Jalan Panjang Dangdut Dakwah Rhoma Irama

• Jun 11, 2021
Rhoma Irama Dangdut

Praktik dakwah atau pun puji-pujian kepada Tuhan YME dalam konteks musik bukanlah barang baru. Beberapa kelompok pemusik ataupun penyanyi sudah memperkenalkan diri ke publik dengan citra penyanyi religi, sebut saja Haddad Alwi, Sulis, Wafiq Azizah, dan lain sebagainya. Jika Anda menanyakan di mana Opick, maka Aunur Rofiq Lil Firdaus alias Opick memulai kariernya sebagai penyanyi pop. Hanya saja lagu religi lebih membuatnya populer, bukan lagu popnya. Tidak hanya itu, terdapat band atau penyanyi yang menyengaja membuat lagu atau album religi, semisal Ungu, Wali, Gigi, Nidji, D’Masiv, dan seterusnya.

Hal ini menyadarkan saya jika purwarupa musik religi ini tidak lah tunggal, melainkan membentuk pola. Saya menduga terdapat tiga pola, yakni: pertama, musisi yang mengawali karier di musik religi; kedua, musisi yang mengubah orientasi musik secara permanen; ketiga, musisi yang mengubah orientasi secara temporal. Namun di antara klasifikasi tersebut, ada persinggungan pola yang ditempuh oleh kelompok atau penyanyi lainnya. Salah satunya adalah Oma Irama, atau yang lebih dikenal dengan Rhoma Irama. Bagi saya, Rhoma menerobos batas kategorisasi pola tersebut, di mana orientasinya bisa dianggap temporal, sekaligus bisa dianggap permanen. Tarik ulur tersebut terejawantahkan dari trayektori jalan dakwah Rhoma yang tiada henti. Tidak hanya itu, orientasi hingga cara menegosiasikan musik dangdut dan dakwah juga menarik, semisal Rhoma memiliki definisi tersendiri atas jalan yang ia tempuh, yakni lagu dakwah.

 

Lika Liku Perjalanan Lagu Dakwah

Oma Irama memulai kariernya dengan lantang mengemukakan misi Islam sebagai haluan musiknya. Pada 13 Oktober 1973 ia mendeklarasikan semboyan “Voice of Moslem” sebagai sarana dakwah pada grupnya. Musik mereka berasaskan amar makruf nahi munkar—atau mengajak kebaikan, menjauhi keburukan (Shofan, 2014: 100). Setahun setelahnya, Rhoma mendatangkan guru agama ke tongkrongannya. Pelajaran agama hingga pengajian mulai dilaksanakan. Setahun berikutnya, tahun 1975, ia memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari naik haji, Oma membubuhkan dua huruf di depan namanya R (Raden) dan H (Haji). Dengan demikian namanya menjadi R. H. Oma Irama, yang kini kita kenal dengan Rhoma Irama.

Sejak kepulangannya, perubahan terjadi signifikan mulai dari pakaian, aksi panggung, hingga peraturan untuk musisi di grup musiknya. Ihwal pakaian, Rhoma mulai menggunakan kemeja longgar dan sorban di bahunya. Sementara ihwal aksi panggung, Rhoma mulai berpenampilan tenang dengan pembawaan yang berwibawa. Persis dengan gaya yang kini sering kita lihat. Sedangkan peraturan untuk musisi, Rhoma hanya menegaskan aturan baku, “Mulai hari ini, tidak ada lagi yang meninggalkan shalat. Tidak ada lagi botol minuman di pentas musik. Yang mau ikut, jabat tangan saya. Yang tidak, silakan keluar!” (lihat Shofan, 2014: 102). Semua personel sepakat dan mengamini jalan iman sang pemimpin grup.

Perlahan tapi pasti Rhoma terus melakukan upayanya, ditambah pernyataannya, “Ya Allah seandainya musik ini memperlebar jalan saya ke neraka, tolong hentikan sampai di sini, cabut naluri musik anugerah-Mu ini. Tetapi seandainya musik ini bisa membawa kepada keridhoan-Mu, tolong bimbing saya ya Allah” (Shofan, 2014: 99). Hal tersebut lah yang diyakini oleh Rhoma dalam bermusik. Alih-alih berjalan mulus, Rhoma juga mengalami penolakan dari beberapa kalangan masyarakat.

Pada kalangan agama, Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang mengkritik Rhoma Irama atas soal dakwah dan musik. Lainnya, MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga menghadang Rhoma. Pada tahun 1983, Kiai Syukri Gozali (MUI) menyatakan bahwa menyanyikan Al-Quran hukumnya haram (Shofan, 2014:109). Rhoma yang telah merilis lagu “La Illaha Ilallah” beberapa tahun sebelumnya seraya diadili. Buntut dari hal tersebut adalah mediasi yang dibuat MUI untuk mempertanggungjawabkan tindak tanduk Rhoma. Alih-alih dicekal, MUI memutuskan untuk mendukung langkah Rhoma karena dianggap tidak melakukan kekeliruan. Bahkan MUI meminta Rhoma untuk memperbanyak lagu bernafaskan Islam (Raditya, 2021).

Setelah kejadian tersebut, Rhoma semakin langgeng untuk berdakwah. Ia merasa jika usahanya telah direstui dan diamini oleh stakeholder terkait. Di sisi lain, jalan tersebut dianggap Rhoma sebagai lampu hijau dari empunya kehidupan. Tidak hanya melalui album musik Soneta, Rhoma juga membagikan dakwahnya melalui film dan album solo. Namun beberapa lagu Rhoma Irama juga dipersoalkan, semisal lagu “Lima” dalam soundtrack film Cinta Segi Tiga, di mana Rhoma mengucapkan hadits Nabi Muhammad Saw. secara terbalik (Shofan, 2014:112). Bahkan konon album tersebut harus ditarik dan direvisi.

Penulis
Michael HB Raditya
Peneliti musik di LARAS-Studies of Music in Society. Pendiri Pusat Kajian Dangdut (www.dangdutstudies.com). Pimpinan orkes dangdut, O.M. Jarang Pulang. Buku terbarunya bertajuk: OM Wawes: Babat Alas Dangdut Anyar (2020). Salah satu tulisan dangdutnya diterbitkan oleh Routledge, pada buku Made in Nusantara: Studies in Popular Music (2021).
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …