Indonesia Darurat Lagu Pop Anak-Anak

1170

Di Hari Anak Nasional 23 Juli ini ada kenyataan kurang menggembirakan. Sudah dua dekade hingga kini Indonesia memasuki kondisi darurat lagu pop anak-anak. Lebih banyak anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu cinta orang dewasa ketimbang lagu anak-anak. Bahkan kemarin sempat viral di medsos video anak kecil menyanyikan lagu “Manusia Kardus” dan video anak-anak bernyanyi memlesetkan lagu “Menanam Jagung” menjadi ajakan untuk membunuh salah satu paslon Pilkada DKI. Waduh!

Indonesia darurat musik pop anak-anak saat ini karena dahulu Indonesia sangat kaya lagu pop anak-anak. Dari lagu “Naik Ke Puncak Gunung”, “Naik Kereta Api”, “Aku Seorang Kapiten”, “Naik Delman”, “Bintang Kecil” hingga lagu “Balonku” yang penuh misteri itu. (Berjumlah 5 atau 6? Karena yang meletus malah balon hijau). Itu sedikit dari beberapa lagu anak-anak populer yang lahir dari para nama besar pencipta lagu anak-anak seperti ibu Sud, Pak Kasur dan A.T Mahmud.

Dulu di tahun 90an sempat terjadi ledakan penyanyi cilik dengan lagu-lagu anak yang didominasi ciptaan Papa T Bob. Seperti Joshua dengan lagu “Diobok-Obok”, Bondan Prakoso “Si Lumba-Lumba” hingga Enno Lerian “Du Di Dam” dan Trio Kwek Kwek “Jangan Marah”. Fenomena lagu anak ini mencapai puncaknya ketika muncul album anak berkualitas Andai Aku Besar Nanti (1999) dan Petualangan Sherina (2000) milik Sherina yang digubah oleh Elfa Secioria. Juga kemunculan Tasya di tahun 2000 dengan album Libur Telah Tiba, Gembira Berkumpul (2001) dan Ketupat Lebaran (2002) yang merupakan karya terakhir AT Mahmud. Album anak-anak Tasya dan Sherina ini digarap dengan musikalitas yang tidak main-main.

Tahun 2010 era keemasan lagu anak-anak bisa dibilang berhenti. Tidak ada penyanyi cilik dan lagu anak yang bisa menyaingi kesuksesan lagu-lagu anak era 90an apalagi menghasilkan album dengan kualitas dan penjualan seperti yang dilakukan Sherina dan Tasya. Acara musik anak-anak di televisi yang selama ini mendukung kesuksesan lagu anak pun perlahan hilang. Acara seperti Ci Luk Ba, Tralala Trili dan Kring Kring Olala pun tiada.Namun bukan berarti para musisi berdiam diri saja. Di tahun 2013 Erwin Gutawa dan Gita Gutawa melakukan audisi penyanyi anak-anak dan merilis album Di Atas Rata-Rata dan Di Atas Rata-Rata 2 di 2015. Naif juga sempat membuat proyek buku cerita sekaligus album anak-anak menggunakan nama Bonbinben di 2008. The Dance Company merilis album TDC For Kids di 2010, Sony sempat merilis album Ambilkan Bulan di 2012 yang berisi para musisi Sony merekam ulang karya-karya terpilih AT Mahmud. Namun semua itu tetap tidak bisa menggairahkan industri musik anak-anak lagi.

Ada berbagai dugaan penyebab darurat lagu anak ini. Regenerasi pencipta lagu anak, anggapan kalau industri musik anak-anak ini tidak ada pasarnya, berkurangnya dukungan dari televisi dan radio seperti dulu dan entah masih banyak lagi. Yang jelas jika kamu punya adik kecil, keponakan atau bahkan baru punya anak ada baiknya luangkan waktu untuk memlilih lagu yang tepat untuk mereka. Kalau tidak bisa menghidupkan kembali industri musik anak paling tidak adik-adik kecil kita jangan sampai terjebak menyanyikan lagu yang tidak pantas untuk mereka. Selamat hari anak nasional!