505

Kalimantan: Peta Musik yang Menjanjikan

Ilustrasi: @abkadakab.

Presiden Joko Widodo memastikan ibu kota negara yang baru akan dipindahkan ke Kalimantan Timur, tepatnya di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utama dan Kabupaten Kutai Kartanegara, demikian merujuk pada pernyataan Jokowi.

Kalimantan, pulau dengan luas 743.330 km persegi menjadi salah satu dari pulau terluas di dunia. Ia berada di peringkat ketiga setelah Greenland dan Nugini (Papua). Dibandingkan Jawa yang punya luas 126.700 km persegi, Kalimantan punya luas hampir 6 kali lipatnya.

Namun meski dengan uraian fakta-fakta di atas, ini tak lantas menjadikan Kalimantan sebagai kota calon barometer musik setelah Jawa, lebih spesifik lagi, Jakarta. Meski demikian, potensi ke arah itu sudah ada dan kian berkembang sejak beberapa tahun terakhir.

Pertemuan saya pribadi dengan beberapa insan musisi asal Kalimantan ini berawal di tahun 2017 tepatnya di sebuah ajang festival musik besar bernama Soundrenaline yang digelar di GWK Bali. Saat itu, saya bertemu dengan Manjakani, duo akustik asal Pontianak yang bermain di A Camp, sebuah venue kemping yang dibuat khusus oleh festival untuk konser yang lebih intimate.

Penampilan Rio Satrio di sebuah cafe di 22 November 2017 / dok. @gangwborders (instagram).

Tak selang beberapa lama, saya kerap bertemu dengan beberapa musisi asal Kalimantan, mulai dari Rio Satrio, singer songwriter berkacamata yang super humble, saya bertemu dengannya di Depok, ketika ia tengah menggelar tur swadaya-nya ke beberapa kota di Jakarta dan Jawa. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu dengan kuartet math pop/rock Murphy Radio yang tampil spektakuler di Archipelago Fest. Saya bercakap-cakap dengan mereka di sebuah perhelatan seru di Tebet.

Baca juga:  May Day Bukan Sekadar Hari Buruh

Di luar itu semua, saya menemukan band-band Kalimantan dari kotak masuk di email Pop Hari Ini. Banyak gagasan yang menarik yang ditawarkan tiap bandnya. Ada Wai Rejected dengan musik rock yang penuh dinamika melodi sampai Davy Jones, unit rock n roll keren asal Samarinda dan masih banyak band asal Kalimantan dengan sound yang menarik.

“Tiga tahun terakhir ini, Pontianak sedang semangat-semangatnya dalam bermusik mas. Beberapa band merilis album, single, beberapa band juga menjalankan tur baik di indo maupun di asia tenggara. Pilihan pun lebih banyak dan tak seragam lagi seperti beberapa tahun yang silam. Gigs kolektif juga mulai banyak bermunculan, yang bergandengan dengan brand maupun yang tidak,” ungkap Taufan Muhammad menggambarkan soal skena musik dari Pontianak, kota yang membesarkan mereka.

Baca juga:  20 Tahun Kilas Balik dan Titik Balik GIGI

Saat ini, para pelakunya (termasuk Manjakani) tengah membangun jaringan antar kota di Kalimantan, baik itu Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, sampai Kuching, Malaysia. Wah, bukan tidak mungkin nantinya kita akan sering melihat band Kalimantan yang bisa wara-wiri bermain di Malaysia.

Manjakani, yang bersinar dari Pontianak.

Canopy Center, sebuah entitas yang terdiri dari cafe, event venue serta hostel di Pontianak menjadi salah satu tempat yang tengah digemari oleh musisi di Propinsi ini. Banyak acara menarik di sini yang digarap oleh banyak entitas. Salah satu yang menarik yang baru saja digelar adalah Mini Fest, sebuah festival yang terdiri dari talkshow, musik, pemutaran film, bazaar dan lainnya. Dari tajuk-tajuk talkshow musiknya, tak kalah dengan festival yang sudah matang semacam Archipelago Fest. Selain Canopy, Djagad Karja juga adalah venue lain yang diminati musisi di Pontianak.