuh tahun terakhir.

Bergeser sedikit ke pemetaan penghasilan yang didapat lewat menampilkan musik, pernyataan yang digelontorkan Boim sangat menarik. “Industri musik Indonesia sebagai hal yang super anomali. Sangat aneh. “Hanya di Indonesia ada pertunjukan di mall dan ditonton 10.000 orang. Hanya di Indonesia ada subsidi besar-besaran untuk harga tiket untuk sebuah konser pertunjukan skala stadion. Hanya di Indonesia kita bisa ada tur dan biayanya dibiayai sponsor secara penuh”. Ya, hal yang anomali. Tak adil apabila disebut jelek dan “mau sampai kapan begini”, inilah industri musik kita. Inilah yang kita banggakan. Anak SMP-SMA yang bisa mendatangkan band dari negara tetangga dalam pentas seni. Ini berkah, setidaknya bagi Boim.

“Industri musik Indonesia super anomali. Sangat aneh. Hanya di kita ada pertunjukan di mall dan ditonton 10.000 orang. Juga ada subsidi besar-besaran untuk harga tiket untuk sebuah konser pertunjukan skala stadion. Dan hanya di kita bisa ada tur dan biayanya dibiayai sponsor secara penuh”

Boim pun setuju saat saya menyimpulkan perkataanya sebagai kenyamanan atau kekuatan yang rasa-rasanya tak perlu ditinggalkan. Karena bagi Boim, ini adalah keunikan yang belum tentu dimiliki oleh negara lain. Tapi, jangan hanya hidup dari panggung. Apabila kondisinya seperti ini, pandemi, kelabakan. Tata kelolanya harus ada. Harus aware. “Uang manggung enak banget”, Boim menutup. Semua aspek yang kita punya dalam industri ini harus didorong. Selain pencipta lagu, penulis lagu juga harus menang, semua saluran menyala, itu harapannya.

Terakhir dengan Boim, kemungkinan untuk hidup dari musik jadi topik yang kami pilih guna menutup pembicaraan dan mengambil tempat sebagai kesimpulan. Hidup dari musik selalu mungkin baginya, ia pribadi menjalankan mimpi dan ambisinya di musik. Pun demikian dengan untuk semua orang. Musik akan selalu bisa menghidupi kita. Pandemi ini sebuah pukulan telak. Maka dari itu, ekspektasinya diatur. Hidup dari musik? Bisa. Bergelimang harta? Lain soal.

Satu sosok lagi yang rasanya pantang untuk dilewatkan apabila membicarakan topik ini. Topik seputar monetisasi dari karya musisi––lewat royalti, panggungan, dan beberapa aliran lainnya. Ia merupakan bagian dari Batavia Schouwburg yang adalah bagian dari A Night at Schouwburg, sebuah program konser yang memberikan pengalaman menyaksikan pertunjukan sekaligus merekam secara langsung penampilan musisi di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Naif dan Kelompok Penerbang Roket menjadi dua penampil beruntung tersebut.

Coki Singgih: pemetaan dan strategi pengoptimalan aliran penghasilan di ekosistim musik Indonesia adalah persoalan yang lebih kompleks. Harus dilakukan. Harapannya, para calon pelaku dan yang sudah di dalamnya, makin mampu menakar apa yang mereka kerjakan dan apa yang bisa diharapkan dari sana

Coki Singgih, sosok yang sangat amat strategis dalam berpikir dan bertindak, menggantungkan strategi dan hidupnya pada riset, serta punya pemahaman yang luas soal hak intelektual, perjuangan dalam berbagai aspek, hingga nilai historikan dan nasionalis yang tertanam dalam dirinya, menjadikan beliau sebagai individu yang imajinatif, pun tetap efektik.

Latar belakangnya di bidang riset dan strategis membawanya ke spektrum yang berbeda apabila membicarakan musik dan bagaimana para musisi mampu melahirkan dan merayakan kehidupan dari musiknya sendiri. Membahas royalti, baginya, ini adalah satu pohon kecil di antara belantara hutan yang dianalogikan sebagai hal-hal yang tumbuh dalam industri atau sektor musik ini. Baginya pribadi, pemetaan dan strategi pengoptimalan aliran penghasilan di ekosistim musik Indonesia adalah persoalan yang lebih kompleks. Harus dilakukan. Dengan harapan, para calon pelaku dan barangkali yang sudah ada di dalamnya, makin mampu menakar apa yang mereka kerjakan dan apa yang bisa diharapkan dari sana.

Menambahkan, pun untuk kepedulian yang harus ditimbulkan perihal kesadaran terhadap royalti, mendapatkan uang dari panggungan, sampai ke produksi merchandise, semuanya digantungkan pada sebuah alur dengan empat bagian. Riset, yang nantinya akan bergerak dalam penyusunan strategi, dengan harapan bahwa strategi ini akan berjalan sebagaimana yang telah diharapkan dan berhasil, lalu diolah untuk menjadi sebuah pemetaan.

Coki sendiri melihat apa yang terjadi di Indonesia masih cukup individualistis, masih di kantong kecil mereka masing-masing, ujarnya. Pelaku industri di Indonesia pelit berbagi ilmu untuk kemajuan bersama? Pertanyaan yang bisa kita refleksikan bersama. Ketergantungan musik pada sektor lain pun jadi perhatiannya. Untuk urusan panggungan, selaras dengan apa yang dikejar oleh Schouwburg, lama sudah tak ditemukan sebuah pagelaran yang membuat para pendatangnya datang untuk satu tujuan : Menonton musik. Kebanyakan, misi utama tersebut sudah pudar dan melebur dengan ambisi dan realita lainnya.

Coki melihat yang terjadi di sini masih cukup individualistis. Pelaku industri di Indonesia pelit berbagi ilmu untuk kemajuan bersama? Pertanyaan yang bisa kita refleksikan bersama

Coki pun tak ketinggalan mengapresiasi Synchronize Festival sebagai pergerakan yang sudah cukup baik dalam skala yang sedemikian baiknya pula. Harapnya, imajinasi dan kesiapan produksi yang disimpan oleh orang-orang terbaik bangsa ini tak berhenti di sini. Melepas imajinasi adalah hal yang sakral, setidaknya menurut Coki. Ini adalah hal yang dimiliki industri lain seperti perfilman, games, dan lain-lain, tapi cukup lambat pergerakannya dalam musik, atau setidaknya dalam panggungan musik. Inovasi untuk meningkat dari format-format yang usang. Apa yang terjadi sekarang, menurut Coki, hanyalah bentuk tiruan atau sedikit modifikasi dari yang sudah ada.

Makanya, saat ditanya soal apabila seseorang memutuskan untuk berkarir di industri musik, dari mana saja penghasilannya bisa dipastikan? Coki menjawab bahwa pemetaan tadi adalah hal yang perlu dilakukan. Perlu adanya riset, diskusi, dan forum yang ingin meluangkan waktu dan energinya untuk menjalankan ini. Banyak validasi dan apresiasi yang ia berikan kepada nama-nama seperti Oom Leo, Wendi Putranto, hingga Rudolf Dethu. Namun lagi, skalanya masih belum sebegitu besarnya sampai mampu memberi dampak yang cukup signifikan dan bombastis. Sementara pemerintah? Tak banyak yang bisa diharapkan, baginya. “Mereka sudah punya agenda sendiri”, pungkas Coki.

Lagi, tak gamblang Coki mengatakan kesalahan fatal apabila industri musik Indonesia masih menggantungkan diri dan kemampuan bertahan hidup dari musik live. Namun, inovasi, imajinasi, dan keberanian untuk berkolaborasi dengan semua lini adalah tindakan yang harus dibangun. Keberadaan musik dan penampilannya t’lah masyur sejak waktu yang lama. Jangan sampai, apa yang dilakukan di masa silam, masih tak jauh beda dengan apa yang kita lakukan kini.

Tak gamblang Coki mengatakan kesalahan fatal apabila industri musik Indonesia masih menggantungkan diri dan kemampuan bertahan hidup dari musik live. Inovasi, imajinasi, dan keberanian untuk berkolaborasi dengan semua lini adalah tindakan yang harus dibangun

Jadi, kembali ke pertanyaan utama. Bagaimana cara kita (musisi, manajer, roadman, promotor musik, staff label, dan lain-lain) dapat hidup dari musik? Beragam caranya, lagi, pemetaan pada hal ini adalah hal yang membantu untuk menjawab. Royalti dan panggungan adalah salah dua dari sekian banyak aliran yang mampu dimanfaatkan. Hidup dari keduanya punya plus-minus masing-masing. Menyimpulkan perkataan dari Candra Darusman, sistem perlindungan sosial yang masih menjadi sandaran. Kesigapannya pada banyak hal adalah acuan yang layak untuk dibangun dan diharapkan berhasil. Bagi Adry Boim, manajer Raisa, uang dari panggungan adalah kenikmatan sekaligus keanehan. Keunikan yang bangsa ini punya dan tak ada salahnya manfaatkan dan kelola. Pun selaras dengan Coki Singgih yang menjabarkan pemetaan ke berbagai lini adalah solusi tepat untuk menjawab cara mendapatkan uang dan hidup dari musik.

Semoga pemahaman akan publishing, collecting society, dan bagaimana mereka bekerja dengan karya serta transparansi dalam melakukannya bisa jadi hal yang mudah cerna. Pun untuk panggungan sebagai kekuatan industri super aneh ala Indonesia ini bisa terus menjadi kekuatan dan penghidupan, tentunya dengan pemetaan yang baik agar siapapun bisa hidup dan mungkin tertarik untuk menggantungkan hidupnya pada musik. Musisi memonetisasi, ‘tuk hidup dari industri!

 


 

Penulis
Hillfrom Timotius
Lulus SMA saat pandemi Covid-19 dan mengikuti Ospek di depan layar laptop. Pembaca dan penulis. Mendirikan School For Cool. Fans berat serial How I Met Your Mother, Bakmie Cong Sim, dan Nuran Wibisono. Oh ya, kalau nama saya terlalu sulit, kamu bisa memanggil saya Ipom. Salam kenal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …