Kaleidoskop Musik Indonesia 2018 versi Pop Hari Ini

• Jan 4, 2019

Tahun 2018 adalah tahun yang sangat berkesan bagi semua orang, dari pelbagai latar belakang, isu hoax yang kian santer di arena besar pilpres yang akan berlangsung awal tahun ini, bencana alam yang memukul ibu pertiwi bertubi-tubi dan berimbas kepada cucuran airmata di sana-sini. Tahun 2018, Indonesia melewati jalan setapak berbatu, berliku dan kadang berduri. Demikian halnya dengan musik Indonesia.

Musik Indonesia 2018 dihiasi aneka peristiwa. Sebagian besar berisi cerita duka tentang perginya pahlawan musiknya satu per satu. Diantara berita sedih tersebut tidak sedikit berita tentang prestasi musisi yang membanggakan, dari ukiran sejarah musisi tanah air di wajah musik dunia, dirilisnya rekaman-rekaman penting dalam sejarah musik tahun ini sampai ada juga cukilan seru dari kasus heboh seputar para musisi.

Meski ada banyak yang terlewat (semoga saja sih tidak), di Kaleidoskop Musik Indonesia dalam tema besar PHI Kaleidospop 2018, Pop Hari Ini mencoba merangkum semua cerita seru, sedih dan senang ini kepada pembaca setia sekalian. Inilah wajah Musik Indonesia 2018 dalam kenangan.

Selamat menikmati


J A N U A R I  

Perginya legenda

Januari 2018, awan hitam nampak menyelimuti dunia musik tanah air ketika salah satu legendanya, Yon Koeswoyo meninggal dunia pada hari ini, Jumat (5/1) pukul 05.50 WIB. Satu-satunya personil band legendaris Koes Plus yang tersisa ini menghembuskan napas terakhirnya di usia 77 tahun.

Menggoncang Laneway

Untuk pertama kalinya, band indierock asal Bandung Heals berlaga di festival internasional bergengsi, Laneway Festival yang digelar 27 Januari di Gardens by The Bay. Heals tercatat sebagai musisi Indonesia ketiga yang bermain di festival ini, setelah sebelumnya ada Bottlesmoker dan Stars & Rabbits.

 

Mengenal Rayysa Dynta

Rayssa Dynta. Foto: dok. Rayssa Dynta

Sebagai label rekaman, Double Deer menyimpan banyak nama baru yang menarik perhatian, salah satunya adalah penyanyi Rayssa Dynta. Rayssa adalah nama si bungsu dari Double Deer Records, gadis manis yang menyenangkan dengan suara bak malaikat yang memikat ditambah kemampuan bermusik yang tidak bisa dipungkiri. Dirilisnya debut mini album Prolog terbukti melambungkan nama penyanyi ini di skena musik independen tanah air.

Film Favorit Sheila on 7

foto: sheilaon7.com

Tidak banyak grup musik era 90-an yang masih bertahan dan eksis sampai hari ini. Dan Sheila on 7 – yang kini berada di jalur so-called-Independen –  adalah satu dari antara kumpulan yang sedikit itu yang bisa mencuat dan bertahan menghasilkan karya terbaru yang bagus. Januari 2018 PHI mencatat dirilisnya single pop paling berbahaya 2018 bertajuk “Film Favorit”. Berkat satu single yang paling ditunggu-tunggu fans di tiap konser mereka, Sheila sukses membawa pulang satu AMI Awards.


F E B R U A R I

Selamat jalan, Maestro 

Setelah Yon Koeswoyo, satu lagi legenda musik Indonesia Yockie Suryo Prayogo meninggal di umur 64 tahun pada Senin (5/2) jam 7.35 pagi. Selama beberapa bulan sejak Oktober 2017, almarhum Yockie memang dikabarkan sudah keluar masuk rumah sakit. Ia sempat membaik setelah melewati masa kritis di bulan Oktober dan November. Sepanjang perjalanan karier bermusiknya, Yockie dikenal sebagai keyboardis band rock papan atas God Bless. Selain itu, Yockie menggarap album-album solo Chrisye yang menjadi fenomenal seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cita, Resesi, Metropolitan dan Nona.

Manuver sang aktor 

Berita ini hampir terlewat dari catatan Kaleidoskop kami, untung penulis-penulis kami sigap mencatatnya. “W”, single perdana Junot yang dirilisnya pada Februari 2018 menambah daftar satu lagi aktor yang bisa bernyanyi dengan baik.

Debut produser musik

Raisa dan Dipha Barus. Foto: dok. Juni Records

 Selain sebagai label yang menaungi Raisa, Barasuara dan Kunto Aji, Juni Records telah membuat divisi baru bernama Juni Studio. Inisiatif ini merupakan sebuah music camp yang mengumpulkan 3 produser yaitu Raisa, Marco Steffiano dan Dipha Barus, di mana mereka akan bekerja sama dengan musisi untuk menghasilkan karya.

 

M A R E T

 

SXSW 2018: Polemik ERK –  BEKRAF

Efek Rumah Kaca. dok. istimewa

Perjalanan ke Austin Texas untuk bermain dalam festival bergengsi di Negeri Paman Sam, South By Southwest (SXSW) adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi trio asal Jakarta ini. Di balik itu, kiprah ERK ke SXSW tahun ini menyisakan cerita musisi Indonesia ke SXSW 2018 yang diwarnai dengan polemik dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sebagai yang lumayan kerap mendukung musisi Indonesia bermain di SXSW 2018 akibat masalah teknis dan komunikasi.   

Awan Duka Navicula

Foto oleh: Agung Ralyansyah

Kabar duka datang dari unit rock alternatif asal Bali, Navicula. Mereka baru saja kehilangan salah satu personel untuk selamanya. Made meninggal dunia pada hari Senin, 26 Maret 2018 pasca melewati situasi kritis di kamar ICU RSUP Sanglah Denpasar akibat kecelakaan yang dialaminya. Made menjalani karier yang cukup panjang bersama Navicula meski tidak dari awal band terbentuk pada tahun 1996.

KAMI, menuju ke arah yang baik

Foto: KAMI 2018

Tanggal 7-9 Maret 2018 di Taman Budaya, Ambon menjadi hari bersejarah berlangsungnya Konferensi Musik Indonesia dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional  9 Maret 2018. Sejumlah kesepakatan dihasilkan dalam Konferensi Musik Indonesia (KAMI) untuk industri musik Indonesia ke depannya.

Wajah baru hip hop Indonesia

Laze / dok. Laze

Maret ini mencatat munculnya Laze di rotasi musik di redaksi PHI. Beberapa dari kami sih sudah mengetahui aksinya lewat kolektif hip hop bernama Onar. Tapi baru ketika ia meluncurkan album Waktu Bicara dan kami mendengar “Budak” untuk pertama kalinya, kami menganggap Laze akan jadi sesuatu. 
A P R I L

Menuju Galaksi Palapa 

Menuju Galaksi Palapa yang digarap sutradara asal Medan, Hasbi Siputahar adalah kali pertama trio pemadat distorsi ini membuat filmnya sendiri. Yang menarik di acara pemutaran perdananya yang berlangsung di dalam bioskop CGV Grand Indonesia, Kelompok Penerbang Roket memperkenalkan untuk pertama kalinya beberapa lagu baru yang ada di mini album Galaksi Palapa yang belum lama ini dirilis.



M E I

Mengapresiasi Harry Roesli 

Album Ken Arok dari musisi legenda asal Bandung, Harry Roesli dihidupkan kembali dalam format piringan hitam label asal Jakarta, La Munai. Album yang juga masuk dalam 150 album terbaik versi Rolling Stone Indonesia ini dipandang sebagai satu dari album rock opera pertama di Indonesia. Dirilisnya album ini menjadi catatan tersendiri bagaimana generasi muda mengapreasi karya-karya mestro musik Indonesia yang terlupakan. 


J U N I

Kepergian ikon 80-an

Foto: Tempo

Bulan Juni awan hitam kembali menyelimuti musik Indonesia ketika mantan rocker gaek era 80-an, Hari Moekti menghembuskan nafas terakhirnya di RS Dustira Cimahi Bandung di hari Minggu (28 Mei) malam. Harry Moekti atau Harry Mukti punya catatan penting panjang dalam musik rock Indonesia sebagai penyanyi rock di era 90an. Kariernya berawal bergabung dengan beberapa band sebagai vokalis, hingga akhirnya ia bergabung dengan band Krakatau pada tahun 1985. Karirnya sebagai solois melejit ketika albumnya Lintas Melawai pada 1987 meledak di pasaran. Ia pun kemudian dikenal dengan lagu-lagu yang menjadi hits di eranya seperti “Ada Kamu”, “Aku Suka Kamu Suka” dan “Satu Kata” bersama band Adegan.

Awan Hitam Skena Folk

Ari Malibu / Foto: The Secret Agents (Ameng dan Keke)

Selain Harry Mukti, Kabar duka melanda skena folk Indonesia, salah satu legendanya, Ari Malibu meninggal dunia Kamis (14/6/2018) malam takbiran sebelum Idul Fitri usai melawan penyakit kanker kerongkongan yang dideritanya sejak beberapa waktu lalu. Bersama Reda Gaudiamo, ia membentuk duo AriReda yang sukses dengan album-albumnya.


J U L I

 

Gebrakan Rock Indra Lesmana

Proyek progresif rock Indra Lesmana menang AMI Awards / @ilpmusic (instagram).

Bulan Juli mencatat seorang musisi jazz Indra Lesmana yang melintas batas nyamannya dengan meluncurkan proyek terbarunya, Indra Lesmana Project (ILP) dengan albumnya Sacred Geometry. Dikonserkan pada 8 Juli, pertunjukan juga album ini sontak mendapat banyak apresiasi dari banyak kalangan, terutama dari pecinta rock progresif.

Yang klasik dari Candra Darusman

Akhirnya, penikmat jazz dan musik populer klasik indonesia boleh berbahagia. Setelah hampir 3 dekade hilang dari peredaran, album Indahnya Sepi karya pencipta lagu, penata musik, penyanyi, pianis Candra Darusman dirilis kembali oleh Demajors namun dalam format cakram padat. Dibuat pada era analog, album ini melejitkan nama Candra Darusman dalam arena musisi / penulis lagu tanah air lewat lagu yang bertajuk sama dengan album. 

Akhirnya Album Baru Seringai

Suasana signing session Seringai / Rigel Haryanto.

Band rock oktan tinggi Seringai menetapkan Minggu (29/7/2018) sebagai hari resmi dirilisnya album studio ketiganya bertajuk Seperti Api. Meski demikian, sejak 23 Juli kemarin mereka sudah duluan melempar box set eksklusif album ini. Seperti layaknya album-album Seringai sebelumnya, album yang memuat 11 lagu baru ini penuh dengan berbagai tema lirik, bahkan lebih berisi ketimbang album sebelumnya. Mulai dari gairah kemandirian, tragedi ’65, fenomena hoaks, debat kusir, kecerdasan buatan, anti-fasisme dan rasisme hingga seksualitas. 

 

A G U S T U S

Wakil Indonesia di Kancah Metal Dunia

Indonesia jaya: Down For Life di Wacken, 2018 / Karina Supriaman.

Terpilihnya band metal asal Solo, Down For Life sebagai perwakilan Indonesia dalam festival metal terbesar di dunia, Wacken Open Air 2018 yang digelar 2-4 Agustus 2018 merupakan kebanggan tersendiri bagi Down For Life. Menampilkan ratusan band, Wacken Open Air dihadiri oleh sekitar 70.000 – 100.000 orang dari seluruh dunia. Turut berlaga dalam festival metal internasional membuat nama Down For Life dan Indonesia makin harum di kancah metal dunia.

 

Mengenal Murphy Radio

kika: Aldi Yamin (Bass), Wendra (Gitar), Akbartus Ponganan (Drums) / dok. Murphy Radio.

Sangat menyenangkan mengetahui bahwa musik-musik dan band keren nggak hanya terpusat di Jawa, Bali dan sekitarnya. Seperti pulau Sumatera punya Semak Belukar, Suarasama, ((AUMAN)) dan kini Detention, begitu juga pulau Kalimantan. Di Pontianak saja ada Wai Rejected, Manjakani dan Secret Weapon yang duluan terdengar radarnya. Dan Agustus ini, Pophariini mencatat sekumpulan penggila math-rock Samarinda, Murphy Radio yang menunjukkan taringnya dari Samarinda sampai ke Kanada. Melesatnya band ini menjadi bahan pembicaraan banyak orang adalah bukti kongkret untuk menepis stigma bahwa band keren tak hanya dari pulau Jawa saja.

 

Lagi-lagi Narkoba

Fariz RM mengisi sebuah acara di Bali, Maret 2018 / dok. suaradisko

Agustus ini kami mencatat kasus penangkapan musisi akibat narkoba yang kini menimpa musisi senior Fariz RM. Sebanyak 2 paket diduga sabu, 9 butir aprazolan 2 butir dumolid dan alat isap sabu ditemukan di kediaman Fariz RM di Pondok Aren, Jumat (24/8) kemarin tepatnya jam 10 pagi. Saat itu pelantun “Sakura” ini baru saja pulang ke rumah ketika usai konser atau mengisi sebuah acara ketika polisi menangkap beliau di rumah kediamannya. Pepatah jatuh ke lubang yang sama kurang lebih pas disematkan ke Fariz RM. Ini sudah ketiga kali dirinya tertangkap karena kasus narkoba setelah 2015 silam.

 

S E P T E M B E R

Mantra yang bersinar

Kunto Aji / dok. kuntoajiw (instagram).

Banyak yang menunggu kejutan dari pelantun “Terlalu Lama Sendiri” ini, eksplorasi apalagi yang akan dibuatnya. Dan semua pertanyaan itu dijawabnya dengan Mantra Mantra, sebuah album yang mengulas cerita dari perspektif isu kesehatan mental. Di album ini pula lah terungkap cerita Kunto sebagai seseorang yang overthinker yang meskipun ada buruknya, namun ternyata ada positifnya juga. Positifnya tentu saja ketika album ini bisa diterima dengan baik oleh fans dan kritikus musik. 

 

Babak Baru .Feast

Baskara dan Adnan / @wordfangs (instagram).

Jika 3 tahun lalu Barasuara bersinar dengan Taifun, namun tahun 2018 ini sepertinya milik .Feast. Setahun setelah Multiverses, band asal Jakarta ini merilis Beberapa Orang Memaafkan, sebuah mini album yang membangunkan banyak orang, karena dieksekusi dengan baik, menyoal kejadian-kejadian nyata di Indonesia, kritis sekaligus provokatif.

 

Catatan Hip Hop Terbaru Ucok Homicide

Buku terbaru Ucok Homicide / dok. Elevation Books

Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd Dalam Satu Dekade adalah buku terbaru dari penulis bernama asli Herry Sutresna atau yang di skena hip hop Indonesia dikenal dengan Ucok Homicide. Dalam buku setebal 240 halaman ini, Ucok dengan tekun dan sadar mencatat naik turun, timbul tenggelam skena hip hop dunia selama sepuluh tahun terakhir. Ini adalah buku kedua setelah beberapa tahun lalu beliau merilis buku Setelah Boombox Usai Menyala, yang mana juga laku keras di pasaran.

 

Pencapaian Homogenic

HMGNC alias Homogenic. foto: dok HMGNC

Banyak pencapaian yang ada di tiap grup band. Dari album konser dan lain sebagainya. Buat HMGNC (baca: Homogenic), tur ke Jepang adalah satu dari hal yang mungkin ada di bucket list mereka. Trio elektronik asal Bandung ini berangkat tur ke Jepang pada 6-14 September 2018. Sebanyak 5 panggung akan dijajal mereka di kota-kota di sana. Tur Jepang ini merupakan pengalaman yang sangat penting bagi trio yang digawangi Homogenic, salah satunya karena bisa mengenalkan musiknya lebih jauh lagi.

 

Guna Manusia Barasuara

Barasuara, 2018 / foto dok. Barasuara.

September ini mencatat dirilisnya single “Guna Manusia” dari Barasuara. Ini adalah merupakan rilisan pertama mereka setelah tiga tahun sejak Taifun. Adapun single ini adalah pemanasan dari album ke-2 mereka yang akan dirilis beberapa bulan ke depan. Single ini juga adalah rilisan pertama Darlin’ Records, sebuah label rekaman yang dibentuk oleh Ismaya, Double Deer, dan Pon Your Tone. 

 

AMI Awards yang mengejutkan

Edy Khemod dan Ricky Siahaan dari Seringai menerima AMI Awards 2018 / @edykhemod (instagram).

Berbagai kejutan mewarnai ajang penghargaan musik Indonesia, AMI Awards 2018. Salah satunya adalah munculnya nama-nama baru muncul di podium menerima penghargaan tertinggi rekaman musik Indonesia. Band rock cadas Seringai misalnya, di tahun ini mereka membawa pulang satu piala AMI atas Karya Produksi Metal/Hardcore Terbaik. Nonaria, trio musik perempuan asal Jakarta membawa pulang satu piala AMI untuk Artis Jazz Vokal Terbaik. Musisi kawakan, Indra Lesmana pun nampak senang bahwa aksi ‘iseng-iseng rock progresif’ yang dibuatnya bersama ILP menuai hasil dengan menyabet Piala AMI atas Karya Produksi Progressive Terbaik.

 

Selamat jalan, Aray Daulay

Aray Daulay /dok. Facebook.

Duka kembali menyelimuti musik Indonesia ketika salah satu insannya, Aray Daulay meninggal dunia. Musisi Aray Daulay yang terkenal dengan gimbalnya ini sendiri adalah mantan gitaris grup musik Plastik, band yang era 90-an yang digawangi oleh Ipang, Aray Daulay, Iman, Didit Saad, dan Alex. Setelah Plastik bubar, nama Aray Daulay identik dengan musik reggae ketika dirinya bergabung sebagai gitaris Steven & Coconut Treez.

 

O K T O B E R

 

Navicula Kembali Tur

kika: Dankie (gitar), Robi (vokal, gitar) / naviculamusic (instagram).

Navicula, band produktif psychedelic grunge asal Bali mengumumkan jadwal tur Eropanya yang berjudul “Siasat Trafficking: Navicula European Tour 2018”. Bekerja sama dengan Siasat Partikelir dan berkolaborasi dengan seniman visual, Kuncir Sathya Viku, Navicula menyambangi 8 kota di 6 negara di Eropa, terhitung dari tanggal 4 sampai 17 Oktober 2018. Dari Berlin dan Hamburg, Jerman; Vienna, Austria; Nitra, Slovakia; Warsaw, Poland; Prague dan Czech.

 

Lebih dekat dengan Numbers

Oktober ini mencatat album penuh dari trio Dekat bertajuk Numbers. Album yang digarap secara Do-It-Yourselves oleh personilnya: Tata, Chev dan Kamga ini mendapat atensi besar oleh penggemarnya yang mengorder album ini dengan cara crowdfunding lewat kolase.com Numbers, album ketiga Dekat sejak Memulai Kembali dan Meranggas adalah kisah perjalanan terbaru mereka yang penuh dengan kejutan.

 

Karier solo sang pengemis cinta

Joni Iskandar / dok. Joni Iskandar.

Nama Joni Iskandar sudah lengket dengan OM PMR, seakan tak bisa dipisahkan, namun ternyata fakta berkata lain. Penyanyi gondrong yang nyentrik dengan kacamatanya ini kerap dikeluarkan dari grup tersebut karena alasan perbedaan visi, sampai akhirnya ia benar-benar tak balik lagi. Tak berlama-lama, penyanyi yang beken lewat lagu “Bukan Pengemis Cinta” ini tampil dengan format grup orkes baru bernama Joni Iskandar’s Squad (Jois Squad).

 

Synchronize yang Makin Pecah

Raja Dangdut: Rhoma Irama di Synchronize Fest 2018 / foto: Pohan.

Tiap tahunnya, ajang Synchronize Fest selalu memberi kejutan, tak terkecuali pada gelaran tahun ini. Segenap musisi lokal Indonesia dari yang tak terdengar sampai yang punya nama diboyong dan dikumpulkan dalam satu arena bermain yang menyenangkan. Setengah lusin panggung dari super besar sampai yang super sejak disediakan untuk menguras adrenalin penonton. Nama-nama legenda seperti Rhoma Irama dan Soneta, Dewa 19 Reunion, Padi dan Jamrud terbukti menguras ribuan penonton untuk bernostalgia.

 

Berdisko Sampai ke Tokyo

Dengan semangat, “mempopulerkan kultur pesta dengan lagu Indonesia ke dunia luar” Diskoria, komunitas dan unit kolektor piringan hitam/disjoki spesialis lagu klasik disko Indonesia mengumumkan tur Jepang pertamanya di 3 titik di Tokyo, pertengahan Oktober ini. Acara ini menandakan perjalanan Suara Disko sebagai komunitas penggagas pesta disko Indonesia yang memasuki tahun ke 4, dan juga penampilan perdana dengan musi membawa musik-musik klasik disko Indonesia ke dunia luar.

Melihat Ragam Archipelago

Rhoma Irama

Raja Dangdut: Rhoma Irama bicara soal Dangdut Nusantara di Archipelago Fest, Minggu (13/9) / foto: Pohan.

Meski baru dua kali digelar, namun festival yang mengedepankan maraton diskusi disusupi band mampu membangunkan banyak penikmat musik bahwa festival sejatinya tak melulu melihat band-band favorit di panggung yang besar. Digelar 11-13 Oktober ini, beragam topik bergizi disajikan di hari terakhir festival yang digelar di Soehana Hall, menghadirkan pembicara-pembicara yang kampiun di bidangnya. Sementara di tanggal 11-12 nya, puluhan band independen berkumpul untuk menyajikan lagu-lagu mereka di kalangan fansnya. Yang menariknya, tak sedikit band yang berasal dari luar jawa.

 

Invasi Eropa Burgerkill x Deadsquad

Dead Squad. Foto: dok. band

Jika ada band metal boleh dikategorikan terhangat, maka Burgerkill dan Dead Squad adalah salah duanya. Oktober ini mencatat kali kesekian band ini melangsungkan turnya. Eropa adalah tujuan utama mereka tahun ini. Meski berdua, ternyata mereka punya jalur tur yang berbeda. Deadsquad ke Austria, Jerman, Swiss, Perancis dan Belanda. Sedangkan Burgerkill ke Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Ceko, dan Polandia. Pertemuan Burgerkill dan Deadsquad sendiri di Eropa akan terjadi di di Amsterdam, Belanda. Tur Eropa ini sekali lagi membuka mata dunia kalau skena Metal Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata lagi.

 

Jogja Calling

Grrl Gang / @grrrlgang (instagram).

Kalau ada band baru yang hangat dibicarakan di skena underground, maka dia adalah Grrrl Gang. Aksi mereka kerap ditunggu-tunggu dan selalu ramai. Kami ingat bagaimana meriah dan penuh sesaknya ketika mereka memulai debutnya di Synchronize Fest tahun ini. Dan fakta bahwa Oktober ini mereka telah menggelar tur albumnya selama sebulan penuh, dari kota besar di luar Jawa bahkan sampai ke negara tetangga adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dari band independen. 2019, anak-anak Jogja ini pastinya akan menjadi sesuatu.

 

N O V E M B E R

 

Tinggal Landas Menuju Galaksi Palapa

Meroket: Kelompok Penerbang Roket / dok. Pohan.

Setelah menampilkan film pendek di bulan April, Kelompok Penerbang Roket merilis Galaksi Palapa adalah mini album pertama KPR setelah debut album Teriakan Bocah. Entah meniadakan versi digital, album ini hanya tersedia dalam format fisik (CD dan vinil). Di album ini, KPR membuka cakrawala baru akan warna-warna lain di luar Teriakan Bocah, sebuah pengantar yang baik akan seperti apa album kedua mereka.

 

Kemandirian Eka Annash

Eka Annash / dok. ekannash (instagram).

November ini, PHI mencatat perjalanan baru seorang Eka Annash. Pentolan Brandals ini terlihat memulai rekaman untuk proyek solonya. Bersama teman-teman musisi, Eka menghabiskan shift demi shift merekam lagu-lagu yang ditulisnya selama beberapa waktu terakhir. Apakah warna musiknya akan sama dengan Brandals atau proyek sampingannya, Zigi Zaga? 

 

Reuni Bagus – Bimo

Bimo, drummer pertama netral / foto: Robby Suharlim.

Dari sekian banyak konser NTRL yang digelar, mungkin penampilan 30 November lalu di i-Six, Kemang menjadi yang berkesan. Pasalnya, drummer awal mereka, Bimo masuk dalam line up dan menampilkan nomor-nomor band ini waktu masih bernama netral. Dibilang langka iya, karena menurut catatan kami, Bimo tampil terakhir bersama Bagus di Metro TV pada acara musik yang dipandu Ahmad Dhani, beberapa tahun silam. Waktu itu Alm. Miten masih ikutan di dalam grup musik ‘netral reunian’ yang bernama Brutal.

 

Penantian dua tahun

Konser Monokrom Tulus. Foto: Sandy Adriadi

Konser Monokrom Tulus yang digelar di Bandung adalah satu dari sebagian besar hal yang menarik di bulan November. Sudah hampir menjadi tradisi bagi penyanyi yang satu ini untuk selalu menggelar konser tunggal setiap telah merilis album baru. Meskipun berselang cukup lama, 2 tahun dari perilisan album Monokrom yang dirilis 2016 namun konser ini penantiannya sangat berharga. Karena kualitas konser yang disajikan kali ini benar-benar spesial dan jauh lebih megah dari sebelumnya.

 

D E S E M B E R

Menghidupkan Chrisye

Vira Talisa nampak cantik dengan busana Bali nya / foto: Pengabadi Gambar Swara Gembira

Bulan Desember ditutup menarik dengan pagelaran kolosal Swara Gembira yang bertajuk Hip Hip Hura. Ditujukan untuk mengenang almarhum Chrisye, pagelaran yang diadakan di Livespace SCBD tanggal 8 Desember ini menyisakan pengalaman menonton konser yang menarik. Sejumlah musisi lintas genre turut memeriahkan acara ini, dari Kunto Aji, Vira Talisa sampai grup punk Marjinal. Menonton Swara Gembira kali ini adalah pengalaman luar biasa.

 

Marion Jola yang bersinar

Marion Jola menang piala MAMA 2018 / dok. instagram

Mendapat pengakuan di industri musik Asia tentu menjadi impian banyak penyanyi Indonesia, tak terkecuali Marion Jola. Pelantun single “Jangan” ini baru saja mewujudkan mimpinya menjadi artis asia terbaik di ajang Mnet Asian Music Awards 2018 yang digelar 10 – 12 Desember di Seoul, Korea Selatan. Di ajang Mnet Asian Awards yang digelar selama tiga hari ini, penyanyi jebolan Indonesian Idol 2018 ini berhasil memboyong piala MAMA setelah dirinya menang untuk kategori Best New Asian Artist Indonesia. Sebelumnya, penghargaan ini pernah disandang oleh penyanyi Indonesia sekaliber Agnezmo yang sekarang sudah mendunia.

_____

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …