865

KaleidosPOP 2019: Oom Leo, Bukan Karaoke Hura-Hura

Ilustrasi @abkadakab

Membicarakan musik 2019 di Indonesia tentu tidak lepas dari fenomena karaoke. Apa dan kapan tepatnya fenomena ini bermula? Salah satu sosok yang bisa dibilang cukup bertanggung jawab terhadap fenomena karaoke adalah pria bernama lengkap Narpati Awangga ini. Berbincang dengan Oom Leo (panggilan sapaannya) tentunya seringkali keluar konteks, namun tetap pada jalurnya, yaitu musik.

Kepada Pop Hari Ini, Oom Leo membicarakan generasi musik yang belum berubah, kehidupan dalam sebuah skena, karaoke (tentunya), budaya musik yang baginya sudah hancur, hingga royalti bagi musisi.


 

Oom Leo / @tebbywibowo

Akan bertahan sampai kapan fenomena karaoke ini?

Awet sih, selama belum ada gelombang baru ya, dan saya belum ‘ngeliat lagi adanya gelombang baru yang menyapu kebudayaan yang lama ini nih. Band-band seperti Sheila On 7 dan Naif yang masih survive sampai saat ini tidak terjadi di era 90-an dulu seperti fenomena Koes Plus atau God Bless yang mana mereka tidak bisa survive sebagai band yang bawain lagu-lagu lama. Walaupun dulu pernah dicoba seperti reunian Koes Plus, tapi itu tidak serta merta melahirkan sebuah gelombang. Kalau sekarang, saya pikir fenomena itu kembali berulang tapi bergulir sebagai gelombang. Sheila On 7 jadwal panggungnya tidak berhenti, begitu juga dengan Naif dan Padi. Memang ada beberapa juga yang tidak bertahan.

Baca juga:  Santa Monica dan 10 Tahun Curiouser

Apakah bisa dibilang karaoke ini menjadi alternatif bagi fans dengan band-band lama ini? Karena kan ada beberapa juga yang tidak survive.

Mereka kangen sebenarnya. Mereka kangen sama budaya yang pernah ada, yang memang bagus banget, kaya pemilihan lagu. Saya berani bilang sejelek-jeleknya kalian ngecengin lagu Potret yang “Salah” tapi secara fenomena struktur lagu mereka cukup unik untuk dinyanyikan dari awal sampai habis, itu terwakilkan oleh mereka. Lagunya Reza “Berharap Tak Berpisah”, atau lagu Oasis, atau “Bohemian Rhapsody” milik Queen itu memungkinkan orang untuk menikmati sebuah kultur di mana mereka bisa bernyanyi dari awal sampai habis. Mungkin itu yang tidak didapatkan dari band-band pada masa ini.

Untuk subkultur Indonesia sendiri sebenarnya sudah berhenti di tahun 90an.

Saya berani bilang, lagu B*r***ra 4 tahun yang lalu mungkin gila, semua orang hype. Coba dengerin sekarang dan coba nyanyiin bareng-bareng lagi, teriak-teriak, mungkin harus nunggu sampai 10 tahun lagi supaya mereka akan kangen sama lagu mereka. tapi, B*r***ra tidak berada di ranah pop, coba nanya ke orang desa atau orang (maaf) kabupaten yang tidak pernah dipanggungin sama B*r***ra, mereka mungkin tidak punya akses ke band tersebut. Mereka lebih memilih nonton V** V*l*n dibandingkan B*r***ra di Youtube. Dan anak muda jauh lebih punya pilihan kepada hal-hal yang mereka anggap lebih stabil, contoh mereka memilih budaya-budaya luar, K-Pop, atau misalnya budaya pop yang sekarang seperti St*ph*n** P**tr* atau P*m*k*s, ibaratnya gelombang yang lebih umum dan mereka lebih mudah dapetin aksesnya. Ada di TV atau ada di Youtube berdasarkan rekomendasi yang mereka punya. Jadi walaupun kota-kota besar bisa dikuasai sama band-band sidestream, yang kita anggap sidestream tapi akhirnya mainstream seperti D*n*la, J*s*n R*nt*, T*l*s atau siapapun yang sering manggung di tengah kota, itu tidak terjadi sama mereka di level daerah. Karena penduduk yang lebih banyak adanya di sana, bukan di tengah kota. Penduduk Jakarta memang banyak, tapi penduduk Jawa Barat seperti Bandung dan seluruh pinggiran-pinggiran mungkin lebih banyak mereka.