kidunghara – Persembahan Vol. 1

May 18, 2024

Kidunghara adalah moniker dari Fiko Nainggolan yang baru merilis album perdananya, Persembahan Vol. 1. Dengan karakter suara tenornya yang lembut dan kalem ia sukses dan berhasil mengingatkan seolah Chrisye era 70/80an hidup lagi. Namun apakah kidunghara hadir hanya sebagai copycat dari Chrisye tanpa punya ciri sendiri? 

Mayoritas lagu di dalam album perdananya ini memberikan kesan demikian, terlebih dari track pertama pembuka album ini, “Apakah Aku Untukmu?”. Lagu up-beat, dengan instrumentasi musik 70an, ketukan drum dan bas disko, synthesizers yang kaya, serta yang utama, karakter vokal tenor dengan pemilihan notasi dan efek vokalnya yang mengingatkan pada Chrisye. Pun hingga lagu ketiga “Memori Biru”, nuansa musik disko ala Chrisye di era album 70annya seperti Sabda Alam, Percik Persona dan Puspa Indah kuat terasa. 

Namun hal itu berangsur pudar dalam separuh ke belakang album ini. Lagu kelima, “Gita Cinta & Harapan” yang intronya mengingatkan pada “Hard to Explain”-nya The Strokes justru jadi penetral kadar Chrisye yang sebelumnya terlalu kuat. Meski notasi dan tarikan vokalnya masih sangat menyerupai, namun justru jadi output yang menarik. Terlebih bagian chorus nya yang catchy, dan kuat hook-nya. Di lagu yang The Strokes seperti berkolaborasi dengan Chrisye ini justru potensi besar kidunghara terlihat menonjol.

Berturut-turut, “Menyeduh Suasana” yang musiknya bernuansa tweepop dan mengingatkan pada Mocca hadir mengayun dan menghanyutkan. Bagian interlude-nya pun indah. Lalu ada lagu disko pop elektonik favorit saya, “Bebal”, dengan musik dansa menggelitik dan synthbass yang bassline-nya agresif memancing badan untuk goyang.

Album ini ditutup oleh “Sunyi Sepi” yang sudah menyolek telinga saya saat pertama dirilis sebagai single. Karena terdengar berbeda tidak sekedar copycat Chrisye. Seluruh kekuatan kidunghara ada di lagu ini. Vokal tenang tenornya berpadu padan dengan musik muram yang anehnya menenangkan. Di lagu penutup ini, kidunghara menjadi dirinya sendiri, menjauh dari sekedar sosok pengikut, Chrisye.

Hal ini bukan yang buruk, mengingat untuk bisa menjelma terdengar dan menyerupai sang legenda, Chrisye adalah bukan hal yang mudah, dan dalam konteks ini kidunghara dengan produser Rama Cristna berhasil berkolaborasi dengan baik. 

Namun bicara soal orisinalitas seorang musisi dan bagaimana sosok kidunghara akan dikenal oleh pendengarnya ini hal lain. Meski sebetulnya dalam album Persembahan Vol. 1 hal itu bisa diakali dengan pemilihan lagu pembuka yang berbeda untuk menghindari kesan Chrisye yang terlalu kuat sejak awal. Pilihan saya jatuh pada lagu “Bebal” yang energetik. Cukup yakin karena kesan pertama adalah segalanya. 

Tapi untungnya di separuh album ini bisa hadir sisi kidunghara yang utuh, sehingga kita tidak terlalu dibiarkan menggantung dan bertanya-tanya, apakah kidunghara sekedar copycat Chrisye yang sukses atau lebih dari itu.  

Saya pribadi yakin kidunghara lebih dari itu. Karena bila melihat separuh lagu di album ini, serta beberapa single lamanya, ia bisa lepas sama sekali dari bayang-bayang Chrisye.

 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik dan subkultur anak muda. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, pernah juga bernyanyi/bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Afgan Merilis Karya yang Paling Personal Berjudul Sonder

Selang empat bulan dari perilisan single “Shallow Water”, Afgan akhirnya melepas album berbahasa Inggris kedua berjudul Sonder tanggal 21 Juni lalu sesuai yang direncanakan. Album mini tersebut menampilkan total 5 lagu dengan trek fokus …

Gagasan Perayaan Risky Summerbee & The Honeythief di Single Carnivalesque

Berjarak 2 bulan dari perilisan “Perennial”, Risky Summerbee & The Honeythief kembali lagi membawa yang terbaru dalam tajuk “Carnivalesque” hari Jumat (14/06).   Rizky Sasono yang menuliskan lirik lagu ini dengan mengangkat tema perayaan …