KaleidosPOP 2019: Oom Leo, Bukan Karaoke Hura-Hura

Jan 19, 2020

Membicarakan musik 2019 di Indonesia tentu tidak lepas dari fenomena karaoke. Apa dan kapan tepatnya fenomena ini bermula? Salah satu sosok yang bisa dibilang cukup bertanggung jawab terhadap fenomena karaoke adalah pria bernama lengkap Narpati Awangga ini. Berbincang dengan Oom Leo (panggilan sapaannya) tentunya seringkali keluar konteks, namun tetap pada jalurnya, yaitu musik.

Kepada Pop Hari Ini, Oom Leo membicarakan generasi musik yang belum berubah, kehidupan dalam sebuah skena, karaoke (tentunya), budaya musik yang baginya sudah hancur, hingga royalti bagi musisi.


 

Oom Leo / @tebbywibowo

Akan bertahan sampai kapan fenomena karaoke ini?

Awet sih, selama belum ada gelombang baru ya, dan saya belum ‘ngeliat lagi adanya gelombang baru yang menyapu kebudayaan yang lama ini nih. Band-band seperti Sheila On 7 dan Naif yang masih survive sampai saat ini tidak terjadi di era 90-an dulu seperti fenomena Koes Plus atau God Bless yang mana mereka tidak bisa survive sebagai band yang bawain lagu-lagu lama. Walaupun dulu pernah dicoba seperti reunian Koes Plus, tapi itu tidak serta merta melahirkan sebuah gelombang. Kalau sekarang, saya pikir fenomena itu kembali berulang tapi bergulir sebagai gelombang. Sheila On 7 jadwal panggungnya tidak berhenti, begitu juga dengan Naif dan Padi. Memang ada beberapa juga yang tidak bertahan.

Apakah bisa dibilang karaoke ini menjadi alternatif bagi fans dengan band-band lama ini? Karena kan ada beberapa juga yang tidak survive.

Mereka kangen sebenarnya. Mereka kangen sama budaya yang pernah ada, yang memang bagus banget, kaya pemilihan lagu. Saya berani bilang sejelek-jeleknya kalian ngecengin lagu Potret yang “Salah” tapi secara fenomena struktur lagu mereka cukup unik untuk dinyanyikan dari awal sampai habis, itu terwakilkan oleh mereka. Lagunya Reza “Berharap Tak Berpisah”, atau lagu Oasis, atau “Bohemian Rhapsody” milik Queen itu memungkinkan orang untuk menikmati sebuah kultur di mana mereka bisa bernyanyi dari awal sampai habis. Mungkin itu yang tidak didapatkan dari band-band pada masa ini.

Untuk subkultur Indonesia sendiri sebenarnya sudah berhenti di tahun 90an.

Saya berani bilang, lagu B*r***ra 4 tahun yang lalu mungkin gila, semua orang hype. Coba dengerin sekarang dan coba nyanyiin bareng-bareng lagi, teriak-teriak, mungkin harus nunggu sampai 10 tahun lagi supaya mereka akan kangen sama lagu mereka. tapi, B*r***ra tidak berada di ranah pop, coba nanya ke orang desa atau orang (maaf) kabupaten yang tidak pernah dipanggungin sama B*r***ra, mereka mungkin tidak punya akses ke band tersebut. Mereka lebih memilih nonton V** V*l*n dibandingkan B*r***ra di Youtube. Dan anak muda jauh lebih punya pilihan kepada hal-hal yang mereka anggap lebih stabil, contoh mereka memilih budaya-budaya luar, K-Pop, atau misalnya budaya pop yang sekarang seperti St*ph*n** P**tr* atau P*m*k*s, ibaratnya gelombang yang lebih umum dan mereka lebih mudah dapetin aksesnya. Ada di TV atau ada di Youtube berdasarkan rekomendasi yang mereka punya. Jadi walaupun kota-kota besar bisa dikuasai sama band-band sidestream, yang kita anggap sidestream tapi akhirnya mainstream seperti D*n*la, J*s*n R*nt*, T*l*s atau siapapun yang sering manggung di tengah kota, itu tidak terjadi sama mereka di level daerah. Karena penduduk yang lebih banyak adanya di sana, bukan di tengah kota. Penduduk Jakarta memang banyak, tapi penduduk Jawa Barat seperti Bandung dan seluruh pinggiran-pinggiran mungkin lebih banyak mereka.

Aktivitas karaoke ini sejak kapan dan kenapa terpikirkan menjadi seorang pemandu karaoke?

Kira-kira tahun 2003 akhir. Saat itu saya tinggal di satu kolektif atau komunitas yang suka melakukan hal-hal yang absurd. Saya D.O (keluar) dari ISI (Institut Seni Indonesia), 2002 saya balik ke Jakarta. 2003 awal saya gabung sama Ruang Rupa. Ruang Rupa diisi sama teman-teman dari IKJ (Institute Kesenian Jakarta) dan juga ISI, dan beberapa kampus dari Jakarta yang menyukai art and culture. Tahun 2003 itu, tugas saya adalah menghibur teman-teman.

Berarti  tidak pernah terpikirkan kalo karaoke ini akan berjalan sejauh ini dan menjadi sebuah tren?

Nggak, karena dulu saya melakukannya di skena yang sangat kecil aja. Kalau ngomongin skena jaman sekarang sudah sangat luas. Tapi kalau dulu ngomongin soal skena itu sangat spesifik dan kecil banget. Dulu ada anak-anak emo, hardcore, punk, indiepop, britpop dan itu masih terbatas genre. tidak bisa dipukul rata bahwa itu akan menjadi budaya yang disukain anak muda secara nasional. Saya juga kurang yakin bahwa anak-anak hardcore pada masa itu bisa dengerin lagu-lagu pop. Lintas genrenya tuh belom terjadi pada masa itu.

Namun, saya melihat fenomena yang stuck itu terjadi pada 2000-an. 2000-an adalah culture ketika semua sudah dikasih. Untuk sub-culture sendiri sebenarnya sudah berhenti di tahun 90-an. Tahun 90-an fenomenanya ada MTV, Nirvana, grunge, alternatif, metal, hardcore, hip hop yang lebih ke core, lalu hip hop yang explicit, budaya baru musik elektronik, dance, techno, house music, semua itu munculnya tahun 90-an. Jadi penyempurnaan dari apa yang terjadi di generasi sebelumnya.

80-an itu adalah pure terjadinya kultur budaya yang paling terakhir, musik-musik 80s, pop culture-nya, break dance, hip-hop, sampai ke New Kids On The Block, itu semua terakhir munculnya di 80-an. Nah, 90-an adalah momentum ketika orang nge-refresh apa yang terjadi di tahun 80-an atau 70-an, atau 60-an dibalikin lagi sama mereka sebagai sebuah kultur baru karena dukungan teknologi yang ada pada saat itu seperti tv dan yang lainnya.

Dunia lagi rusak, industri musik lagi rusak, budaya dunia lagi hancur, selama gelombang baru ini masih belum ada

Ketika 90-an, mereka ngumpulin itu semua, dan kita semua tahu ada alternative rock, tapi alternative rock terjadi di tahun 70-an sama 60-an, musik-musiknya sama persis. Apa yang dibawakan The Cardigans mungkin tidak beda jauh sama apa yang dibawakan sama The Carpenters atau The Beatles. Di era itu mungkin nggal beda jauh sama musik rock 70-an dan 60-an akhir, beat dan tempo yang sama, secara melodi mereka cuma me-repeat apa yang terjadi. Tapi akan berbeda ketika kita ngomongin musik metal yang muncul tahun 70-an atau heavy metal yang muncul pada tahun 80-an, atau glam rock yang juga muncul di 80-an. Anak-anak 90-an tuh meng-compile apa yang terjadi di 60-an, 70-an, 80-an menjadi satu kesatuan dalam bentuk sajian yang paling menarik, jadi diambil yang paling best moment-nya dikumpulkan pada 90-an.

2000-an muncul teknologi baru seperti internet, semua dilibas dengan satu fenomena seperti hal-hal yang tidak didapatkan di 60-an sampai 90-an, disediakan sama 2000-an dengan akses informasi yang lebih mudah, dan segala macamnya. Saya termasuk generasi 90-an yang survive di tahun 2000-an, dalam artian di tahun 2000-an saya masih ada di ranah sub-culture. Ada beberapa teman yang dulunya anak band namun sekarang menjalani kehidupan yang normal. Setelah dipikir-pikir yang terjadi tahun 80-an itu generasinya dilibas sama 90-an, generasi 70-an dilibas sama 80-an. Hilang dan dihapus dan digantikan dengan kultur yang baru.

Oom Leo / Foto: @fabrikeatery

Tahun 2000-an itu dibantai juga tapi yang survive di tahun 90-an itu masih eksis di tahun 2000-an, sampai 2010-an lah. Di tahun 2010 kita masih bisa mendengar nama band seperti P*r* S*t*rd*y, P** b*nd, N**L, itu adalah kesempurnaan karir yang terjadi di 90an, sampai akhirnya mentoklah mereka karena tidak tahu harus bikin kultur seperti apa lagi di tahun 2010-an. Sampai akhirnya datanglah musik-musik melayu, lalu sekarang memunculkan koplo. Kita selalu bisa bilang bahwa semua terjadi dalam dekade karena memang perputaran rodanya seperti itu, per 10 tahun. Yang terjadi di 2010 sampai sekarang itu nyaris tidak ada pembaharuan dari apa yang terjadi di 2000 sampai 2010. Tidak ada yang bisa menggantikan kultur seperti itu dan survive sampai sekarang, ada libasan baru seperti fenomena band-band spotify, Boy Pablo, Jakob Ogawa, terutama adalah The Drums yang merupakan kasus yang paling bisa diambil contohnya bahwa band-band pada era 2010-an itu ternyata tidak mementingkan apa yang dinamakan dengan sustainability, survive, yang mereka pentingkan hanya gimmick dan tampil sebagai sebuah fenomena.

Saya tidak yakin kalau B*r*s**r* bisa survive di 5 tahun ke depan melihat libasan di dunia musik masa kini, F**st pun mungkin juga akan mengalami hal yang sama. Tapi saya bisa bilang bahwa band-band di era 2000-an yang muncul mengambil saripati apa yang terjadi di tahun 90-an, seperti Wh*te Sh**s, Th* *d*ms, dan Th* *pst**rs, mereka coba survive dan mereka memiliki kemampuan untuk melakukan evolusi. Beberapa tidak memiliki kemampuan untuk evolusi, ya seperti P** B**d, mereka bahkan bubar sekarang.

Jadi ketika saya memulai sebuah ‘sub-culture lucu-lucuan’ ini, tidak pernah sekalipun terpikir kalau ini menjadi sebuah gimmick, beda dengan mereka yang riding the wave karena merasa belum ada yang melakukannya, padahal budaya itu udah ada, karena J*l*r P*nt*r* itu sudah muncul di tahun 2004-an. Ada anak-anak IKJ, mereka panturaan, nyetel funkot sama ‘koplo-koploan’, dandanan yang aneh dan joget-joget di klub, dan mereka tidak merasa itu menjadi gimmick yang bisa dijalankan terus menerus. Nah, kalau Berkaraoke, itu yang saya utamakan adalah bernyanyi, jadi bukan yang senang-senang (dalam arti) hura-hura yang rame. Saya lebih senang ketika ada satu penyanyi di klub bernyanyi karaoke dengan suara yang merdu sekali lalu penonton yang lain bertepuk tangan, seperti karaoke bar di luar negeri, Amerika contohnya.

Intinya ketika budaya-budaya lama ini belum bisa digantikan dengan sebuah gelombang baru yang sangat esensial sekali, saya pikir gelombang lama akan terus ada, semua polanya masih sama, belum ada yang berani mencampur seperti jazz dengan dangdut, mungkin ada M**n*r, tapi itu pun juga anak-anak lama isinya. Dan saya malah jadi takut karena budaya ini sudah berlangsung nyaris 2 dekade. Saya bisa ambil kesimpulan dari 2000 awal sampai sekarang belum ada satupun gelombang yang menggantikan fenomena yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, yang harusnya digusur.

Berarti memang sudah seharusnya terjadi penggusuran?

Iya.

Saya pernah tidak sengaja beli kaset Peterpan remix. Seperti yang tadi dibilang, bahwa budaya ini sudah ada dari jaman dulu, dan yang mengagetkannya kaset-kaset remix ini pun dijual toko-toko kaset yang kredibel pada masa itu (sekitar 2004an)

Di momentum saat itu, saya bisa bilang bahwa ketika pasar tahu, pasar akan menciptakan itu. Dan itu tidak apa-apa. Karena itu tidak mungkin bajakan juga, karena itu sudah ada lisensinya. Dan di jaman itu juga sebenarnya budaya bajak-membajak adalah sebuah keharusan, karena dengan cara itu mereka bisa survive, dalam artian musiknya bisa dikenal luas. Kalau hanya dijual di toko kaset tidak akan sebesar itu, karena perbandingan toko kaset dengan lapak bajakan itu kalah banyak. Saat ini di kota besar, kultur fisik sebenarnya sudah selesai, sekarang semuanya streaming, nah ini sebenarnya gelombang baru yang sudah kelihatan polanya, namun sayangnya gelombang ini tidak disertai dengan esensi gelombang (musik yang baru, menurut Oom Leo). Contoh lainnya adalah film yang ada di jaman sekarang itu hanya teknologinya aja yang makin keren, secara jalan ceritanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, secara formula semua sudah ada. Yang saya kaget ada beberapa lagu yang cuma bermodalkan gitar doang jadi terkenal, “Best Part”-nya D*n*l C*s**, menurut saya ini musik tanpa esensi, yang dulu kalo ini ada di tahun 90-an cuma bakal jadi radio hit dan paling lama bertahannya sebulan saja. Sementara lagu-lagu seperti ini bisa bertahan sampai 3 tahunan. Dunia lagi rusak, industri musik lagi rusak, budaya dunia lagi hancur, selama gelombang baru ini masih belum ada.

Dari 2003 sampai sekarang, apakah karaoke Oom Leo sempat vakum?  

Nggak pernah yang benar-benar vakum ya, karena  hampir setiap tahun pasti ada acara. Misalnya pembukaan pameran. Pokoknya selalu ada deh. Apalagi semenjak adanya CDG (Compact Disc Graphic), dia bisa ngebaca lirik gitu, itu salah satu momentum yang menemani saya saat itu. Dulunya saya bikin karaoke dengan MIDI. Jadi bayangkin kocaknya. Lagu-lagu keren seperti David Bowie dan Metallica dimainkan dengan MIDI.

Bedanya pemandu karaoke dengan DJ?

Beda, karena saya tidak mempunyai kemampuan mixing yang bagus. Saya hanya bermodal fade in fade out. Mungkin saya bisa saja, tapi saya tidak tertarik untuk terjun ke ranah itu. jadi saya senengnya lagu diputar sampai selesai saja. Beda sama Betmen (Henry Foundation, rekan di Goodnight Electric), dari yang tadinya main biasa saja sampai menjadi salah satu DJ yang paling dahsyat dan diakui semua orang mixing-nya, tapi Batman tidak berkaraoke sedangkan saya berkaraoke. Saya tampil di klub untuk mengatur playlist musik sekaligus menampilkan lirik, dan saya memandu mereka. Di situ bedanya.

Dengan kesibukan sebagai musisi, pemandu karaoke dan seniman berarti Oom Leo mendefinisikan dirinya sebagai apa?

Saya lebih suka dipanggil seorang visual artist, sampai detik ini saya masih merasa seorang visual artist. Jadi apa yang saya lakukan di Goodnight Electric, karaoke, atau apapun yang saya lakukan di dunia musik, itu bukan saya lakukan sebagai seorang musisi, bagi saya itu semua hanyalah iseng-iseng. Karena saya tidak merasa melakukannya secara profesional. Seperti contoh yang saya lakukan di Goodnight Electric itu hanyalah sebatas senang-senang saja tanpa harus menahbiskan diri saya sebagai seorang musisi. Walaupun saya juga pernah mengomposisi / mengarang lagu. Dan meski menghasilkan tapi ini bukan sebuah profesi bagi saya, karena ya memang iseng-iseng saja. Side job yang keterlaluan. Ya, intinya menjalani hidup dengan apa yang saya suka saja.

Sosok pemandu karaoke sangat banyak saat ini. Apakah ini dianggap sebagai persaingan atau bagaimana?

Sama sekali nggak. Karena saya tidak menganggap ini sebagai ajang bisnis dan tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang mengganggu hidup saya. Kalaupun detik ini juga saya tiba-tiba tidak bisa lagi untuk menjadi seorang pemandu karaoke, ya sudah. Tapi kalau yang lain mungkin matilah sudah, mungkin ya. Beberapa orang malah ada yang hidup dari dunia musik ini, bahkan berbisnis di musik. Di dalam skena ini ada yang namanya 4 sehat 5 sempurna kalau mau berhasil. Visual, musik, rekaman dokumentasi foto atau video, literasi. Itu semua adalah 4 standar yang menjamin, lalu yang kelima adalah supporting system.

Saya kok jadi penasaran, bisa menjelaskan kenapa tidak sedikit orang yang senang banget nyanyi dan berkaraoke, apa ada penjelasan ilmiah mungkin?

Sebenarnya basic dasar setiap orang adalah berdendang yang paling mudah dilakukan jika tidak ada alat musik. Bersiul, bernyanyi, makanya vokal itu menjadi sangat penting dalam sebuah instrumen musik. Tidak ada sejarahnya band yang musiknya instrumental saja bisa menjadi sangat terkenal. Dia tetap membutuhkan suatu bahan dasar secara fundamental. Secara fisik, orang terlahir di muka bumi ini ya tanpa alat musik, hanya ada mulut yang otomatis harus bergumam, berdendang, bernyanyi, itu yang paling mudah dilakukan dalam menyiasati cara untuk menikmati musik. Minimal pokoknya bisa disiulkan, yang bisa dinadakan atau kadang kita membunyikan beat drum dengan mulut, hal-hal yang paling sederhana. Ketika ngomongin suara, dan Indonesia punya budaya itu. Tembang. Kalau kita mau tidur dinyanyiin, dinina-bobokan oleh orang tua. Jadi sebenarnya budaya bernyanyi di Indonesia kuat banget.

 

Oom Leo / Foto: @kimzarts

Membicarakan susunan lagu/playlist kalau sedang memandu karakoke, bagaiamana cara membuatnya dan apakah ada patokan, berapa lagu lokal dan berapa lagu internasional?

Pertama, membaca orangnya dulu (audiensnya), bentuk mukanya gimana. Ya intinya tahu tempatnya, kelakuannya kaya gimana, apakah bisa dimainkan lagu-lagu yang standar. Saya punya beberapa lagu seperti A**A – “Dancing Queen” yang jadi patokan. Kalau lagu seperti itu dimainin dan mereka tidak bernyanyi berarti selera mereka ke arah lagu Indonesia. Jadi saya terus menyusun lagu berdasarkan faktor-faktor itu.

Pernahkah satu waktu pada saat men-detect tapi tidak berhasil? Ya contohnya di kota-kota lain selain Jakarta?

Pernah, seperti saat di Surabaya, setel lagu dari setengah sampai satu jam awal lagu-lagu yang saya mainin tidak ada yang nyanyi. Saya juga nggak tau mereka maunya lagu apa. Dikasih mikrofon juga diem saja. Akhirnya saya mencoba untuk kasih koplo, dan akhirnya ada yang joget, berarti harus lagu-lagu seperti ini nih.

Berarti benar-benar harus mengeksplor semua jenis lagu ya? 

Iya, tapi tidak harus, setidaknya tahu saja. Beda dengan DJ, kalau DJ kan spesifik dia di-hire untuk membawakan lagu-lagu tertentu, dan penonton dateng ke tempat itu dengan ekspektasi musik yang sesuai dengan DJ tersebut. Ya selayaknya band aja, seperti D*n*l*, orang-orang yang datang untuk menontonnya ya sudah pasti ekspektasinya untuk mendengarkan lagu-lagu dia, bukan musisi lain. Nah bedanya dengan saya, saya harus berinteraksi langsung, saya harus siap dengan orang-orang yang mau bernyanyi dengan berbagai jenis ini. Jadi intinya saya harus tahu tempat dan orang-orangnya seperti apa dulu, itu aja sih bedanya.

Di Synchronize Fest 2019 Oom Leo tampil dengan lagu-lagu dari band pop melayu yang pada jamannya sempet dicap alay. Kenapa memutuskan membawakan lagu-lagu mereka?

Mungkin itu gimmick-nya dari Ucup sih (Ucup dari Demajors yang sekaligus program kordinator Synchronize Fest). Saya tidak pernah sedikitpun terpikir untuk melakukan hal-hal seperti itu, ya mungkin kalo sedikit ada sih kepikiran, kayanya lucu juga. Dan mungkin itu bedanya saya dengan orang-orang yang suka dengan gimmick. Ucup adalah salah satu orang yang suka dengan itu karena dia memiliki skill untuk menjadi support system yang baik. Dia memiliki ide-ide bagaimana agar suatu acara menjadi keren. Walaupun itu acaranya gila dan penontonnya juga ramai, tapi saya tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah pencapaian bagi Oom Leo, karena secara esensinya buat saya kurang dapet.

Sebelum di Synchronize Fest pernah membawakan lagu-lagu seperti itu juga? 

Tidak, memang tidak tertarik saja, karena mungkin bagi saya bukan seperti itu. Karaoke menurut saya mungkin berbeda karena saya mempunyai budaya karaoke yang berbeda dengan yang lain, bagi mereka senang-senang tapi bagi saya adalah bernyanyi. Bagi saya pada saat dulu memulai karaoke, ada TV, dengan video klip dan juga lirik, mic dengan echo, dan saya merasa benar-benar menjadi seperti seorang penyanyi pada saat itu. Karaoke yang saya maksud adalah seperti itu. Tiba-tiba sekarang jadi karaoke yang hura-hura, sekarang semuanya menjadi party karaoke. 

5 lagu paling yang hits yang harus dibawakan pada saat berkaraoke apa saja?

Biasanya sih yang umum itu “Berharap Tak Berpisah” dari R*z*, Sm*h yang “You Know Me So Well”, “Inikah Cinta”, A** -“Dancing Queen”, “Bohemian Rhapsody”,  “Don’t Look back In Anger”, “Teman Tapi Mesra”, “Salah”. Itu yang paling standar sih, yang biasanya di-request oleh orang-orang karena mereka biasanya datang untuk bernyanyi lagu-lagu itu. Tapi kalau dari saya pribadi jarang banget dengerin orang-orang menyanyikan lagu yang saya suka, biasanya kalau memulai karaoke saya selalu memulai dengan lagu-lagu berikut, “How Deep Is Your Love” – B** G**s, “No Distance Left To Run” – Bl*r, “What A Difference A Day Makes” – D*n*h W*sh*ngt*n, biasanya di awal saya akan membawakan lagu yang saya sukai dulu, karena setelah itu saya tahu bahwa saya tidak akan bisa membawakan lagu-lagu yang saya mau.

Mungkinkah membawakan lagu-lagu yang personal, kesukaan sendiri yang tidak ramah bagi telinga umum?

Dulu pernah, tapi sepi penonton memang, di Ecology, Kemang. Itu mengijinkan saya untuk perform karaoke, jadi mikrofon cuma ada di atas panggung dan cuma berlangsung sekali. Karena penontonnya juga tidak ada dan mungkin mereka pikir ngapain juga nontonin orang nyanyi? Mendingan lihat live band. Tapi justru yang saya harapkan bisa seperti itu, saya bisa difasilitasi untuk membawakan lagu-lagu yang saya mau. Dulu saya pernah mengalaminya, walaupun penontonnya sepi tapi ada beberapa orang yang tahu lagu-lagu yang saya mainkan. Termasuk misalnya Blur dan Radiohead. Di Borneo juga masih sempat bisa untuk membawakan lagu-lagu seperti Pearl Jam, Metallica, Ramones, pokoknya lagu-lagu yang saya suka deh.

Menjadi pemandu karaoke ini pekerjaan yang mudah kah? Karena terkesan seperti tinggal memutar lagu saja?

Gampang-gampang susah sih sebenarnya. Satu hal yang orang banyak tidak perhatikan, esensi. Ada kok orang yang sebenarnya tidak suka dengan karaoke, sebenarnya orang tersebut tidak suka nyanyi-nyanyi, dia cuma suka dengan pride. Wah, orang-orang suka ketika diputerin lagu ini dan akhirnya dia merasa bangga sebagai pemandu karaoke. Orang-orang seperti itu nantinya akan ada di satu kondisi di mana para penontonnya tidak mau nyanyi dan dia pasti bakal mati gaya di situ karena dia salah tempat. Tapi saya tidak pernah salah tempat, saya bisa melihat situasi. Misalkan saya tidak tahu tempat dan di tempat tersebut banyak orang tua nya, coba setel lagu K**s Pl*s, atau Fr*nk S*n*tr*, pasti ada yang mulutnya goyang-goyang. Karena saya tidak pernah membatasi diri saya dalam sebuah genre.

Berarti apa yang sehari-harinya dipersiapkan selain tampil memandu karaoke, menyusun playlist?

Saya tidak pernah bikin playlist. Jadi saya maju ke depan panggung tuh kosong, tidak ada playlist-nya. Saya bisa nyari saat itu juga soalnya.

Berarti Oom Leo memang didasarkan pada kemampuan membaca penonton itu ya?

Iya. Saya seumur-umur tidak pernah bikin playlist. tapi ada satu folder favorit yang kalau dibawakan pasti semua orang bakalan nyanyi.

Bicara soal hak cipta, idealnya saat memainkan lagu-lagu orang lain ini harusnya bayar pajak juga, bagaimana pendapat soal hal ini?

Nah, ini juga saya sudah sempet obrolin. Intinya adalah belum bisa. Lagu karaoke tidak ada di ranah hak cipta, kecuali DJ ya, DJ pun harus mencatat semua playlist-nya dia dan di-sharing ke cafe, nanti akan ditagih di akhir tahun. Tapi menurut saya sendiri itu pemalakan, karena saya sendiri juga tidak yakin apakah uangnya sampai ke musisinya. Membingungkan dan tidak tahu juga caranya. Ada yang bilang royaltinya bisa banyak banget tapi kalau lagunya sudah diputar puluhan juta kali. Yang baru secara legal ya mungkin tempat-tempat karaoke keluarga. Kalaupun saya disamperin sama orang-orang W*M*, saya bisa mengelak karena di lagu-lagu yang saya putarkan itu tidak ada yang bernyanyi (karena format karaoke minus one), jadi penyanyi tidak mendapatkan royalti, mungkin composer lagunya bisa. Jadi di karaoke yang ditulis credit-nya itu pencipta lagu.

Apakah sistem bayar royalti ini nantinya bisa berlaku di Indonesia?

Tidak bakalan bisa sih kayanya. Karena kita memiliki budaya bajakan dari dulu. Karena penyanyi terkenal karena performing bukan royalti. Saya sendiri belum pernah mencicipi duit royalti dari G**dn*ght *lc*tr*c, bahkan dari Wh*t* Sh**s yang mana saya mengarang dua lagu mereka, dan tidak masalah juga karena saya tidak memiliki budaya seperti itu, budaya saya adalah menghibur orang. Di Indonesia kayanya yang beneran musisi memang berniat untuk menghibur orang, mungkin ada beberapa yang berniat menjadi kaya, tapi menurut saya sepertinya niatan itu salah total, karena tugasnya harusnya menghibur orang. Ketika orang terhibur baru dia akan kaya, dalam artian secara mental. Menjadi musisi itu menghibur orang dan tidak jauh beda sama badut. Musisi memberikan energi positif ke orang-orang dan energi positif itu bisa balik ke diri mereka sendiri, karena rezeki kan dari Tuhan intinya. Kalau saya sih seperti itu.
____

Penulis
Jonathan
Cuma sok tahu tentang musik. Suka foto-foto stage juga.

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.