Keseriusan Eksplorasi Noise: Terima Kasih Stevi Item

Aug 29, 2019

Berawal dari tweet akun Aris Setyawan (@arissetyawan), pada tanggal 28 Juli 2019, saya penasaran dengan apa yang sedang diperbincangkan kala itu. Aris yang juga seorang penulis musik (dan telah menerbitkan bukunya berjudul PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya, pada tahun 2017) membahas perihal pemahaman akan eksplorasi noise sambil ‘mencolek’ akun seorang gitaris metal, Stevi Item (@der_potzki). Rasa penasaran saya terjawab ketika Aris menyarankan untuk mengecek akun media sosial lain milik sang gitaris sebuah band death metal bernama Deadsquad tersebut. Seketika bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana perkembangan kancah noise selama ini dipahami, setidaknya di Indonesia.

Poster Diskusi Inisiasi oleh Jogja Noise Bombing / https://lifepatch.org

Tidak lama setelah fenomena media sosial tersebut, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Yogyakarta dan bertemu dengan Indra Menus, seorang pelaku eksplorasi noise sekaligus penggagas perhelatan Jogja Noise Bombing yang sudah bertahan selama kurang lebih 10 tahun. Pertanyaan pertama yang saya ajukan tentunya berkaitan dengan apa yang sudah diungkapkan di awal tulisan ini. Jawaban Menus adalah sebuah rencana diskusi yang kemudian diberi tajuk Dischord #1: Noise is Serious (shit) dan dilaksanakan di Rumah Lifepatch pada tanggal 25 Agustus 2019.

Alur diskusi mengarah pada bagaimana istilah dan perkembangan noise, musik eksperimental, hingga sound art diserap oleh publik luas

Diskusi ini melibatkan saya, Aris Setyawan, Tesla Manaf (Kuntari), Jonas Engel (Jerman), dan DJ Wei Wang (Taiwan). Di sore hari menjelang dimulainya diskusi Dischord #1, rekan-rekan Jogja Noise Bombing beserta Kuntari, Jonas Engel, dan DJ Wei Wang, terlebih dahulu melakukan performans noise di area Tugu Yogyakarta. Rangkaian performans tersebut dilaksanakan sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Performans Noise di Area Tugu Yogyakarta / dok. Andryan Ade Kurnia

Selepas melakukan performans noise, rombongan Jogja Noise Bombing berangkat menuju lokasi diskusi di Jalan Dr. Sutomo No. 696 yang merupakan kediaman kolektif Lifepatch. Diskusi Dischord #1: Noise is Serious (shit) dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan dibuka dengan pemaparan singkat terkait sejarah Jogja Noise Bombing oleh Taufiq Aribowo atau lebih dikenal dengan Ari Mindblasting (netlabel yang didirikannya).

Ari yang juga bertindak sebagai moderator kemudian melanjutkan sesi diskusi dengan memperkenalkan pembicara pertama, Tesla Manaf (saat ini menggunakan nama Kuntari untuk mewakili eksplorasi-eksplorasi bebunyian terbarunya). Paparan Tesla berkaitan dengan transformasinya di ranah musik, seorang gitaris yang beralih ke musik elektronik. Perubahan ini cukup mengagetkan banyak orang termasuk Ari yang menceritakan pengalamannya mengundang Tesla dalam perhelatan Jogja Noise Bombing beberapa waktu lalu.

Aris memandang adanya kesamaan pemahaman antara ‘kebisingan’ performans noise saat ini dengan apa yang terjadi dengan musik dangdut di masa lalu

Alur diskusi yang juga melibatkan saya dan Aris Setyawan mengarah pada bagaimana istilah dan perkembangan noise, musik eksperimental, hingga sound art diserap oleh publik luas. Paparan dari narasumber diskusi memantik cukup banyak pertanyaan salah satunya berhubungan dengan pandangan-pandangan yang melihat eksplorasi dan performans noise sebagai sampah belaka dan bukan sebagai sebuah kesenian. Eksplorasi bebunyian seperti performans noise memang rentan dipahami sebagai sesuatu yang bersifat seadanya dan asal-asalan. Tidak heran jika rangkaian stompbox dan barang elektronik lainnya sebagai sumber bebunyian ditambah dengan aksi tubuh dan ekspresi kemarahan dianggap sebagai sebuah olahan ekspresi yang berpotensi untuk tidak dimengerti atau bahkan dihindari.

Tetapi pada praktiknya, performans noise lebih dari sekadar aksi memukul barang elektronik dan membalut teriakan kemarahan dengan lapisan-lapisan delay yang menghasilkan feedback memekakkan telinga. Performans noise dapat dipahami sebagai sebuah ekspresi pencarian bunyi, frekuensi, dan atmosfer yang tidak bisa dilakukan dengan sound system seadanya. Performans noise merupakan sebuah pengalaman ragam bebunyian yang dibangun di atas sejarah perlawanan terhadap konvensi musik serta cita-cita avant-gardisme (dan mungkin juga fetish terhadap ragam sumber bebunyian).

Suasana Diskusi Dischord #1 / dok. Nopel Lifepatch

Istilah noise sendiri dalam ranah musik seringkali dipahami sebagai bebunyian yang tidak diinginkan, atau diakibatkan oleh malfungsi peralatan musik atau rekaman. Sebuah fenomena bunyi yang awalnya sangat dihindari. Namun, dalam perkembangannya, salah satunya dikemukakan oleh seorang pelukis dari kelompok Futuris Italia, Luigi Russolo (dalam manifestonya The Art of Noises, 1913), noise atau lebih luas lagi, kebisingan secara umum, justru memiliki potensi untuk mengembangkan eksplorasi musikal.

Jonas Engel dan DJ Wei Wang yang menjelaskan perkembangan kancah bebunyian di negaranya masing-masing, Jerman dan Taiwan

Russolo, bersama rekannya Ugo Piatti, mengembangkan sebuah mesin bernama Intonarumoriatau noise machine, sebagai upaya melawan stagnasi dalam penulisan komposisi musik Barat kala itu. Lalu Pierre Schaeffer dan Pierre Henry yang menggagas eksplorasi musique concrete di tahun 1948 ketika komposisi musik mulai melepaskan ketergantungannya pada aspek instrumentasi dengan memanfaatkan bebunyian lingkungan yang disebut sound object atau objet sonore. Begitu pun John Cage di tahun 1950-an melalui karyanya berjudul 4’33’’ yang tidak hanya mengangkat perihal kesunyian, tetapi juga bebunyian sekitar atau environmental sound. Musik tidak lagi hanya persoalan eksplorasi notasi, komposisi, dan instrumentasi.

Kembali pada pembahasan diskusi Dischord #1, Aris Setyawan memberi pemaparan terkait ragam jenis musik yang pada awalnya dianggap sebagai suatu kebisingan, salah satunya musik dangdut (khususnya dalam pandangan musisi-musisi rock Indonesia di tahun 1960-an). Aris memandang adanya kesamaan pemahaman antara ‘kebisingan’ performans noise saat ini dengan apa yang terjadi dengan musik dangdut di masa lalu. Pada akhirnya, bagi Aris, para pelaku dan juga perhelatan-perhelatan noise akan bisa dipahami dan diterima oleh masyarakat yang lebih luas. Terlebih apabila melihat konsistensi perhelatan Jogja Noise Bombing saat ini.

Sesi tanya jawab diskusi Dischord #1 / dok: Akbar Adi Wibowo

Diskusi INI kemudian mulai mempertanyakan wacana yang ingin diangkat oleh Jogja Noise Bombing setelah berlangsung selama kurang lebih 10 tahun

Setelah sesi tanya jawab, agenda diskusi dilanjutkan dengan pemaparan oleh Jonas Engel dan DJ Wei Wang yang menjelaskan perkembangan kancah bebunyian di negaranya masing-masing, Jerman dan Taiwan. Berbeda dengan perkembangan di Jerman (menurut Jonas) yang lahir dari kebosanan dan tentunya perkembangan teknologi audio, Wei Wang memaparkan bahwa munculnya gelombang pelaku noise dan eksplorasi bebunyian lainnya di Taiwan justru hadir dari adanya tekanan dan batasan-batasan yang sebagian besar dilakukan oleh pemerintah.

Paparan-paparan tersebut nampaknya cukup membantu arah diskusi yang kemudian mulai mempertanyakan wacana yang ingin diangkat oleh Jogja Noise Bombing setelah berlangsung selama kurang lebih 10 tahun. Alhasil, muncul banyak saran dan kritik terhadap pelaku sekaligus penyelenggaraan Jogja Noise Bombing yang semakin memperkaya khazanah diskusi malam itu.

Dischord #1: Noise is Serious (shit) benar-benar menghadirkan diskusi yang alot sekaligus mencerahkan banyak pihak. Tidak terpikirkan bagaimana fenomena media sosial (terkait kesalahpahaman mendefinisikan eksplorasi noise) justru menjadi pemicu diskusi dan bahkan memperkaya pemahaman ranah musik eksperimental, noise, dan sound art, khususnya di Indonesia. Terima kasih Stevi Item.

 

____

Penulis
Bob Edrian
Bob Edrian adalah seorang kurator/penulis, pengajar seni rupa dan musisi yang berdomisili di Bandung. Sejak tahun 2013, fokus kuratorialnya mencakup perkembangan sound art dan seni media, khususnya di Indonesia.

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …