JKT: SKRG, 15 Tahun Debut Rilisan Aksara Records

3322
Ilustrasi: @abkadakab

Toko buku Aksara berdiri di Kemang, Jakarta pada 2001. Kehadirannya menambah pilihan untuk mencari buku-buku impor dari beragam genre, mulai dari buku anak-anak, fiksi, desain, dan berbagai budaya pop. Dengan suasana toko buku seperti itu, mudah diterka bahwa mereka juga menyukai musik.

Hingga suatu hari bergabunglah seorang “ensiklopedia musik berjalan” bernama David Tarigan ke dalam tubuh Aksara. Mulailah Aksara membuka sesi musik yang menjual CD-CD impor. Pilihannya begitu tersendiri dan relatif sulit untuk ditemukan di toko-toko CD lainnya di Jakarta. Saya membayangkan cengiran bahagia David Tarigan saat memesan CD-CD itu dari supplier-nya.

Di hari peluncuran sesi musik Aksara, mereka mengundang Mocca bermain, sebelum band indie pop asal Bandung itu merilis debut albumnya. Anak muda ramai berdatangan. Diskon dimainkan. Pengunjung pun “lapar” melihat CD-CD yang tersedia di sana. Mereka buas merengkuhnya.

Satu hal yang menarik: sesi musik Aksara juga menyediakan beberapa alat pemutar CD untuk pengunjung mencoba. Bila penasaran dan ingin mengetahui musik yang tersedia, kita bisa memasang headphone dan CD-CD itu. Dari aktivitas ini juga sering terjadi gempa hasrat dan bobolnya kartu debit anak muda yang terus mencari musik.

Di tempat lain, ada “sabotase” terbaru di BB’s Twelve Bar Blues, Menteng, Jakarta Pusat pada circa 2003. Pada malam-malam di BB’s, sejumlah band indie terbaru (beberapa dengan personil “berwajah lama”) dan sejumlah DJ amatir dengan musik yang eklektik memberi tanda bahaya, lengkap dengan penontonnya yang penuh sesak dan tak bisa hanya duduk diam.

The Brandals, launching debut album di BB’s Cafe circa 2003 / Foto: Fanny Rediastuti

Era itu memang bayak terjadi perkembangan pada scene musik indie/underground di Jakarta. Pengantar sebelum keriaan seruntulan di BB’s adalah acara-acara awal 2000 semacam Hang the DJ dan Six to Six di Senayan. Hang the DJ menampilkan separuh band Jakarta dan separuh band asal Bandung, di mana penonton “pecah” saat The Jonis dan International Playboys beraksi. Dukungan visual acara ini dikerjakan oleh Ruangrupa, sebuah artists’ initiative yang belum lama terbentuk di Jakarta. Sementara Six to Six dibikin non-stop dari jam 6 sore hingga 6 pagi, dimulai dari panggung musik sampai ke ruang-ruang “ DJ alternative” beraksi. Bobrok dan crazy!

David Tarigan ada di pusaran ini. Terlibat dan menyaksikan langsung band-band indie mutakhir saat itu: The Upstairs, The Brandals. The Sastro, Seringai, dan banyak lagi. Sementara Teenage Death Star adalah band dari Bandung yang sering turut bermain di Jakarta; saat itu mungkin lebih sering dari mereka tampil di Bandung.

https://www.instagram.com/p/BBn4y3Fndvn/?igshid=9dcuo5cda2qa

Pada 2002, The Upstairs merilis mini album Antah Berantah, setahun kemudian The Brandals merilis debut albumnya. Musik mereka menjalar ke mana-mana. Distribusi album pun, selain menggunakan toko-toko musik konvensional, juga didukung oleh pertumbuhan disto. Bisa dibilang tak ada distro di Jakarta yang tidak intens memutar lagu-lagu band indie lokal di dalam tokonya. 

David Tarigan pun “main gila”. Tahu bahwa Hanindito Sidharta, salah satu pemilik toko buku Aksara, memiliki studio musik bernama Pendulum, David mengajukan untuk merekam aksi-aksi terkini itu dengan memanfaatkan shift-shift malam yang tak terpakai. Argumentasi David bahwa Aksara butuh membuat divisi rekaman musik memang terdengar “paling bisa”, meski nyambung juga. Dia bilang, rekaman musik dan toko buku itu sejalan, karena ini adalah kerja pengarsipan. Apalagi setelah diperdengarkan musik-musik tersebut, Hanin serta segenap pendiri dan pengelola Aksara antusias menyambutnya. Bahkan lebih tepatnya: merayakannya!

David pun mulai berburu. Band pertama yang direkamnya adalah Sajama Cut. Sedangkan Teenage Death Star datang ke Jakarta untuk rekaman dua lagu selepas Bimbo beres keluar dari studio. Leonardo Ringo, yang pada saat itu juga bekerja di sesi musik Aksara, merekam lagunya dengan moniker Ruanghampa—ia menulis lirik di taksi saat perjalanan ke studio Pendulum, serta mengajak David Tarigan dan Kartika Jahja untuk turut mengisi vokal-vokal killer bersahutan.

Teenage Death Star @ BB’s Maret 2004 / foto: Anggun Priambodo

Empat anak muda kurus dengan sastra vokalis yang gusar, menggabungkan the Smiths dan Rush dengan begitu pantasnya, hadir ke studio Pendulum untuk merekam “Kaktus”. Mereka adalah The Sastro. Sedangkan The Adams hadir dengan cover version “Mosque of Love” dari The Upstairs yang dimodifikasi menjadi power pop pecah suara. Zeke And The Popo juga turut serta di kompilasi ini—nama-nama personil pada kredit album JKT:SKRG tertulis: Zeke, Popo I, dan Popo II.

SORE pada saat itu sebetulnya sedang merekam debut albumnya. Lagu “Cermin” pun dimasukkan ke dalam kompilasi ini sebagai pengenalan corak dan suasana musik mereka. SORE bak safir misterius yang di kemudian hari menjadi salah satu band yang pengaruh musiknya masih sangat terasa hingga sekarang.

The Brandals dan The Upstairs sudah barang tentu juga diajak serta. Petikan lirik lagu “Alexander Graham Bell” dari The Upstairs yang direkam di studio Pendulum, kemudian sempat menjadi semacam slogan bagi band new wave ini: “dan esok kita berdansa”. Suara keyboard di lagu ini diisi oleh Hendra “Petrof “ Saputra dari band That’s Rockefeller yang meninggal dunia sebelum JKT:SKRG dirilis. Sementara lagu “Televisi” menjadi satu-satunya rekaman The Upstairs yang menampilkan Tania (Clover/Whistler Post/Seaside) bermain keyboard.

Sementara itu, C’mon Lennon dan Seringai justru merekam lagu-lagu mereka tidak di studio Pendulum. Seringai sudah terlebih dahulu merekam “Membakar Jakarta” versi demo di studio Doors pada 2003.

Seringai di BB’s cafe circa 2003 / Foto: Anggun Priambodo

Saya bersama Andi “Hans” Sabarudin membesuk gitaris Blossom Diary, Angga Joni, kemudian lebih dikenal sebagai seniman graffiti dengan nama Kims, yang berbaring di rumah sakit. Kami mengobrol soal musik dan sepakat membentuk band. Pada 2003, di rumah Hans, Angga memperdengarkan lagu ciptaannya, dengan bagian shouting pada intro dan refrainnya, “Aku cinta J.A.K.A.R.T.A.”.

C’mon Lennon di BB’s Bar, Maret 2004 / Foto: Anggun Priambodo

Lagu ini, bersama beberapa lagu lainnya, kemudian kami rekam bersama C’mon Lennon. Di hari-hari itu kami mendapat kabar bahwa David Tarigan mengajak kami untuk turut serta pada sebuah album kompilasi. Kami memberikan segenap hasil rekaman itu. David memilih lagu “Aku Cinta J. A.K.A.R.T.A.” untuk menjadi single album itu. Sebuah album yang kemudian dinamakan JKT: SKRG.

Flyers CD JKT:SKRG. Foto: IG @reffrain_store

Album JKT: SKRG dirilis oleh Aksara Records pada Juni 2004. Tersedia pula paket bundling CD dan kaos logo Aksara Records berwarna hitam dengan jumlah terbatas, yang tentunya segera ludes. Jimi Multhazam berpose mengetik SMS di depan keramaian pintu masuk BB’s menjadi sampul albumnya. David Tarigan menuliskan catatan pinggir yang personal, komprehensif, dan bergelora dalam bahasa Inggris pada booklet album itu. Sementara Iman Radito, Angki, dan Indra Ameng menghiasi album dengan hasil foto-foto mereka.

CD JKT:SKRG (2004) rilisan Aksara Records / foto: istimewa

Hari-hari awal JKT:SKRG dirilis, setiap kami bermain ke Aksara Kemang, tempat yang sampai sekarang masih menjadi teman-teman berkumpul, selalu terdengar obrolan tentang JKT: SKRG.

Sekarang, album JKT: SKRG telah berusia 15 tahun. Banyak memori dari album ini, baik di kepala mereka yang terlibat di dalamnya atau pun penyimaknya. Saya akan selalu teringat dengan potongan rambut “mohawk samping” Ramondo Gascaro dan celana bahan pengendara Trans Jakarta yang robek saat bermain sepakbola ketika syuting video musik yang disutradarai oleh The Jadugar, “Aku Cinta J. A.K.A.R.T.A.”.

Mungkin saya perlu mengoprek kontainer di rumah yang berisi CD-CD, mengambil album JKT:SKRG, dan menyalakannya sekali lagi. Tancap!

__

Kelar baca tulisan ini? Jangan lupa datang ke Thursday Kicks, sebuah gig yang menjadi perayaan album kompilasi legendaris JKT:SKRG ini. Digelar di Beer Garden, SCBD Kamis (11/7) jam 6 sore pas, akan ada The Brandals, The Upstairs dan Teenage Death Star, tiga alumnus dari kompilasi ini yang siap membuat rusuh di panggung. Sementara alumnus lainnya seperti Lawless Youtube Squad (Arian 13 dan Sammy Seringai), The Sastro, Saleh Husein (The Adams) dan Indra 7 akan menghibur perhelatan ini di balik DJ Set-nya. Info lebih lanjut? Silakan intip instagram Beer Garden Jakarta

 

____