Jejak Soekarno di Musik Pop Indonesia

3621
Foto: https://bodempedia.blogspot.com/

Sosok presiden pertama Indonesia ini selalu punya banyak sisi menarik untuk dikupas. Sebagai politisi, negarawan, arsitek, dan…ehm.. Don Juan pemikat wanita. Putra Sang Fajar yang lahir pada 6 Juni 1901 ini juga dikenal sebagai presiden Indonesia yang punya selera seni tinggi. Soekarno, sebagaimana ditulis dalam laporan Tirto (https://tirto.id/rezim-seni-di-istana-beda-soekarno-beda-soeharto-bySR ), merupakan presiden yang memprakarsai adanya seni di istana sebagai citra diri bangsa. Warisan Soekarno untuk seni tak hanya terbatas di seni rupa seperti lukisan dan patung, namun juga merambah sampai seni musik. Pop Hari Ini mencoba menelusuri jejak Soekarno di ranah musik populer Indonesia.

Lokananta

Foto: https://www.facebook.com/767884673310222/photos/a.767895603309129.1073741826.767884673310222/767896776642345/?type=3&theater

Soekarno memiliki cetak biru pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya melalui konsep nation and character building. Ide besar Soekarno ini ditangkap oleh R. Maladi yang saat itu menjabat sebagai Direktur Radio Republik Indonesia (RRI), dengan mendirikan pabrik piringan hitam milik pemerintah untuk materi siaran RRI berupa lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Nama Lokananta yang berarti gamelan surgawi yang dapat berbunyi sendiri adalah pilihan langsung dari Soekarno setelah opsi Indra Vox dinilai terlalu berbau Barat.

Sejak diresmikan pada 29 Oktober 1956, Lokananta berkembang bukan hanya sebagai perusahaan rekaman milik pemerintah namun juga menjadi episentrum kekayaan musik Indonesia. Nama-nama virtuoso seperti Waldjinah, Jack Lesmana, sampai Buby Chen masih bergema di sudut-sudut studio Lokananta. Begitu juga arsip-arsip penting musik Indonesia seperti rekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam versi tiga stanza yang masih terdengar jernih.

Koes Bersaudara/Koes Plus 

Foto: https://merahputih.com

Jika Soekarno tidak memenjarakan Tony Koeswoyo dan adik-adiknya, mungkin Koes Plus hanya dikenal sebagai impersonator The Beatles dan Everly Brothers dengan sederetan pop manis seperti “Pagi Yang Indah”, “Bis Sekolah”, atau “Angin Laut” yang jadi mesin pecetak hits. Namun sejak kebijakan Soekarno yang melarang segala bentuk musik ngak ngik ngok ala Beatles, Koes Plus menjelma menjadi salah satu ikon musik pop Indonesia yang punya kelenturan memainkan musik dalam berbagai tema (ada katalog album qasidah dan gospel dalam diskografi mereka!) .

Selama berada di penjara Glodok, Tony Koeswoyo menumpahkan kekesalannya dengan menulis lagu penuh kritik sosial politik seperti “Poor Clown”, “Di Dalam Bui”, sampai “To The So Called The Guilties”. Simpati juga datang dari berbagai pihak, salah satunya dari wartawan senior Mochtar Lubis yang memberikan “pembelaan” lewat surat kabar yang dipimpinnya Indonesia Raya. Ada versi lain dari dipenjaranya Koes Plus. Dalam buku Kisah Dari Hati, Ais Suhana mengungkapkan Tony, Yon, Yok, dan Nomo (sebelum digantikan oleh Murry) sebetulnya disiapkan untuk menjadi mata-mata Indonesia sebagai bagian Operasi Dwikora untuk mengganyang Malaysia. Mereka dipenjara agar ada kesan Soekarno memusuhi mereka dan tidak menimbulkan kecurigaan saat mereka dikirim untuk “misi” di Malaysia. Pola serupa digunakan rezim Orde Baru saat mengirim Koes Plus pentas di Timor Leste pada tahun 1974 untuk mendeteksi sejauh mana besarnya masyarakat yang pro integrasi dengan Indonesia.