174

Ibu Kartini di Dekade Musik Indonesia

Sejumlah perempuan berada di balik hiruk pikuk dan kejayaan musik di Indonesia, mulai dari berperan sebagai pencipta lagu, produser rekaman, pengarah acara di televisi, promotor konser, hingga penjual tiketnya. Nama-nama berikut ini telah mendukung musik sebagai pendidikan, industri, dan tentu saja hiburan.

 

Ibu Sud – Pengarang Lagu Anak-Anak

Ibu Sud. Foto. Istimewa


Masih ingat masa Taman Kanak Kanak? Tak diragukan lagi, Ibu Sud adalah sedikit dari pengarang lagu anak-anak yang paling popular dan dihormati. Hingga hari ini karangan-karangannya seperti “Bendera Merah Putih”, “Pergi Belajar”, “Burung Kutilang” dan banyak lagi, masih bergema di segenap penjuru Indonesia. Diperkirakan Ibu Sud mengarang lebih dari 200 lagu. Banyak lagu ciptaannya yang direkam berkali-kali dalam beragam versi, dari pop sampai jazz, mungkin yang paling ekstrem saat Netral membuat “Desaku” jadi punk rock.

Nama asli Ibu Sud adalah Saridjah Niung. Lahir di Sukabumi pada 26 Maret 1908, Ibu Sud adalah pemusik, guru musik, penyiar radio, dramawan, serta seniman batik. Karirnya melintasi zaman Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan Republik Indonesia. Suaranya pertama kali disiarkan oleh radio NIROM Jakarta pada periode 1927-1928.

Baca juga:  Spotify dan Betapa Narsisnya Kita

Ibu Sud mulai menciptakan lagu-lagu ceria dan patriotik untuk anak-anak ketika ia mengajar di Hollandsch Inlansdche School (HIS). Selain menngarang lagu, Ibu Sud  pernah pula menulis naskah sandiwara dan mementaskannya. Bersama W.R. Supratman, Ibu Sud memainkan lagu “Indonesia Raya” dengan biola dalam acara Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Lagu “Tik Tik Bunyi Hujan” ia tulis ketika genting rumah sewaannya bocor. Sementara “Berkibarlah Benderaku” diciptakan Ibu Sud setelah melihat kegigihan pimpinan kantor RRI, Jusuf Ronodipuro menolak untuk menurunkan bendera merah putih yang berkibar di kantor RRI walau dalam ancaman pasukan Belanda.

 

 

Ibu Acin – Musica Studio’s

Bu Acin. Foto. Istimewa

Nama lengkapnya Indrawati Widjaja. Ia adalah putri dari Yamin Widjaja, pendiri perusahaan rekaman PT Warung Tinggi (di antaranya merilis rekaman Titiek Puspa), embrio dari Metropolitan Studio (1968) yang kemudian berganti nama menjadi Musica Studio’s sejak 1971 sampai hari ini.

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Yamin Widjaja meninggal pada 1979, sejak itu Musica Stucio’s dikelola oleh istrinya, Kanni Djajanegara bersama anak-anaknya, termasuk Indrawati Widjaja. Hari ini Musica masih menjadi salah satu perusahaan rekaman yang paling mentereng di Indonesia.

Awalnya, Sendjaja Widjaja menggantikan peran ayahnya. Kemudian Ibu Acin menjadi Direktur Utama Musica Studio’s hingga kini. Ia memulai karirnya di Musica sebagai manajer marketing.

 

 

Bunda Iffet – Manajer SLANK

Bunda Ifet. Foto. Istimewa


Iffet Viceha Sidharta, dikenal sebagai Bunda Iffet adalah ibu dari drummer Bim-bim yang kemudian masuk ke dalam tubuh Slank menjadi manajer band. Saat itu Slank sedang sangat terpuruk bersama narkoba. Bunda Iffet dengan sabar mendukung dan menemani Slank hingga akhirnya bisa bersih dari barang haram tersebut.

Baca juga:  Catatan Retrospektif Album "Retropolis" Dari Naif

Bunda Iffet bukan hanya dihormati oleh para personil Slank dan mereka yang berkumpul bersama di Jl. Potlot, rumah orangtua Bim-bim yang dijadikan markas Slank, Bunda juga dicintai oleh Slanker, para penggemar Slank.  Bila Bunda Iffet bicara, semua mendengarkannya.

 

Ibu Dibyo – Penjual Tiket Pertunjukan Sejak 1960

Gerai Ibu Dibjo. Foto. Istimewa

Ida Kurani Soedibyo telah menjalani bisnis jual beli tiket pertunjukan sejak pertengahan 1960. Ibu Dibyo mengawali karirnya dengan menjual tiket sebuah pemutaran film di Hotel Indonesia. Ia menjual tiket di rumahnya maupun secara door-to-door. Sejak itu para penyelenggara film mulai menitipkan tiket untuk dijual oleh Ibu Dibyo.