832

Keseriusan Eksplorasi Noise: Terima Kasih Stevi Item

Berawal dari tweet akun Aris Setyawan (@arissetyawan), pada tanggal 28 Juli 2019, saya penasaran dengan apa yang sedang diperbincangkan kala itu. Aris yang juga seorang penulis musik (dan telah menerbitkan bukunya berjudul PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya, pada tahun 2017) membahas perihal pemahaman akan eksplorasi noise sambil ‘mencolek’ akun seorang gitaris metal, Stevi Item (@der_potzki). Rasa penasaran saya terjawab ketika Aris menyarankan untuk mengecek akun media sosial lain milik sang gitaris sebuah band death metal bernama Deadsquad tersebut. Seketika bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana perkembangan kancah noise selama ini dipahami, setidaknya di Indonesia.

Poster Diskusi Inisiasi oleh Jogja Noise Bombing / http://lifepatch.org

Tidak lama setelah fenomena media sosial tersebut, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Yogyakarta dan bertemu dengan Indra Menus, seorang pelaku eksplorasi noise sekaligus penggagas perhelatan Jogja Noise Bombing yang sudah bertahan selama kurang lebih 10 tahun. Pertanyaan pertama yang saya ajukan tentunya berkaitan dengan apa yang sudah diungkapkan di awal tulisan ini. Jawaban Menus adalah sebuah rencana diskusi yang kemudian diberi tajuk Dischord #1: Noise is Serious (shit) dan dilaksanakan di Rumah Lifepatch pada tanggal 25 Agustus 2019.

Alur diskusi mengarah pada bagaimana istilah dan perkembangan noise, musik eksperimental, hingga sound art diserap oleh publik luas

Diskusi ini melibatkan saya, Aris Setyawan, Tesla Manaf (Kuntari), Jonas Engel (Jerman), dan DJ Wei Wang (Taiwan). Di sore hari menjelang dimulainya diskusi Dischord #1, rekan-rekan Jogja Noise Bombing beserta Kuntari, Jonas Engel, dan DJ Wei Wang, terlebih dahulu melakukan performans noise di area Tugu Yogyakarta. Rangkaian performans tersebut dilaksanakan sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Baca juga:  Eksplorasi Bermusik: Sebuah Momok Bagi Musisi?
Performans Noise di Area Tugu Yogyakarta / dok. Andryan Ade Kurnia

Selepas melakukan performans noise, rombongan Jogja Noise Bombing berangkat menuju lokasi diskusi di Jalan Dr. Sutomo No. 696 yang merupakan kediaman kolektif Lifepatch. Diskusi Dischord #1: Noise is Serious (shit) dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan dibuka dengan pemaparan singkat terkait sejarah Jogja Noise Bombing oleh Taufiq Aribowo atau lebih dikenal dengan Ari Mindblasting (netlabel yang didirikannya).

Ari yang juga bertindak sebagai moderator kemudian melanjutkan sesi diskusi dengan memperkenalkan pembicara pertama, Tesla Manaf (saat ini menggunakan nama Kuntari untuk mewakili eksplorasi-eksplorasi bebunyian terbarunya). Paparan Tesla berkaitan dengan transformasinya di ranah musik, seorang gitaris yang beralih ke musik elektronik. Perubahan ini cukup mengagetkan banyak orang termasuk Ari yang menceritakan pengalamannya mengundang Tesla dalam perhelatan Jogja Noise Bombing beberapa waktu lalu.

Aris memandang adanya kesamaan pemahaman antara ‘kebisingan’ performans noise saat ini dengan apa yang terjadi dengan musik dangdut di masa lalu

Alur diskusi yang juga melibatkan saya dan Aris Setyawan mengarah pada bagaimana istilah dan perkembangan noise, musik eksperimental, hingga sound art diserap oleh publik luas. Paparan dari narasumber diskusi memantik cukup banyak pertanyaan salah satunya berhubungan dengan pandangan-pandangan yang melihat eksplorasi dan performans noise sebagai sampah belaka dan bukan sebagai sebuah kesenian. Eksplorasi bebunyian seperti performans noise memang rentan dipahami sebagai sesuatu yang bersifat seadanya dan asal-asalan. Tidak heran jika rangkaian stompbox dan barang elektronik lainnya sebagai sumber bebunyian ditambah dengan aksi tubuh dan ekspresi kemarahan dianggap sebagai sebuah olahan ekspresi yang berpotensi untuk tidak dimengerti atau bahkan dihindari.