Wawancara Joko in Berlin dan Single Baru ‘Me Time Anthem’

201
Joko In Berlin
Joko in Berlin meluncurkan single terbaru berjudul "Misanthropy".

Joko in Berlin kembali meluncurkan single terbaru berjudul “Misanthropy”. Berbeda dari single-single mereka yang sebelumnya.  Single ini hadir dengan aransemen musik eksploratif  yang merupakan refleksi dari karakter para personel dalam alunan bernuansa up-beat.

Sejak terbentuk 2016, band yang dihuni Mellita Sarah, Fran Rabit, Popo Fauza, dan Marlond Telvord seringkali disebut sebagai band lokal rasa Eropa. Tak heran dengan pendapat tersebut, lantaran kiblat mereka beragam jenis musik dan musisi dari Benua Eropa.

Lagu “Misanthropy” berkisah tentang kondisi seseorang yang memiliki jiwa introvert dan ingin jauh dari keramaian dunia. Kata Misanthropy memiliki filosofi mendalam, yang diambil dari Bahasa Yunani, yang berarti kebencian pada dunia.

Berbicara mengenai ide terciptanya lagu berawal dari kesamaan karakter para personel yang masing-masing memiliki sikap tertutup dan tak ingin terlalu larut dengan hiruk pikuk dunia. Lirik lagunya ditulis oleh Fran Rabit dan diaransemen oleh Popo Fauza.

Pop Hari Ini berkesempatan untuk melontarkan sederet pertanyaan untuk Joko in Berlin. Simak berikut ini:

Bagaimana perjananan bermusik kalian setahun belakangan ini?

Popo: Penuh tantangan, terutama pada masa COVID ini, di mana banyak event kita yang dibatalkan, dan kita secara band tidak bertemu satu sama lain. Tapi, kita tetap bersyukur dengan kondisi yang tidak enak ini karena chemistry kita semakin solid. Di mana kita dituntut untuk mencari solusi atas semua challenge yang kita hadapi.

Apakah sudah direncanakan sebelumnya untuk produktif merilis single dalam beberapa bulan terakhir?

Popo: Memang kita selalu memiliki semangat untuk being productive. Yang mana ini sangat menguntungkan pada saat kondisi pandemi. Meski acara banyak yang dibatalkan, kita putar haluan untuk being productive merilis lagu karena tabungan lagu kita memang sudah lumayan. Sehingga di masa pandemi, kita memutuskan untuk terus produktif merilis single by single yang kita punya.

Joko In Berlin
Band yang diawaki Mellita Sarah, Fran Rabit, Popo Fauza, dan Marlond Telvord seringkali disebut sebagai band lokal rasa Eropa.

Ceritakan tentang penggarapan single terbaru “Misanthropy” dan perbedaan dari single sebelumnya!

Fran: Single ini mulai dibuat November 2019. Awalnya Popo Fauza sebagai composer menciptakan melodi dan aransemen awal. Kemudian lagu tersebut dibuatkan liriknya oleh saya. Dalam proses rekaman, Mellita memberikan sentuhan akhir di melodi dan lirik supaya lebih cocok dengan style bernyanyinya.

Dibandingkan dengan lagu-lagu sebelumnya, single ini paling dance-able dengan tempo upbeat. Yang mana secara lirik, ternyata sangat kontras. Lagu ini menceritakan seseorang yang ingin menyendiri dan tidak tertarik dengan keramaian dunia. Kita memang ingin lagu ini bisa digunakan oleh orang-orang yang ingin menikmati kesendiriannya namun tidak melow. Compared to previous singles, lagu ini juga memiliki lirik yang paling kaya.

Apa yang terbayangkan saat penulisan lirik lagu “Misanthropy”?

Fran: Saat membuat lirik, saya membayangkan bahwa lagu ini akan bisa menjadi ‘me time anthem’ dalam menikmati kesendirian saat capek dengan keramaian dunia. Pemilihan kata-kata yang digunakan juga tidak to the point tetapi menggunakan metafora dan perumpamaan mengenai chocolate yang sudah disimpan lama sampai benyek yang mana sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Kenapa memilih untuk take sound drum sampai ke Australia untuk single ini?

Popo: Sebenarnya bukan take sound drum di Australia. Tetapi karena kondisi pandemi, kita tidak bisa rekam drum secara live sehingga kita melibatkan seorang teman yang tinggal di Australia (Sammy Suhendra, drummer) untuk mengisi drum ‘Misanthropy’ versi rekaman.