Kepedulian Musisi Muda Indonesia Terhadap Kesehatan Mental

845
Beberapa musisi mulai mengangkat tema kesehatan mental di lagu-lagunya / ilustrasi: @abkadakab

Kurang lebih dalam satu tahun terakhir, ada beberapa musisi muda Indonesia yang mulai  menyuarakan kepedulian mereka mengenai kesehatan mental melalui karya musik. Hal ini menarik karena jarang atau bahkan nyaris tidak ada lagu Indonesia yang mengambil tema tentang kepedulian terhadap kesehatan mental seseorang.

Kebanyakan lagu Indonesia mengatasnamakan tema cinta dan tidak jarang diantaranya adalah lagu galau yang malah bersifat menjatuhkan mental seseorang. Lagu galau ini akan berfungsi di saat para remaja tengah stres menjalani kehidupan dan bingung tentang masa depan mereka. Dan lagu-lagu galau ini juga punya kemungkinan untuk terus membuat seseorang berada dalam kegelisahan.

Album Mantra-Mantra dari Kunto Aji seolah menjadi tolok ukur paling penting mengapa musik dapat menjadi terapi untuk menenangkan mental seseorang. Secara personal, lagu-lagu Kunto Aji sangat relate dengan kehidupan pribadi saya sehari-hari, dan mungkin juga sebagian besar orang. Dimulai dari dua lagu di album pertamanya: “Terlalu Lama Sendiri” dan “Amatiran”, sampai sebagian besar lagu di album “Mantra-Mantra” yang sangat dekat dengan kehidupan saya secara personal (dan sebagian besar orang karena banyak yang nge-DM Kunto Aji di Instagram untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas album tersebut).

Cover album Kunto Aji – Mantra Mantra.

Dalam album yang rilis September 2018 ini “Rehat” sudah pasti menjadi best-cut paling menonjol di album ini dan sangat lekat dengan masalah kesehatan mental setiap orang, terutama di malam hari pada saat mereka lelah bekerja. “Rehat” memotivasi seseorang untuk tidak perlu takut dengan apa yang akan terjadi di hari esok. Penggalan liriknya yang berbunyi “Tenangkan hati, yang kau takutkan takkan terjadi…” seolah menjadi pengantar tidur yang manis sebelum kita kembali lagi menghadapi penatnya kehidupan di hari esok.

Gitar tanpa kepala: Kunto Aji / foto: Pohan

Contoh lain di lagu “Jakarta Jakarta”, cerita soal harapan akan kesuksesan yang ingin diraih setiap orang. Tak bisa dipungkiri kalau Jakarta adalah puncak setiap orang meraih mimpi menjadi sukses. Karena banyaknya orang yang ingin meraih mimpi di Jakarta, tidak menutup kemungkinan kalau Jakarta bisa menjadi kota yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Hiruk pikuk kemacetan kota, udara gerah sampai sifat dan perilaku manusia yang terkesan garang mempengaruhi kesehatan mental seseorang dalam menentukan apakah ia akan bertahan atau pergi. Sementara lagu “Konon Katanya” bercerita tentang orang yang tidak bahagia karena pekerjaannya tidak sesuai apa yang menjadi passion-nya, dan pekerjaannya itu merupakan tuntutan orang tua supaya mereka bisa mendapat uang banyak. Banyak orang tersiksa mentalnya hanya karena dia bekerja dibawah tekanan terlebih lagi itu tidak sesuai passion. “Jangan ragu-ragu / Cantik, kau tahu / Hidup bukan tentang angka” tulis Kunto Aji dalam liriknya. Dengan sebagian besar lagu yang mengangkat tema kesehatan mental, tidak heran banyak media yang menobatkan Mantra-Mantra menjadi album terbaik tahun 2018.

Maret 2019 lalu, Barasuara mengeluarkan album kedua berjudul Pikiran dan Perjalanan. Dibalik aransemen musik super megah, permainan ambience yang dihasilkan dari raungan gitar dan synthesizer, album ini menyematkan pesan mengenai pentingnya kesadaran akan kesehatan mental seseorang. Dibalik banyaknya musisi kelas dunia yang bunuh diri dan banyaknya fans yang mengikuti, Pikiran dan Perjalanan memotivasi orang untuk tetap bertahan hidup – terus berjalan dari dalam gelap menuju cahaya yang lebih terang dan merayakannya. Sekaligus juga memotivasi seseorang untuk terus memancarkan harapan, mimpi, dan optimisme. Saya jadi menduga bahwa motif Barasuara menyajikan aransemen musik yang sangat energik di album ini adalah supaya membuat mental para pendengarnya lebih sehat dan stabil. Karena ambience dalam album ini seolah dapat membuat yang mendengarkan lupa akan permasalahannya.

Barasuara, 2019 / dok. Barasuara.

Ambil contoh lagu “Guna Manusia” yang memotivasi orang supaya terus bertahan hidup ditengah kondisi planet bumi yang semakin tergerus karena ulah manusia yang berakibat kepada pemanasan global. Atau track pertama “Seribu Racun” yang ditulis Iga Massardi tentang temannya yang mengalami depresi. Akibat terlalu banyak pikiran yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata, dia akan merasa gamang sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kesehatan mental seseorang terganggu.

Beberapa bulan terakhir, frontman grup band .Feast, Baskara Putra membuat proyek solo dibawah nama “Hindia”. Berbeda dengan apa yang dilakukan bersama .Feast di mana dia sangat lantang menyuarakan protes terhadap elit politik dengan musik yang menghentak, Hindia justru lebih fokus terhadap curhatan tentang kehidupannya yang tentu sangat relate dengan kehidupan kita. Sambil dibarengi musik elektronik yang lumayan mendayu. Lagu-lagu seperti “Secukupnya”, “Evaluasi”, “Jam Makan Siang”, serta “Membasuh” merupakan lagu yang sangat relate dengan kehidupan setiap orang yang juga mempengaruhi kesehatan mental. Dimulai dari cerita mengenai kehidupan seseorang yang broken home sampai kebingungan seseorang dalam merangkai mimpi untuk masa depannya, cerita-cerita tentang permasalahan ini diakhiri dengan kata-kata motivasi yang pada intinya berkata “tenang, semua akan baik-baik saja”.

Satu lagu dalam proyek solo Hindia yang membuat saya merasa tertarik adalah “Secukupnya”. Di video klipnya yang tayang di YouTube per tanggal 16 Mei lalu, Hindia mengajak orang untuk membagikan cerita mengenai keresahannya masing-masing untuk kemudian dijadikan footage. Banyak diantara mereka yang cukup berani membagikan cerita keresahannya yang kalau dibaca pasti siapapun akan terenyuh. Di mulai dari hidup dalam keluarga broken home, keadaan yang berubah drastis saat orang tua meninggal, sampai masalah pacaran beda agama yang bingung akan dibawa kemana arah hubungannya. Dengan potongan-potongan cerita yang menghiasi video klip berdurasi 4 menit 22 detik ini, saya bisa simpulkan bahwa kita tidak perlu larut dalam kesedihan dan bertindak seolah-olah “gue adalah orang paling menderita di muka bumi ini”. Nyatanya kita tidak sendirian dalam menghadapi masalah, dan kita semua ahli dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Hindia, menutup gelaran Here Comes The Sun / foto: pohan

Apa yang dilakukan oleh musisi sekelas Kunto Aji, Barasuara, ataupun Hindia adalah semacam gerakan kesadaran bahwa kesehatan mental bukanlah permasalahan sepele, melainkan sangat serius. Terlebih permasalahan kesehatan mental ini disuarakan dari para musisi yang memiliki penggemar high-rotation di industri musik. Maka akan ada kemungkinan bahwa orang-orang dengan sifat dan watak yang berbeda akan lebih peduli terhadap kesehatan mental seseorang yang berbeda satu sama lain. Musik dan kesehatan mental adalah dua kutub yang saling memiliki benang merah dan tak bisa terpisahkan.  Mental seseorang akan menjadi tenang setelah mendengarkan musik.

Pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober ini, saya berharap semoga akan semakin banyak musisi di Indonesia yang peduli dengan kesehatan mental seseorang serta para pendengarnya akan makin termotivasi dengan melodi dan lirik lagunya sehingga permasalahan kesehatan mental mereka akan berangsur-angsur pulih.

_____