Kalimantan: Peta Musik yang Menjanjikan

Sep 13, 2019

Presiden Joko Widodo memastikan ibu kota negara yang baru akan dipindahkan ke Kalimantan Timur, tepatnya di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utama dan Kabupaten Kutai Kartanegara, demikian merujuk pada pernyataan Jokowi.

Kalimantan, pulau dengan luas 743.330 km persegi menjadi salah satu dari pulau terluas di dunia. Ia berada di peringkat ketiga setelah Greenland dan Nugini (Papua). Dibandingkan Jawa yang punya luas 126.700 km persegi, Kalimantan punya luas hampir 6 kali lipatnya.

Namun meski dengan uraian fakta-fakta di atas, ini tak lantas menjadikan Kalimantan sebagai kota calon barometer musik setelah Jawa, lebih spesifik lagi, Jakarta. Meski demikian, potensi ke arah itu sudah ada dan kian berkembang sejak beberapa tahun terakhir.

Pertemuan saya pribadi dengan beberapa insan musisi asal Kalimantan ini berawal di tahun 2017 tepatnya di sebuah ajang festival musik besar bernama Soundrenaline yang digelar di GWK Bali. Saat itu, saya bertemu dengan Manjakani, duo akustik asal Pontianak yang bermain di A Camp, sebuah venue kemping yang dibuat khusus oleh festival untuk konser yang lebih intimate.

Penampilan Rio Satrio di sebuah cafe di 22 November 2017 / dok. @gangwborders (instagram).

Tak selang beberapa lama, saya kerap bertemu dengan beberapa musisi asal Kalimantan, mulai dari Rio Satrio, singer songwriter berkacamata yang super humble, saya bertemu dengannya di Depok, ketika ia tengah menggelar tur swadaya-nya ke beberapa kota di Jakarta dan Jawa. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu dengan kuartet math pop/rock Murphy Radio yang tampil spektakuler di Archipelago Fest. Saya bercakap-cakap dengan mereka di sebuah perhelatan seru di Tebet.

Di luar itu semua, saya menemukan band-band Kalimantan dari kotak masuk di email Pop Hari Ini. Banyak gagasan yang menarik yang ditawarkan tiap bandnya. Ada Wai Rejected dengan musik rock yang penuh dinamika melodi sampai Davy Jones, unit rock n roll keren asal Samarinda dan masih banyak band asal Kalimantan dengan sound yang menarik.

“Tiga tahun terakhir ini, Pontianak sedang semangat-semangatnya dalam bermusik mas. Beberapa band merilis album, single, beberapa band juga menjalankan tur baik di indo maupun di asia tenggara. Pilihan pun lebih banyak dan tak seragam lagi seperti beberapa tahun yang silam. Gigs kolektif juga mulai banyak bermunculan, yang bergandengan dengan brand maupun yang tidak,” ungkap Taufan Muhammad menggambarkan soal skena musik dari Pontianak, kota yang membesarkan mereka.

Saat ini, para pelakunya (termasuk Manjakani) tengah membangun jaringan antar kota di Kalimantan, baik itu Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, sampai Kuching, Malaysia. Wah, bukan tidak mungkin nantinya kita akan sering melihat band Kalimantan yang bisa wara-wiri bermain di Malaysia.

Manjakani, yang bersinar dari Pontianak.

Canopy Center, sebuah entitas yang terdiri dari cafe, event venue serta hostel di Pontianak menjadi salah satu tempat yang tengah digemari oleh musisi di Propinsi ini. Banyak acara menarik di sini yang digarap oleh banyak entitas. Salah satu yang menarik yang baru saja digelar adalah Mini Fest, sebuah festival yang terdiri dari talkshow, musik, pemutaran film, bazaar dan lainnya. Dari tajuk-tajuk talkshow musiknya, tak kalah dengan festival yang sudah matang semacam Archipelago Fest. Selain Canopy, Djagad Karja juga adalah venue lain yang diminati musisi di Pontianak.

Dan, bicara soal musisi. Thanks to Taufan saya bisa menikmati musik-musik menarik, dari LAS! unit pop/rock dengan lirik sosial lingkungan, unit hardcore metal Secret Weapon, ensembel musik Merah Jingga yang sangat intens, aksen hip hop unik Joe Da Flash dan masih banyak lagi.

Sama dengan Pontianak, di Samarinda gairah skena musik di kota ini perlahan-lahan mulai merangkak naik.

“Di Samarinda, band-bandnya mulai aktif. Beberapa sudah melek tentang perkembangan musik di indonesia dan juga mulai sadar tentang media. Untuk event memang belum ramai, ini juga ada hubungannya dengan venue musik yg terbatas. Gig kolektif masih belum banyak karena skena musik disini kebanyakan ya anak band nya aja. Yang inisiatif buat bikin gig kecil masih jarang,” ungkap Happy, manajer Murphy Radio, band yang berasal dari Samarinda.

Murphy Radio, penyembah skill dari Samarinda.

Pelan tapi pasti, skena musik di Samarinda mulai naik ke permukaan, setidaknya banyak acara musik lokal di sana yang kerap memasang line up dari band lokal di sana.

Meski demikian, untuk ukuran band memang belum banyak band Samarinda yang bisa seberuntung Murphy Radio. Jam terbang mereka boleh dibilang bagus. Manggung sampai ke kota-kota di luar kandang, bermain di festival musik besar bergengsi.

Jenggala Community Hub adalah satu dari sekian banyak venue yang perlu dihighlight. Venue kecil yang sudah eksis sejak 2017 ini punya soundsystem dan set backline yang memadai untuk setiap acara skena yang dibuat di sana. Venue lainnya adalah You Kaltim, sebuah venue yang cukup besar namun pernah digunakan untuk perhelatan Record Store Day di Samarinda.

Untuk musisi, Davy Jones, singer-songwriter Irene Sugiarto, energi rock alternatif dari Visual of Illusion Dream (VOID) adalah nama-nama yang menurut kami menjanjikan.

_____

Dari Samarinda, kami mengajak kalian untuk sedikit menilik Kutai Kartanegara, sebuah kabupaten di Kalimantan Timur yang sebagian daerahnya akan menjadi lokasi ibukota ibukota baru bagi Indonesia. Kukar sendiri populer dengan musik kerasnya. Meskipun saya belum pernah ke sana langsung, namun pamor daerah ini naik setelah Kukar Rock Fest beberapa kali digelar.

Digelar sejak enam tahun lalu, Kukar Rock Fest sendiri menjadi destinasi bagi para pecinta musik keras di Kalimantan Timur. Setiap tahunnya, festival ini telah menampilkan musisi-musisi rock/metal internasonal, dari Sepultura, Helloween, Testament dan masih banyak lagi. Tak kalah meriahnya, Kukar juga ternyata menyimpan nama-nama lokal yang keren di skena rock mereka.

Saya berbicara dengan Akbar Haka, vokalis band Kapital. Terbentuk tahun 2004, Kapital termasuk band asal Kukar yang produktif. Membuat 7 album, kiprah band ini terdengar sampai ke luar pulau. Berbagai perhelatan bergengsi musik rock, dari Rock in Celebes sampai Bandung Berisik sampai Heart Town Rock Festival di Taiwan pernah dilakoninya. Tahun ini, mereka tengah mempersiapkan tur Asia mereka.

Sebelumnya terima kasih sudah meluangan waktu untuk menjawab pertanyaan saya, mengapa Kapital memilih musik metal sebagai wadah pengekspesian diri?

Kapital sendiri terbentuk 2004 dengan nama awal The Pistol sepulang-nya saya dari studi di Bandung, memilih genre musik metal karena dianggap tepat menjadi representasi dari corong teriakan kegelisahan anak anak Kalimantan dan Kapital menuangkannya kedalam lirik lagu.

Bagaimana suasana skena musik di Kukar ketika Kapital berdiri?

Pasca rilis album pertama Kapital Metalmorphosis (2009), skena musik keras di Kukar semakin bergerak, dengan banyaknya band lain yang merasa terpacu menggunakan media kata kata sebagai senjata dalam menyuarakan kritik sosial kerusakan alam Kalimantan lewat karya.

Kapital, salah satu yang bersinar di Kukar.

Bagaimana dengan gigs?

Intimate gigs semakin deras dan tentu saja skena tempat kami berteduh yaitu Distorsi, semakin gencar melakukan pergerakan, hingga akhirnya 6 tahun berturut turut kami membuat Rock in Borneo dengan nama awal KUTAI Kartanegara Rockin’Fest. Dengan menghadirkan Sepultura (Brazil), Helloween (german), Testament (US), Firehouse (US), Michael Learns to Rock (Denmark) dan Skidrow (US).

Sejauh ini, ada berapa album telah Kapital rilis? 

Sejauh ini kami sudah membuat 7 album, Metalmorphosis (2009), Reinkarnasi (2011), Symphoni Kegelapan (2012), Teror dari Belantara (2014), Anonymous (2015), Semesta Rawa (2017), Dan Mantra (2019).

Akbar Haka, vokalis dan scenester Kukar / dok. instagram Kapitalborneo

Sejauh mana Kapital membawa panggung kalian? 

Titik awal kami meneriakkan perlawanan adalah: Bandung Berisik (2012 dan 2013), Hammersonic (2013), Rock in Celebes (2012,2013,2015,2017) Rock in Solo (2013), Radio show (2012) , Heart town Rock Festival (Taiwan,2018) dan sedang mempersiapkan Asian tour kami di 2019 dan hampir setiap daerah di Kalimantan Timur dan Utara telah kami kunjungi.

Apa komentar kalian terhadap skena musik di Kalimantan Timur?

Bergerak deras! Lalu kami menyebutnya Kalimantan Timur adalah Rumah untuk Musik keras Indonesia.

Apa saja band selain kalian yang perlu kalian highlight yang punya potensi yang keren dan layak untuk disimak?

Kalimantan Timur memiliki banyak potensi band band keren yang jauh dan lepas dari radar industri musik Indonesia,salah satunya adalah Murphy Radio, Adios, di Kukar sendiri ada Budass, Biang Kerock dan Liang Lahat.

Adakah label, atau kolektif atau venue yang juga perlu di highlight?

Distorsi selain label juga adalah rumah bagi Skena musik keras Kukar, walaupun dalam beberapa album terakhir kami dirilis oleh demajors (Untuk album Teror dari Belantara, Arm Stretch Bandung (semesta Rawa dan Mantra).

Jika ada kekurangan, apakah kekurangan dari skena di Kalimantan (atau Kukar)?

Kekurangan sih ada, baik dari segi infrastruktur, pantauan media media nasional, namun kami tetap terus bergerak. Jadi seperti pepatah anak anak disini “Terus menari, berputar, mengelilingi api”

Menyenangkan melihat skena yang tumbuh pesat dan potensial. Saya tak pernah membayangkan di balik hijaunya hutan hujan tropis yang segar ada skena musik keras yang menarik untuk disimak. Tulisan dan wawancara ini membuat saya mengandai-andai transportasi ke Kalimantan murah, mungkin saya akan makin sering ke sana, mengelilingi kampus dan tongkrongan atau sesekali mengunjungi mekah-nya festival metal di sana.

Dengan ibukota negara yang dipindah, sisi positif yang akan terjadi adalah skena ini makin meriah. Dan bukan tidak mungkin setelah saya menulis ini, bahwa nantinya barometer musik tak hanya milik Jawa, lebih spesifik lagi, Jakarta semata. Seperti telah saya jelaskan di atas, potensi ke arah itu sudah ada dan masih akan berkembang lagi.

 

______

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.